Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan tingkatan manusia dari sisi ketaatan kepada Allah. Sebaik-baik manusia adalah mujahid yang berjuang di jalan Allah, lalu orang yang menyendiri dengan ternaknya sambil menunaikan hak Allah. Sedangkan seburuk-buruk manusia adalah orang yang bila diminta dengan nama Allah ia enggan memberi. Hadits ini mengajarkan keutamaan jihad, keutamaan hidup mandiri yang menjaga ketaatan, dan tercelanya sifat kikir serta mengabaikan permintaan dengan nama Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Fadhail Jihad, Bab "Apa yang Dikatakan tentang Siapa yang Paling Baik di Antara Manusia", dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Imam At-Tirmidzi menyatakan: "Hadits ini hasan gharib dari jalur ini, dan diriwayatkan pula dari jalur lain dari Ibnu Abbas dari Nabi ﷺ."
Teks hadits:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ بُكَيْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الأَشَجِّ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ "أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِ النَّاسِ رَجُلٌ مُمْسِكٌ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِالَّذِي يَتْلُوهُ رَجُلٌ مُعْتَزِلٌ فِي غُنَيْمَةٍ لَهُ يُؤَدِّي حَقَّ اللَّهِ فِيهَا أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِشَرِّ النَّاسِ رَجُلٌ يُسْأَلُ بِاللَّهِ وَلاَ يُعْطِي بِهِ"
Terjemahan: "Tidakkah aku memberitahukan kalian tentang sebaik-baik manusia? Seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Tidakkah aku memberitahukan kalian tentang orang yang setelahnya? Seorang laki-laki yang menyendiri dari manusia dengan sekelompok domba kecilnya, sehingga ia memenuhi hak Allah di dalamnya. Tidakkah aku memberitahukan kalian tentang seburuk-buruk manusia? Seorang laki-laki yang diminta dengan (nama) Allah, tetapi tidak memberikannya."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan jihad dan hak Allah:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
QS. Ali 'Imran [3]: 169
"Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki."
Ayat lain tentang menunaikan hak Allah pada harta:
وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ . لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
QS. Al-Ma'arij [70]: 24-25
"Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)."
Penjelasan Rinci
Hadits ini dibawakan oleh Imam At-Tirmidzi dalam bab keutamaan jihad, dan beliau menilai hadits ini hasan gharib dari jalur tersebut, namun memiliki jalur lain dari Ibnu Abbas. Para ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan tingkatan manusia dalam ketaatan, bukan berarti mencela orang yang memilih hidup menyendiri secara mutlak, melainkan menunjukkan keutamaan masing-masing sesuai keadaan.
Pertama: Sebaik-baik manusia adalah mujahid yang memegang kendali kudanya di jalan Allah.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa jihad di jalan Allah adalah puncak amal karena mengorbankan jiwa dan harta. Ibn Taymiyyah menyebutkan bahwa jihad yang disyariatkan adalah yang dilakukan untuk menegakkan agama Allah, bukan untuk kepentingan pribadi atau kebanggaan. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa mujahid adalah orang yang berperang melawan hawa nafsunya terlebih dahulu, lalu berperang di medan perang. Jadi, "memegang kendali kuda" adalah simbol kesiapan berkorban di jalan Allah.
Kedua: Orang yang setelahnya adalah yang menyendiri dengan ternaknya sambil menunaikan hak Allah.
Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa menyendiri di sini bukanlah mengasingkan diri dari masyarakat secara total, tetapi menjauh dari fitnah dan konflik yang dapat merusak agama, sambil tetap menunaikan kewajiban seperti zakat, sedekah, dan hak-hak lain pada hartanya. Ibnu Hajar al-Asqalani menambahkan bahwa ini adalah keadaan orang yang tidak mampu berjihad atau memilih 'uzlah (menyendiri) untuk menjaga agama dan hartanya. As-Sa'di menjelaskan bahwa "menunaikan hak Allah di dalamnya" mencakup zakat, sedekah, dan memanfaatkan ternak untuk kebaikan.
Ketiga: Seburuk-buruk manusia adalah yang diminta dengan nama Allah tetapi tidak memberi.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa ini adalah sifat tercela karena menolak permintaan yang disertai nama Allah menunjukkan kekikiran dan meremehkan hak Allah. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa memberi karena Allah adalah kewajiban jika mampu, dan menolaknya adalah dosa. Ibn Qayyim menegaskan bahwa orang yang tidak memberi padahal diminta dengan nama Allah berarti ia tidak mengagungkan nama Allah.
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: Sebagian memahami "menyendiri" sebagai 'uzlah total yang lebih utama setelah jihad, namun jumhur seperti Ibnu Hajar dan an-Nawawi menegaskan bahwa keutamaan tertinggi tetap pada mujahid, dan 'uzlah adalah pilihan bagi yang tidak mampu berjihad atau khawatir fitnah. Yang paling kuat adalah pendapat yang menggabungkan: setiap orang memiliki keadaan terbaik sesuai kondisinya, namun jihad tetap yang paling utama bila memungkinkan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang sahabat pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang amal yang paling utama. Nabi ﷺ menyebutkan jihad di jalan Allah. Namun, ketika ada sahabat yang tidak mampu berjihad, Nabi ﷺ mengarahkan mereka untuk tetap menunaikan hak Allah pada harta mereka, seperti yang disebutkan dalam hadits ini. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, perawi hadits ini, dikenal sebagai ahli tafsir yang mendalam ilmunya, dan beliau meriwayatkan banyak hadits tentang keutamaan amal. Kisah ini mengajarkan bahwa setiap muslim memiliki jalan ketaatan sesuai kemampuannya, dan yang terpenting adalah tidak menolak ketika diminta dengan nama Allah.
Kesimpulan Praktis
- Utamakan jihad di jalan Allah sesuai kemampuan, minimal dengan melawan hawa nafsu dan menegakkan agama.
- Jika memilih hidup tenang dengan harta, tunaikanlah hak Allah seperti zakat dan sedekah.
- Jangan menjadi orang yang menolak permintaan yang disertai nama Allah, karena itu termasuk sifat tercela.
- Setiap muslim hendaknya menilai keadaan dirinya dan memilih jalan ketaatan yang paling sesuai, tanpa mencela pilihan orang lain yang masih dalam koridor syariat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.