Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 1902 tentang Bab Apa yang Diriwayatkan Tentang Durhaka kepada Orang Tua

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa mencaci orang tua termasuk dosa besar (al-kabā’ir), baik dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa seseorang bisa terjerumus ke dalam dosa ini tanpa sadar, yaitu ketika ia mencaci ayah atau ibu orang lain, sehingga orang tersebut membalas dengan mencaci ayah atau ibunya sendiri. Ini peringatan keras untuk menjaga lisan dan kehormatan orang tua.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًاۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

(QS. Al-Isrā’ [17]: 23)

Terjemahan: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.”

Ayat ini menunjukkan larangan keras menyakiti orang tua, bahkan perkataan ringan seperti “uf” saja dilarang. Maka mencaci jelas lebih besar dosanya.

Hadits

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

مِنَ الْكَبَائِرِ أَنْ يَشْتُمَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ

قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَهَلْ يَشْتُمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟

قَالَ: نَعَمْ، يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَشْتُمُ أَبَاهُ، وَيَشْتُمُ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ

(HR. At-Tirmidzi, no. 1902, beliau berkata: hadits hasan sahih)

Kaitan dengan Ulama

  • Imam At-Tirmidzi (w. 279 H) dalam Sunan-nya menilai hadits ini hasan sahih, menegaskan bahwa perbuatan ini termasuk dosa besar.
  • Al-Imam Abu Bakr al-Khallāl (w. 311 H) dalam Al-Âmru bil Ma’rūf menyebutkan bahwa mencaci orang tua termasuk dosa yang menghalangi masuk surga.
  • Ibnu Hajar al-‘Asqalānī (w. 852 H) dalam Fatḥ al-Bārī (10/404) menjelaskan bahwa dosa ini termasuk kabīrah karena menyebabkan kedurhakaan dan memutus silaturahmi.
  • Imam An-Nawawī (w. 676 H) dalam Syarḥ Muslim menekankan bahwa kehormatan orang tua harus dijaga, dan membalas cacian kepada orang tua sendiri adalah bentuk durhaka yang sangat tercela.

Penjelasan Rinci

Hadits diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari jalur yang shahih. Makna globalnya: Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa seorang laki-laki bisa dicatat berdosa besar karena ia menjadi sebab orang tuanya dicaci. Yaitu ketika ia mencaci orang tua orang lain, maka orang tersebut akan membalas dengan mencaci orang tuanya. Sekalipun ia tidak langsung mencaci orang tuanya, tetapi perbuatannya itulah yang menjadi pemicu. Orang yang membalas juga turut berdosa, namun orang yang memulai tetap menanggung dosa besar karena telah menjerumuskan dirinya dan orang lain ke dalam dosa.

Ulama menjelaskan bahwa kehormatan orang tua sangat agung. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dalam Majmū’ al-Fatāwā (10/616) menegaskan bahwa perbuatan mencaci orang tua termasuk kabīrah yang paling berat, karena ia melanggar hak Allah (dengan durhaka) dan hak orang tua (dengan menghina).

Ibnu Rajab al-Ḥanbalī (w. 795 H) dalam Jāmi’ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam mengatakan bahwa dosa ini tidak hanya dilakukan dengan lisan, tetapi juga dengan perbuatan yang menghinakan. Bahkan sekadar menyakiti hati orang tua dengan ucapan keras termasuk dosa besar jika dilakukan secara sengaja.

Para ulama dari kalangan Salaf seperti Al-Ḥasan al-Bashrī (w. 110 H) berkata, “Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban yang lebih utama daripada jihad sunnah, karena jihad bisa digantikan orang lain, tetapi berbakti kepada orang tua tidak bisa diwakilkan.” (Riwayat Abdurrazzaq dalam Al-Muṣannaf).

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama seperti Imam Abū Ḥanīfah menyatakan bahwa dosa besar mengharuskan taubat dan tidak cukup dengan istigfar biasa, tetapi harus meminta maaf kepada orang tua. Sedangkan Imam Aḥmad menekankan bahwa durhaka kepada orang tua dapat menyebabkan seseorang terhalang dari surga berdasarkan hadits “Orang yang durhaka kepada orang tuanya tidak akan masuk surga” (HR. Al-Ḥākim, dishahihkan oleh Adz-Dzahabi). Pendapat yang kuat adalah bahwa dosa ini termasuk kabīrah yang memerlukan taubat nasuha dan perbaikan hubungan dengan orang tua.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat bernama Jābir bin ‘Abdillāh radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya ingin berjihad (di jalan Allah).’ Beliau bertanya, ‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Ya.’ Maka beliau bersabda, ‘Maka kepada keduanyalah engkau berjihad (yaitu berbuat baik dan melayani mereka).’” (HR. Al-Bukhārī, no. 3004; Muslim, no. 2549).

Kisah ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua lebih utama daripada jihad fardhu kifayah, apalagi jika orang tua sangat membutuhkan. Sebaliknya, jika seseorang sampai mencaci orang tua, betapa besar kerugiannya. Fudayl bin ‘Iyāḍ (w. 187 H) – salah seorang ulama besar – pernah berkata, “Barangsiapa yang durhaka kepada orang tuanya, maka amalnya tidak akan diterima sampai ia memperbaiki hubungan dengan mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Bayhaqī dalam Syua’b al-Īmān).

Kisah ini mengingatkan kita betapa mulianya kedudukan orang tua di sisi Allah, dan betapa hinanya perbuatan mencaci mereka.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga lisan – jangan sekali-kali mencaci, menghina, atau merendahkan orang tua, baik langsung maupun dengan menyakiti hati mereka.
  2. Hindari mencaci orang lain – karena bisa menjadi pintu dosa bagi diri sendiri dan orang lain.
  3. Segera bertaubat jika pernah melakukan durhaka, dengan meminta maaf kepada orang tua dan memperbaiki sikap.
  4. Didik anak dan keluarga untuk selalu menghormati orang tua dan tidak berkata kasar.
  5. Perbanyak doa – mintalah kepada Allah agar diberi kekuatan untuk berbakti kepada orang tua dan dijauhkan dari perbuatan durhaka.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.