Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 1064 tentang Barangsiapa terbunuh membela hartanya, ia syahid

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini memberikan kabar gembira bahwa orang yang meninggal karena sakit perut (termasuk penyakit dalam yang parah) tidak akan diazab di dalam kuburnya. Ini adalah salah satu bentuk kemuliaan dari Allah bagi hamba-Nya yang beriman, di mana musibah dan penyakit yang menimpanya menjadi sebab terangkatnya derajat dan terhapusnya dosa-dosa. Hadits ini juga menunjukkan bahwa syahid itu tidak hanya terbatas pada mereka yang gugur di medan perang, tetapi juga mencakup beberapa jenis kematian lainnya, termasuk karena sakit perut.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi (No. 1064)

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Jenazah, Bab tentang Para Syuhada. Beliau menilai hadits ini hasan gharib (baik dan asing/gharib dalam sanad tertentu). Hadits ini juga diriwayatkan dari jalur lain.

Berikut teks hadits yang Anda sertakan (dengan sanad yang lengkap):

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ أَسْبَاطِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْقُرَشِيُّ الْكُوفِيُّ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا أَبُو سِنَانٍ الشَّيْبَانِيُّ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ السَّبِيعِيِّ، قَالَ قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ صُرَدٍ لِخَالِدِ بْنِ عُرْفُطَةَ أَوْ خَالِدٌ لِسُلَيْمَانَ أَمَا سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ " مَنْ قَتَلَهُ بَطْنُهُ لَمْ يُعَذَّبْ فِي قَبْرِهِ " . فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ نَعَمْ .

Makna ringkas: "Barangsiapa yang dibunuh oleh perutnya (meninggal karena sakit perut), maka ia tidak akan diazab di dalam kuburnya."

Hadits Pendukung dari Shahih Muslim:

Dalam Shahih Muslim, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تُحَطُّ وَرَقُ الشَّجَرِ

Artinya: "Tidaklah seorang muslim tertimpa gangguan berupa penyakit, melainkan Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya dengannya, sebagaimana gugurnya daun-daun dari pohon." (HR. Muslim)

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa orang yang meninggal karena sakit perut termasuk dalam golongan syuhada. Beliau menukil bahwa para ulama menyebutkan beberapa jenis kematian yang termasuk syahid akhirat, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih, di antaranya: orang yang meninggal karena wabah (tha'un), orang yang tenggelam, orang yang tertimpa reruntuhan, orang yang meninggal karena sakit perut, dan orang yang gugur di jalan Allah.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa makna "dibunuh oleh perutnya" adalah meninggal karena penyakit yang berasal dari perut, seperti penyakit maag yang parah, radang usus, atau penyakit dalam lainnya yang menyebabkan kematian.

Pandangan Ulama tentang Makna Hadits:

  1. Imam Al-Qadhi 'Iyadh (yang dinukil oleh Imam An-Nawawi) menjelaskan bahwa makna "tidak akan diazab di dalam kuburnya" memiliki dua penafsiran:
  • Pertama: Ia tidak akan diazab di kuburnya karena ia termasuk syuhada, dan orang yang mati syahid tidak diuji/ditanya di kuburnya menurut sebagian ulama.
  • Kedua: Penyakit perut yang dideritanya telah menjadi penghapus dosa-dosanya, sehingga ia bersih dari dosa yang menyebabkan seseorang diazab di kubur.
  1. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan sabar atas penyakit. Orang yang meninggal karena sakit perut yang parah, jika ia bersabar dan mengharap pahala dari Allah, maka penyakitnya menjadi kaffarah (penghapus) dosa-dosanya, dan ia termasuk dalam golongan syuhada.
  2. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa syahid itu ada dua macam:
  • Syahid dunia dan akhirat: Yaitu orang yang gugur dalam peperangan melawan orang kafir untuk meninggikan kalimat Allah.
  • Syahid akhirat saja: Yaitu orang yang meninggal karena sebab-sebab tertentu yang disebutkan dalam hadits, seperti sakit perut, tenggelam, terbakar, terkena wabah, dan lain-lain. Mereka mendapat pahala syahid di akhirat, namun di dunia tetap dimandikan dan dishalatkan sebagaimana jenazah muslim biasa.

Hikmah di Balik Hadits:

Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa penyakit dan musibah yang menimpa seorang mukmin adalah rahmat tersembunyi dari Allah. Penyakit menjadi pembersih dosa, pengangkat derajat, dan pengingat akan nikmat kesehatan. Maka seorang mukmin hendaknya bersabar dan tidak berkeluh kesah, karena di balik ujian itu ada kebaikan yang besar.

Catatan Penting:

Hadits ini tidak berarti bahwa setiap orang yang meninggal karena sakit perut otomatis masuk surga tanpa hisab. Yang dimaksud adalah ia termasuk syuhada akhirat yang mendapat keutamaan besar, namun tetap saja amal perbuatannya akan dihisab jika memiliki dosa yang belum dihapuskan. Adapun "tidak diazab di kubur" adalah karena penyakitnya telah menjadi penghapus dosa-dosa kecilnya, atau karena ia termasuk syuhada yang diistimewakan oleh Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Sulaiman bin Shurad radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat yang mulia. Beliau ikut serta dalam Perang Jamal dan Perang Shiffin di pihak Ali bin Abi Thalib. Dalam riwayat lain, beliau dikenal sebagai orang yang sangat zuhud dan banyak beribadah.

Dalam hadits di atas, kita melihat bagaimana para sahabat saling mengingatkan tentang sabda Nabi ﷺ. Sulaiman bin Shurad bertanya kepada Khalid bin 'Urfutah tentang hadits ini, dan Khalid membenarkannya. Ini menunjukkan semangat para sahabat dalam menjaga dan menyampaikan hadits-hadits Nabi ﷺ, serta saling mengingatkan dalam kebaikan.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa para sahabat sangat perhatian terhadap ilmu dan saling bertukar pengetahuan. Mereka tidak segan bertanya dan mengingatkan satu sama lain tentang sabda-sabda Rasulullah ﷺ. Ini adalah teladan bagi kita untuk senantiasa menuntut ilmu dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersabar atas penyakit yang menimpa kita, karena ia menjadi penghapus dosa dan pengangkat derajat di sisi Allah.
  2. Jangan berputus asa dari rahmat Allah ketika tertimpa musibah atau penyakit yang berat, karena bisa jadi itu adalah kebaikan tersembunyi bagi kita.
  3. Menjaga semangat menuntut ilmu dan saling mengingatkan sesama muslim tentang ajaran Nabi ﷺ, sebagaimana para sahabat saling bertanya dan mengingatkan.
  4. Memahami bahwa syahid itu luas maknanya, tidak hanya terbatas pada yang gugur di medan perang, tetapi juga mencakup beberapa jenis kematian lainnya sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih.
  5. Mendoakan orang yang meninggal karena sakit agar diampuni dosa-dosanya dan ditempatkan di tempat yang mulia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?