Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 1639 tentang Keutamaan berjaga di jalan Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan keutamaan besar bagi dua jenis mata: mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang berjaga di malam hari di jalan Allah (ribath). Keduanya dijanjikan tidak akan disentuh api neraka. Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dinilai hasan, serta dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah sebagai dorongan untuk menghidupkan rasa takut kepada Allah dan kesiapan menjaga agama.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama (At-Tirmidzi no. 1639):

عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

"Ada dua mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang menghabiskan malam berjaga di jalan Allah."

Perawi: Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma. At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Syu'aib bin Ruzaiq."

Ayat yang berkaitan:

QS. Al-Mu'minun [23]: 57–59

إِنَّ الَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ ۝ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ ۝ وَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang karena rasa takut kepada Tuhannya mereka merasa cemas, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Tuhannya, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhannya."

QS. At-Taubah [9]: 111 (potongan yang relevan):

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka, dengan (jaminan) bahwa bagi mereka surga."

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan keutamaan menangis karena takut kepada Allah sebagai tanda kelembutan hati dan keimanan yang hidup.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas keutamaan ribath (berjaga di jalan Allah) sebagai amal yang terus mengalir pahalanya.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menekankan bahwa rasa takut (khasyyah) adalah pangkal hikmah dan penjaga amal.
  • Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa khasyyah kepada Allah melahirkan amal saleh dan menjauhkan dari maksiat.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Rasulullah ﷺ menyebutkan dua mata yang dijanjikan tidak akan tersentuh api neraka. Ini adalah janji yang sangat agung, karena neraka adalah tempat yang paling menakutkan. Dua mata itu adalah:

Pertama: Mata yang menangis karena takut kepada Allah (خَشْيَةِ اللَّهِ).

Ini bukan sekadar menangis biasa, tetapi menangis yang lahir dari rasa takut, hormat, dan pengagungan kepada Allah. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa tangisan ini muncul dari hati yang mengenal keagungan Allah dan menyadari kelemahan diri. Ibnu Rajab al-Hanbali menyebutkan bahwa khasyyah adalah rasa takut yang disertai pengetahuan tentang Allah, sebagaimana firman Allah dalam QS. Fathir [35]: 28:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu)."

Jadi, semakin seseorang mengenal Allah, semakin dalam rasa takutnya, dan semakin mudah matanya menangis karena Allah.

Kedua: Mata yang berjaga di malam hari di jalan Allah (بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ).

Ini merujuk pada ribath, yaitu berjaga di perbatasan atau posisi yang menjaga kaum muslimin dari serangan musuh, dilakukan semata-mata untuk menegakkan agama Allah. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ribath memiliki keutamaan besar karena mengandung pengorbanan waktu tidur, tenaga, dan kesiapan jiwa untuk membela agama. Dalam hadits lain yang shahih, Rasulullah ﷺ bersabda:

رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ

"Berjaga satu hari satu malam di jalan Allah lebih baik daripada puasa sebulan dan shalat malamnya." (HR. Muslim)

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Para ulama dalam daftar yang disebutkan tidak berbeda dalam memahami keutamaan dua mata ini. Yang perlu dipahami adalah bahwa "tidak tersentuh api neraka" di sini dipahami oleh Ibnu Hajar dan an-Nawawi sebagai janji khusus bagi orang yang memenuhi syarat amal tersebut dengan ikhlas dan sesuai tuntunan. Sebagian ulama menjelaskan bahwa ini adalah keutamaan yang berlaku bagi orang yang matanya menangis karena takut kepada Allah secara terus-menerus, bukan sekali saja, dan bagi yang berjaga di jalan Allah dengan niat yang benar.

Catatan tentang derajat hadits:

At-Tirmidzi sendiri menyatakan hadits ini hasan. Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi menilai hadits ini shahih. Hadits ini juga memiliki penguat dari riwayat Utsman bin Affan dan Abu Raihanah sebagaimana disebutkan At-Tirmidzi, sehingga semakin menguatkan kedudukannya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak, seorang ulama besar dalam daftar, pernah ditanya tentang keadaan hatinya yang selalu basah karena tangisan takut kepada Allah. Beliau adalah seorang yang sangat zuhud dan wara', dan dikenal sering menangis ketika membaca Al-Qur'an. Beliau juga dikenal sebagai mujahid yang berjaga di perbatasan. Dalam dirinya terkumpul dua sifat yang disebutkan dalam hadits ini: mata yang menangis karena takut kepada Allah dan kesiapan berjaga di jalan Allah.

Hikmahnya: seorang mukmin hendaknya menghiasi dirinya dengan rasa takut kepada Allah yang melahirkan tangisan taubat, sekaligus kesiapan berkorban untuk agama Allah sesuai kemampuan masing-masing. Tidak semua orang bisa berjaga di medan perang, tetapi setiap orang bisa menjaga hatinya dan menangis karena takut kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Hidupkan rasa takut kepada Allah dengan mengenal-Nya melalui ilmu, membaca Al-Qur'an, dan merenungkan keagungan-Nya.
  2. Jangan malu menangis karena Allah — ini adalah tanda hati yang hidup dan iman yang kuat.
  3. Dukung dan doakan orang yang berjaga di jalan Allah — baik yang berjaga di perbatasan maupun yang menjaga agama dengan ilmu dan dakwah.
  4. Ikhlas dalam beramal — keutamaan ini hanya berlaku bagi amal yang dilakukan dengan niat benar dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ.
  5. Jauhi ghuluw (berlebihan) — jangan menganggap diri pasti masuk surga, tetapi berharaplah kepada rahmat Allah sambil terus beramal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?