Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 1620 tentang Keutamaan mujahid di jalan Allah sebagai tanggungan-Nya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan besar orang yang berjihad di jalan Allah: Allah sendiri yang menjamin keadaannya. Jika ia wafat dalam jihad, surga menjadi balasannya; jika ia kembali hidup, ia kembali dengan pahala dan harta rampasan. Ini menunjukkan kedudukan jihad yang sangat mulia dan janji Allah yang pasti benar.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi (no. 1620) dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dan beliau menyatakan: "hasan shahih gharib dari jalur ini." Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dengan makna serupa, sebagaimana disebutkan para ulama.

Adapun ayat yang berkaitan dengan keutamaan berjihad dan janji Allah bagi orang yang berjuang di jalan-Nya:

QS. At-Taubah [9]: 111

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan surga bagi mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar."

QS. Ali 'Imran [3]: 169-170 juga menegaskan bahwa orang yang gugur di jalan Allah itu hidup di sisi Rabb-nya dan diberi rezeki.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama: Jaminan Allah bagi mujahid.

Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Al-Mujahid fi sabiliLlah, huwa 'alayya dhamin" — orang yang berjihad di jalan Allah adalah tanggungan-Ku. Ini adalah keutamaan yang sangat agung, karena yang menjamin bukan makhluk, tetapi Allah Rabbul 'Alamin. Imam Ibnul Qayyim dalam kitab-kitabnya sering menegaskan bahwa jaminan Allah adalah jaminan yang paling pasti dan tidak akan pernah dilanggar.

Kedua: Dua kemungkinan akhir dan keduanya baik.

  • Jika Allah mewafatkannya (qabadhahu), maka Allah akan mewariskannya surga.
  • Jika Allah mengembalikannya (rajja'ahu) ke rumahnya dengan selamat, maka ia kembali dengan pahala dan ghanimah (harta rampasan perang).

Ini menunjukkan bahwa mujahid tidak pernah rugi. Baik hidup maupun mati, keduanya membawa kebaikan. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "dhamin" di sini adalah jaminan pertolongan, penjagaan, dan pahala yang pasti dari Allah.

Ketiga: Kedudukan jihad.

Para ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, dan Ibnul Mubarak sangat memuliakan jihad dan para mujahid. Ibnul Mubarak bahkan berkata bahwa jihad adalah amalan yang paling utama setelah rukun-rukun Islam yang wajib. Namun perlu dipahami bahwa jihad memiliki aturan dan syarat yang ketat dalam fiqih, dan tidak setiap orang boleh memproklamirkan jihad sendiri tanpa ilmu dan imam.

Keempat: Catatan At-Tirmidzi.

Imam At-Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan shahih gharib dari jalur ini. "Gharib" berarti jalur periwayatannya sedikit, namun maknanya shahih dan didukung riwayat lain. Ini menunjukkan kehati-hatian Imam At-Tirmidzi dalam menilai hadits.

Kelima: Perbedaan pendapat tentang keutamaan jihad.

Sebagian ulama seperti Ibnul Mubarak dan Ishaq bin Rahuyah mengutamakan jihad di atas amalan-amalan sunnah lainnya. Sementara ulama lain seperti Sufyan ats-Tsauri dan Fudhail bin 'Iyadh menekankan pentingnya ilmu, zuhud, dan tarbiyah jiwa sebagai pondasi. Namun mereka tidak berselisih bahwa jihad yang sah dengan syaratnya adalah amalan yang sangat mulia. Yang paling kuat adalah bahwa keutamaan amal bergantung pada keadaan, niat, dan kondisi zaman, sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim dalam kitab-kitabnya.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak — seorang ulama besar yang juga dikenal sebagai mujahid — pernah ditanya tentang seseorang yang beribadah di Masjidil Haram, sementara ia sendiri pergi berjihad ke perbatasan Romawi. Beliau menjawab dengan syairnya yang terkenal, yang maknanya: "Debu di jalan Allah dan keringat kuda di waktu sahur, lebih aku cintai daripada wangi minyak wangi dan pelukan istri."

Beliau juga pernah berkata: "Tidak ada amalan setelah kewajiban-kewajiban yang lebih utama daripada jihad di jalan Allah." Ini menunjukkan bagaimana salafus shalih memandang jihad bukan sebagai kekerasan, tetapi sebagai pengorbanan mulia untuk menegakkan kalimat Allah, dengan adab dan ilmu.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah pada janji Allah. Siapa yang berjuang di jalan Allah dengan niat benar dan cara yang benar, tidak akan rugi.
  2. Pahami jihad dengan ilmu. Jihad bukan hanya perang; ia mencakup jihad melawan hawa nafsu, jihad dengan harta, dan jihad dengan lisan yang benar. Namun keutamaan khusus dalam hadits ini adalah berperang di jalan Allah dengan syarat-syarat syar'i.
  3. Jangan ghuluw (berlebihan) dan jangan meremehkan. Jihad memiliki aturan; tidak boleh dilakukan tanpa imam, tanpa ilmu, atau dengan cara yang melampaui batas.
  4. Perbanyak doa untuk para mujahid yang benar. Doakan mereka yang berjuang di jalan Allah dengan cara yang syar'i agar Allah menjaga dan memberi mereka kemenangan.
  5. Fokus pada tarbiyah diri. Sebelum berjihad besar, berjihadlah melawan hawa nafsu, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits tentang jihad akbar melawan nafsu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?