Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 182 tentang Shalat wusta adalah shalat Ashar menurut hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "Shalat Wusta" (shalat pertengahan) dalam Al-Qur'an adalah Shalat Ashar. Ini adalah pendapat mayoritas ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in, dan merupakan pendapat yang paling kuat berdasarkan dalil-dalil yang ada. Meskipun ada perbedaan pendapat dari sebagian sahabat, dalil-dalil yang menguatkan pendapat Ashar lebih banyak dan lebih jelas.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Dalil Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

"Peliharalah semua shalat (fardhu) dan shalat Wusta, dan berdirilah karena Allah (dalam shalat) dengan khusyuk."

(QS. Al-Baqarah [2]: 238)

2. Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:

Hadits yang anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

صَلَاةُ الْوُسْطَى صَلَاةُ الْعَصْرِ

"Shalat Wusta adalah shalat Ashar."

(HR. At-Tirmidzi no. 182, beliau menilai hadits ini hasan shahih)

3. Kaitan dengan Ulama:

  • Imam At-Tirmidzi (w. 279 H) dalam Sunan-nya menyebutkan bahwa hadits ini hasan shahih dan merupakan pendapat mayoritas ulama dari kalangan sahabat Nabi ﷺ dan generasi setelahnya.
  • Imam Al-Bukhari (w. 256 H) melalui gurunya, Ali bin Al-Madini (w. 234 H), menegaskan bahwa periwayatan Al-Hasan Al-Bashri (w. 110 H) dari Samurah bin Jundub adalah shahih dan beliau benar-benar mendengar langsung darinya. Ini penting karena ada sebagian ulama yang meragukan pendengaran Al-Hasan dari Samurah.

Penjelasan Rinci

Para ulama berbeda pendapat mengenai makna "Shalat Wusta" ini. Namun, pendapat yang paling kuat dan dipilih oleh mayoritas ulama adalah Shalat Ashar. Mari kita lihat bagaimana para ulama dalam daftar rujukan kita menjelaskan hal ini:

1. Pendapat Mayoritas: Shalat Ashar

Ini adalah pendapat yang dipilih oleh mayoritas sahabat dan tabi'in. Di antara ulama yang berpendapat demikian:

  • Samurah bin Jundub radhiyallahu 'anhu meriwayatkan hadits di atas secara marfu' (sampai kepada Nabi ﷺ).
  • Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas'ud, Abu Hurairah, dan Abu Hasyim bin 'Utbah radhiyallahu 'anhum juga meriwayatkan hadits serupa.
  • Dari kalangan tabi'in, Al-Hasan Al-Bashri dan Qatadah (w. 117 H) meriwayatkan dan menguatkan pendapat ini.
  • Imam At-Tirmidzi menegaskan bahwa ini adalah pendapat mayoritas ulama dari kalangan sahabat dan generasi setelahnya.

2. Pendapat Lain:

  • Zaid bin Tsabit dan Aisyah radhiyallahu 'anhuma berpendapat bahwa Shalat Wusta adalah Shalat Dhuhur.
  • Ibnu Abbas dan Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berpendapat bahwa Shalat Wusta adalah Shalat Subuh.

Mengapa Pendapat Ashar Lebih Kuat?

  1. Hadits Marfu' yang Shahih: Hadits dari Samurah bin Jundub ini adalah hadits yang sampai kepada Nabi ﷺ secara langsung, bukan sekedar pendapat sahabat. Imam At-Tirmidzi menilainya hasan shahih, dan Imam Al-Bukhari melalui Ali bin Al-Madini menegaskan keshahihan sanadnya.
  2. Banyaknya Perawi: Hadits tentang Shalat Wusta adalah Ashar diriwayatkan oleh banyak sahabat, seperti Ali, Ibnu Mas'ud, Abu Hurairah, dan lainnya. Ini menunjukkan bahwa pemahaman ini tersebar luas di kalangan sahabat.
  3. Penjelasan Ibnu Katsir: Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir (w. 774 H) menjelaskan bahwa pendapat yang paling shahih mengenai Shalat Wusta adalah Shalat Ashar, berdasarkan hadits-hadits shahih yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ.
  4. Penjelasan As-Sa'di: Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (w. 1376 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Shalat Wusta adalah Shalat Ashar, dan ini adalah pendapat yang paling tepat karena disebutkan secara eksplisit dalam hadits-hadits shahih.

Hikmah Penamaan "Wusta" (Pertengahan):

Shalat Ashar disebut "Wusta" karena posisinya berada di tengah-tengah antara shalat malam (Isya, Maghrib) dan shalat siang (Dhuhur, Subuh). Atau bisa juga karena ia berada di tengah-tengah antara dua aktivitas manusia: aktivitas dunia di pagi hari dan aktivitas istirahat di malam hari. Wallahu a'lam.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa pada Perang Khandaq (Ahzab), kaum muslimin disibukkan dengan peperangan sehingga mereka tidak sempat melaksanakan shalat Ashar hingga matahari terbenam. Maka Nabi ﷺ bersabda:

"Semoga Allah memenuhi kubur dan hati mereka dengan api, karena mereka telah melalaikan kita dari shalat Wusta (shalat Ashar) hingga matahari terbenam."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan shalat Ashar di sisi Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Sampai-sampai Nabi ﷺ mendoakan keburukan bagi orang-orang yang menyebabkan kaum muslimin terlewat dari shalat Ashar. Ini juga menegaskan bahwa yang dimaksud dengan Shalat Wusta adalah Shalat Ashar, karena dalam peristiwa tersebut Nabi ﷺ langsung mengaitkannya dengan shalat Ashar.

Hikmah: Kita harus sangat menjaga shalat Ashar, karena ia adalah shalat yang istimewa. Jangan sampai kita lalai atau menundanya hingga keluar waktunya karena kesibukan dunia.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat Wusta dalam QS. Al-Baqarah [2]: 238 adalah Shalat Ashar menurut pendapat yang paling kuat.
  2. Jagalah shalat Ashar dengan sungguh-sungguh, karena ia memiliki keutamaan yang besar dan menjadi saksi bagi kita di akhirat nanti.
  3. Jangan menunda shalat Ashar hingga waktu hampir habis atau bahkan terlewat, karena ini termasuk perbuatan yang sangat tercela.
  4. Perbanyak istighfar setelah shalat Ashar, karena di waktu tersebut malaikat naik membawa amalan manusia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?