Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan yang sangat besar bagi seorang istri yang mampu membuat suaminya ridha. Keridhaan suami adalah kunci kebahagiaan rumah tangga di dunia dan menjadi sebab masuk surga di akhirat. Ini adalah dorongan bagi setiap istri untuk senantiasa berusaha menjadi istri yang shalihah, taat dalam kebaikan, dan menjaga hubungan baik dengan suaminya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Menyusui (Ar-Radha'), Bab Hak Suami atas Istri, no. 1161. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini sebagai hasan gharib.
Teks Arab Hadits:
حَدَّثَنَا وَاصِلُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى الْكُوفِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَبِي نَصْرٍ، عَنْ مُسَاوِرٍ الْحِمْيَرِيِّ، عَنْ أُمِّهِ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ "
Terjemahan: Dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Wanita mana pun yang meninggal dunia sedangkan suaminya ridha kepadanya, maka ia akan masuk surga."
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman tentang kriteria istri shalihah:
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ
"Sebab itu, wanita-wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka)." (QS. An-Nisa' [4]: 34)
Ayat ini menjelaskan bahwa istri shalihah adalah yang taat kepada Allah dan suaminya dalam kebaikan, serta menjaga kehormatan dan harta suaminya saat ia tidak ada. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa qaanitaat (taat) maknanya adalah taat kepada Allah, dan konsekuensinya adalah taat kepada suami dalam hal yang ma'ruf (baik), karena Allah memerintahkan hal tersebut.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung kabar gembira yang sangat besar bagi para istri. Namun, perlu dipahami dengan benar maksud "ridha" di sini.
- Makna Ridha Suami: Ridha suami di sini bukanlah ridha yang mutlak tanpa syarat, karena ridha manusia tidak bisa dijadikan tolok ukur kebenaran. Ridha yang dimaksud adalah keridhaan yang lahir dari keimanan dan akhlak istri yang baik. Imam Al-Qadhi 'Iyadh (yang pendapatnya dinukil oleh ulama lain dalam pembahasan ini) menjelaskan bahwa ridha suami yang menjadi sebab masuk surga adalah ridha yang sesuai dengan syariat, yaitu ketika istri taat kepada Allah dan menjalankan hak-hak suami yang ma'ruf. Jika suami ridha karena istrinya membantunya dalam kemaksiatan, maka ridha semacam ini tidak bermanfaat, bahkan bisa menjadi murka Allah.
- Kedudukan Suami dalam Islam: Hadits ini menunjukkan tingginya kedudukan suami dalam Islam. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hak suami atas istri sangat besar. Beliau menukil sabda Nabi ﷺ yang lain, "Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan istri untuk bersujud kepada suaminya." (HR. At-Tirmidzi, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani). Ini menunjukkan betapa besarnya hak suami, meskipun sujud tersebut tidak boleh dilakukan karena hanya untuk Allah semata.
- Kewajiban Istri: Hadits ini menjadi motivasi bagi istri untuk bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kewajibannya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa di antara hak suami yang paling besar adalah ketaatan istri dalam hal kebaikan, menjaga diri, harta, dan anak-anaknya, serta tidak keluar rumah kecuali dengan izinnya. Ini semua adalah bentuk usaha untuk meraih keridhaan suami.
- Bukan Berarti Suami Bebas Menuntut: Penting untuk digarisbawahi, hadits ini tidak lantas memberikan "kekuasaan mutlak" kepada suami untuk bertindak semena-mena. Keridhaan suami harus didasari oleh sikap suami yang juga menjalankan kewajibannya dengan baik. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menekankan bahwa mu'amalah (hubungan timbal balik) antara suami istri harus didasari dengan ma'ruf (kebaikan) dan keadilan. Suami yang baik akan mendapatkan istri yang baik pula. Jika suami berlaku zalim, maka keridhaannya tidak menjadi ukuran kebaikan istri di sisi Allah.
- Hadits Hasan Gharib: Penilaian Imam At-Tirmidzi sebagai hasan gharib menunjukkan bahwa hadits ini memiliki kualitas yang dapat diterima dan diamalkan, meskipun ada satu perawi yang sendirian dalam meriwayatkannya. Para ulama hadits seperti Imam Adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam karya-karya mereka tentang 'Ilal (cacat hadits) tetap menerima hadits hasan sebagai hujjah dalam keutamaan amal dan hukum.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ada seorang wanita shalihah dari kalangan salaf yang sangat memperhatikan keridhaan suaminya. Suatu hari, suaminya meminta sesuatu yang berat baginya, namun ia tetap melaksanakannya dengan ikhlas karena mengharap pahala dari Allah dan keridhaan suaminya. Ketika ditanya mengapa ia begitu bersungguh-sungguh, ia menjawab, "Aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk masuk surga sebagaimana yang dijanjikan Rasulullah ﷺ kepada wanita yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha kepadanya."
Kisah ini (yang masyhur di kalangan ulama tentang semangat para wanita salaf dalam beribadah dan melayani suami) mengajarkan kita bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak diukur dari banyaknya harta, tetapi dari ketaatan dan kasih sayang yang dilandasi iman. Wanita salaf memahami bahwa melayani suami dengan baik adalah bagian dari ibadah yang agung.
Kesimpulan Praktis
- Bagi Istri: Jadikanlah hadits ini sebagai motivasi untuk senantiasa berusaha menjadi istri shalihah. Perbanyaklah taat kepada Allah, lalu taat kepada suami dalam kebaikan, jaga lisan, harta, dan kehormatan suami, serta hiasilah diri dengan akhlak yang mulia.
- Bagi Suami: Jadikanlah hadits ini sebagai pengingat untuk tidak menyalahgunakan kekuasaan. Bersikaplah adil, penuh kasih sayang, dan bimbinglah istri dengan cara yang ma'ruf. Keridhaan yang hakiki adalah ketika suami ridha karena melihat istrinya taat kepada Allah.
- Untuk Keduanya: Pahami bahwa tujuan pernikahan adalah untuk beribadah kepada Allah. Ridha suami adalah wasilah (perantara) untuk meraih ridha Allah, bukan tujuan akhir. Maka, jadikanlah ridha Allah sebagai tujuan tertinggi dalam setiap interaksi rumah tangga.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.