Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 1899 tentang Keridhaan Allah tergantung keridhaan orang tua

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa keridhaan Allah SWT sangat terkait dengan keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah juga terkait dengan kemurkaan orang tua. Ini menunjukkan betapa besarnya kedudukan orang tua dalam Islam, sehingga berbakti kepada mereka menjadi jalan meraih ridha Allah, dan menyakiti mereka dapat mendatangkan murka-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh 'Amru bin Ali, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al-Harits, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Ya'la bin 'Atha', dari ayahnya, dari Abdullah bin 'Amr, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

"رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ"

"Keridhaan Tuhan (Allah) terletak pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Tuhan (Allah) terletak pada kemurkaan orang tua." (HR. At-Tirmidzi, no. 1899, beliau mengatakan hadits ini hasan)

Penjelasan Ulama:

Imam At-Tirmidzi dalam kitabnya Al-'Ilal menjelaskan bahwa hadits ini diriwayatkan secara marfu' (sampai kepada Nabi) oleh Khalid bin Al-Harits dari Syu'bah, namun para perawi lain meriwayatkannya secara mauquf (hanya sampai kepada sahabat). Meskipun demikian, Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan, dan maknanya didukung oleh banyak dalil lain dari Al-Qur'an dan hadits.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah (no. 515) men-shahih-kan hadits ini, dan beliau menjelaskan bahwa hadits ini memiliki banyak jalur yang saling menguatkan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini merupakan salah satu landasan penting dalam memahami kedudukan orang tua dalam Islam. Makna "رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ" (keridhaan Tuhan ada pada keridhaan orang tua) bukan berarti Allah SWT membutuhkan keridhaan orang tua, tetapi ini menunjukkan bahwa keridhaan Allah SWT sangat terkait dengan sikap seorang anak terhadap orang tuanya.

Pandangan Ulama:

  1. Imam Al-Munawi dalam Faidhul Qadir menjelaskan bahwa maksud hadits ini adalah: "Barangsiapa yang membuat orang tuanya ridha, maka ia telah membuat Allah SWT ridha. Dan barangsiapa yang membuat orang tuanya marah, maka ia telah membuat Allah SWT marah." Ini adalah bentuk penghormatan yang sangat tinggi kepada orang tua.
  2. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perintah berbakti kepada orang tua dalam Al-Qur'an selalu digandengkan dengan perintah bertauhid kepada Allah SWT. Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah ibadah yang sangat agung.
  3. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Bukhari) menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang keutamaan orang tua menunjukkan bahwa durhaka kepada mereka termasuk dosa besar yang paling besar, dan berbakti kepada mereka adalah amalan yang paling utama setelah iman kepada Allah SWT.

Penerapan dalam Kehidupan:

  • Seorang anak harus berusaha semaksimal mungkin untuk membuat orang tuanya ridha, selama tidak bertentangan dengan syariat.
  • Jika orang tua marah karena suatu hal yang bukan maksiat, maka anak harus berusaha meredam kemarahannya dengan sikap lembut dan penuh hormat.
  • Jika orang tua memerintahkan sesuatu yang maksiat, maka anak tidak boleh menaatinya, namun tetap harus bersikap baik dan lembut dalam menolak.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, bahwa beliau adalah salah seorang sahabat yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Suatu ketika, beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Keridhaan Allah tergantung pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah tergantung pada kemurkaan orang tua." (HR. At-Tirmidzi).

Maka Abdullah bin 'Amr pun semakin bersemangat dalam berbakti kepada kedua orang tuanya, terutama kepada ayahnya, 'Amr bin Al-'Ash. Beliau selalu berusaha membuat ayahnya ridha, meskipun terkadang harus mengorbankan kepentingan pribadinya. Ini menunjukkan bagaimana para sahabat sangat serius dalam mengamalkan hadits-hadits Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadikan keridhaan orang tua sebagai prioritas dalam setiap tindakan, karena itu adalah jalan menuju keridhaan Allah SWT.
  2. Hindari segala bentuk kemurkaan orang tua, karena itu dapat mendatangkan murka Allah SWT.
  3. Bersikaplah lembut dan penuh hormat kepada orang tua, meskipun mereka dalam keadaan marah.
  4. Jika orang tua memerintahkan maksiat, tolaklah dengan cara yang baik dan tetap jaga hubungan baik dengan mereka.
  5. Perbanyak doa untuk orang tua, terutama jika mereka telah meninggal dunia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.