Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan makna bai'at (janji setia) para sahabat kepada Nabi ﷺ di bawah pohon dalam peristiwa Bai'at Ridhwan. Jabir bin Abdullah menjelaskan bahwa bai'at tersebut bukanlah bai'at untuk mati, melainkan bai'at untuk tidak melarikan diri dari medan perang. Ini menunjukkan pemahaman sahabat yang teliti dan jauh dari sikap berlebihan (ghuluw) dalam memahami agama.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Firman Allah ﷻ:
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
(QS. Al-Fath [48]: 18)
Terjemahan: "Sungguh, Allah telah ridha kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon."
Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi (no. 1591) dari Jabir bin Abdullah رضي الله عنهما, melalui jalur Al-Awza'i — beliau termasuk ulama yang tercantum dalam rujukan — dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abu Salamah, dari Jabir.
Kaitan dengan ulama:
- Al-Awza'i (wafat 157 H) adalah perawi hadits ini dan termasuk ulama besar Syam yang diakui keilmuan dan kejujurannya.
- Imam At-Tirmidzi (wafat 279 H) meriwayatkan hadits ini dan memberikan catatan sanad bahwa sebagian riwayat tidak menyebutkan Abu Salamah.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membahas perbedaan riwayat tentang makna bai'at ini.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan konteks ayat ini dalam peristiwa Bai'at Ridhwan.
Penjelasan Rinci
Konteks peristiwa:
Bai'at Ridhwan terjadi pada tahun 6 H ketika Nabi ﷺ dan para sahabat berangkat menuju Makkah untuk menunaikan umrah. Mereka dihalangi oleh kaum Quraisy di Hudaibiyah. Ketika tersiar kabar bahwa Utsman bin Affan رضي الله عنه dibunuh oleh Quraisy, Nabi ﷺ mengajak para sahabat untuk berbai'at di bawah sebuah pohon sebagai bentuk kesiapan menghadapi kemungkinan perang.
Makna bai'at menurut Jabir bin Abdullah:
Jabir رضي الله عنه menjelaskan dengan sangat teliti:
بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَلَى أَنْ لاَ نَفِرَّ
"Kami berbai'at kepada Rasulullah ﷺ untuk tidak melarikan diri."
وَلَمْ نُبَايِعْهُ عَلَى الْمَوْتِ
"Dan kami tidak berbai'at kepadanya untuk mati."
Ini adalah koreksi penting dari Jabir terhadap sebagian orang yang memahami bai'at tersebut sebagai bai'at untuk mati (bai'atul maut). Jabir menegaskan bahwa isi bai'at adalah komitmen untuk tetap teguh di medan perang dan tidak lari, bukan berjanji untuk mati.
Pemahaman ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perbedaan riwayat ini menunjukkan sebagian sahabat memahami bai'at secara lebih luas, namun Jabir memberikan penjelasan yang lebih spesifik dan akurat tentang isi bai'at. Beliau juga menyebutkan bahwa bai'at untuk tidak melarikan diri adalah inti dari bai'at tersebut.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa bai'at di bawah pohon mencakup komitmen untuk sabar, teguh, dan tidak lari dari medan perang. Beliau menegaskan bahwa tidak ada bai'at untuk mati secara khusus, karena Islam tidak mengajarkan seseorang mencari kematian, tetapi mengajarkan keteguhan dan kesabaran.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah ﷻ ridha kepada para sahabat yang berbai'at karena kejujuran dan kesiapan mereka membela agama. Ridha Allah ini adalah keutamaan besar bagi para sahabat Nabi ﷺ.
- Al-Awza'i sebagai perawi hadits ini menunjukkan bahwa beliau meriwayatkan dengan sanad yang jelas dan memberikan catatan penting tentang perbedaan jalur riwayat.
Catatan sanad dari Imam At-Tirmidzi:
Imam At-Tirmidzi menyebutkan bahwa hadits ini juga diriwayatkan dari Isa bin Yunus dari Al-Awza'i dari Yahya bin Abi Katsir secara langsung dari Jabir tanpa menyebutkan Abu Salamah. Ini menunjukkan bahwa hadits ini memiliki beberapa jalur riwayat yang saling menguatkan.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama memahami bahwa bai'at Ridhwan mencakup kesiapan untuk mati, berdasarkan riwayat-riwayat lain. Namun, penjelasan Jabir bin Abdullah رضي الله عنه — yang merupakan saksi langsung peristiwa tersebut — lebih kuat dan lebih tepat, karena beliau sendiri hadir dan mengetahui isi bai'at secara pasti. Ini juga dikuatkan oleh Ibnu Hajar dan an-Nawawi yang mengutamakan penjelasan Jabir.
Story Telling
Dikisahkan bahwa ketika tersiar kabar Utsman bin Affan رضي الله عنه dibunuh oleh kaum Quraisy, suasana di Hudaibiyah menjadi tegang. Nabi ﷺ berdiri di bawah sebuah pohon dan mengajak para sahabat untuk berbai'at. Satu per satu sahabat datang menghampiri beliau, meletakkan tangan mereka di atas tangan beliau, dan berjanji setia.
Jabir bin Abdullah رضي الله عنه — yang saat itu hadir — menuturkan bahwa beliau dan para sahabat lainnya berbai'at dengan penuh kesadaran. Mereka tidak berjanji untuk mati, tetapi berjanji untuk tidak melarikan diri dari medan perang. Ini menunjukkan kematangan iman dan pemahaman mereka bahwa Islam mengajarkan keberanian yang seimbang, bukan sikap nekat yang berlebihan.
Ketika sebagian orang di kemudian hari memahami bai'at ini sebagai bai'at untuk mati, Jabir رضي الله عنه dengan tegas mengoreksi pemahaman tersebut. Beliau menjelaskan bahwa isi bai'at adalah komitmen untuk teguh dan sabar, bukan mencari kematian. Sikap Jabir ini menunjukkan pentingnya merujuk kepada sumber yang paling mengetahui dan tidak berlebihan dalam memahami agama.
Kesimpulan Praktis
- Bai'at Ridhwan adalah bai'at untuk tidak melarikan diri dari medan perang, bukan bai'at untuk mati. Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keberanian yang seimbang dan tidak berlebihan.
- Pentingnya merujuk kepada penjelasan sahabat yang hadir langsung dalam peristiwa, seperti Jabir bin Abdullah رضي الله عنه, karena mereka lebih mengetahui hakikat peristiwa.
- Menjauhi ghuluw (berlebihan) dalam memahami agama, termasuk tidak memahami ajaran Islam sebagai ajaran yang mencari kematian, tetapi sebagai ajaran yang mengajarkan keteguhan, kesabaran, dan keseimbangan.
- Ridha Allah kepada para sahabat yang berbai'at adalah keutamaan besar yang menunjukkan kejujuran iman dan kesiapan mereka membela agama.
- Mengikuti pemahaman ulama Ahlus Sunnah seperti Al-Awza'i, Ibnu Hajar, dan an-Nawawi dalam memahami hadits-hadits tentang bai'at dan keutamaan sahabat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.