Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan besar bagi siapa saja yang berpuasa satu hari di jalan Allah (dalam rangka jihad atau ketaatan). Allah akan menjauhkannya dari api neraka sejauh perjalanan tujuh puluh atau empat puluh tahun. Ini menunjukkan betapa besar pahala puasa di jalan Allah dan menjadi motivasi bagi kaum muslimin untuk memperbanyak amalan sunnah ini.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا
"Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu mendapat (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya." (QS. Al-Muzammil [73]: 20)
Hadits:
Hadits yang dimaksud diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Keutamaan Jihad, Bab Keutamaan Puasa di Jalan Allah, no. 1622. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ زَحْزَحَهُ اللَّهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا
"Barangsiapa berpuasa satu hari di jalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkannya dari api neraka sejauh tujuh puluh musim gugur (tahun)."
Kaitan dengan Ulama:
Imam At-Tirmidzi sendiri menilai hadits ini gharib (asing) dari jalur ini. Namun, makna hadits ini dikuatkan oleh hadits-hadits lain yang semakna. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa "di jalan Allah" mencakup jihad dan juga amalan ketaatan lainnya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhish Shalihin menjelaskan bahwa keutamaan ini menunjukkan besarnya pahala puasa, terutama jika dikaitkan dengan jihad fi sabilillah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung kabar gembira yang luar biasa bagi kaum muslimin. Kata "fi sabilillah" (di jalan Allah) menurut para ulama dari kalangan salaf, seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Asy-Syafi'i, memiliki makna yang luas. Makna utamanya adalah dalam rangka jihad fi sabilillah, yaitu berperang melawan musuh-musuh Allah untuk meninggikan kalimat-Nya. Namun, makna ini juga mencakup semua bentuk ketaatan dan ibadah yang dilakukan karena Allah.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa setiap amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan sesuai tuntunan Rasul-Nya ﷺ, maka ia termasuk dalam "sabilillah". Puasa di sini adalah puasa sunnah yang dilakukan oleh seorang mujahid atau oleh siapa pun yang berniat mendekatkan diri kepada Allah.
Kata "zahzahahu" (menjauhkan) menunjukkan bahwa Allah akan menghalangi dan menjauhkan orang yang berpuasa itu dari api neraka. Jarak "sab'ina kharifa" (tujuh puluh musim gugur) atau dalam riwayat lain "empat puluh" menunjukkan jarak yang sangat jauh. Ini adalah bentuk karunia Allah yang sangat besar, di mana satu hari puasa bisa menyelamatkan seseorang dari azab yang kekal.
Imam Ibn Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam Latha'if Al-Ma'arif menjelaskan bahwa keutamaan ini khusus bagi mereka yang berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah. Puasa yang dilakukan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga anggota badan dari perbuatan dosa.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
"اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ، وَاقْرَؤُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ غَيَايَتَانِ أَوْ فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا..."
"Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya. Bacalah dua surah yang bercahaya: Al-Baqarah dan Ali 'Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seperti dua awan atau dua naungan atau dua kumpulan burung yang membentangkan sayapnya, membela pembacanya..." (HR. Muslim)
Kisah ini menunjukkan bahwa amalan-amalan ketaatan, termasuk puasa, akan menjadi pembela dan penyelamat bagi pelakunya di akhirat. Sebagaimana Al-Qur'an menjadi syafaat, demikian pula puasa akan menjadi perisai dari api neraka.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak puasa sunnah, terutama puasa di hari-hari yang dianjurkan seperti Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh, dan puasa Syawal.
- Niatkan puasa karena Allah semata, bukan karena riya atau ingin dipuji.
- Jaga puasa dari hal-hal yang membatalkan pahala, seperti berkata dusta, ghibah, dan perbuatan dosa lainnya.
- Yakinlah dengan janji Allah bahwa setiap amal kebaikan, sekecil apa pun, akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda.
- Motivasi diri dan keluarga untuk gemar berpuasa sunnah, karena pahalanya sangat besar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.