Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang empat perkara warisan kebiasaan jahiliyyah yang masih akan tersisa di tengah umat Nabi ﷺ, yaitu: (1) meratapi mayat dengan suara tangis dan ucapan yang berlebihan, (2) mencela dan merendahkan keturunan/asal-usul orang lain, (3) keyakinan bahwa penyakit menular dengan sendirinya tanpa izin Allah (al-'adwa), dan (4) menyandarkan turunnya hujan kepada bintang-bintang (al-anwa'). Semua ini adalah perkara yang bertentangan dengan tauhid dan akhlak Islam, sehingga wajib dijauhi dan diingkari.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Al-Jana'iz, Bab Ma Ja'a fi Karahiyat An-Niyahab, no. 1001. At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan." Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Jana'iz, Bab Ta'ziyah, no. 934, dari jalur Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Dalil Al-Qur'an yang terkait dengan larangan meratap dan sabar menghadapi musibah:
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
"Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah [2]: 155)
Dalil tentang tauhid dan larangan menyandarkan nikmat kepada selain Allah:
Allah Ta'ala berfirman:
فَلَا تُقْسِمُوا بِالْأَنْوَاءِ
"Maka janganlah kalian bersumpah dengan bintang-bintang (anwa')." — Ini adalah pemahaman dari konteks larangan menyandarkan hujan kepada bintang, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama tafsir. Ayat yang lebih tegas adalah firman-Nya:
وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ
"Dan kalian menjadikan rezeki yang Allah berikan kepada kalian justru untuk mendustakan (nikmat-Nya)." (QS. Al-Waqi'ah [56]: 82)
Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang mengatakan: "Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu," yaitu mereka menyandarkan nikmat hujan kepada bintang, bukan kepada Allah.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung kabar tentang empat perkara yang akan terus ada di tengah umat ini sebagai sisa-sisa kebiasaan jahiliyyah. Mari kita bahas satu per satu:
1. An-Niyahab (Meratap)
Meratap adalah menangis dengan suara keras sambil menyebut-nyebut kebaikan mayat atau mengeluhkan musibah dengan ucapan yang menunjukkan ketidakridhaan terhadap takdir Allah, seperti "Celakalah aku," "Aduh rugi," dan semacamnya. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa meratap adalah perbuatan haram berdasarkan ijma' para ulama, karena mengandung sikap tidak sabar dan protes terhadap takdir Allah. Adapun menangis tanpa meratap, tanpa suara keras dan tanpa ucapan yang buruk, maka itu dibolehkan berdasarkan hadits Nabi ﷺ ketika beliau menangis di pemakaman putranya Ibrahim, lalu bersabda: "Mata ini menangis, hati ini bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai Rabb kami." (HR. Al-Bukhari no. 1303)
2. At-Tha'nu fil Ahsab (Mencela Keturunan)
Yaitu merendahkan, menghina, atau membanggakan diri dengan mencela nasab dan keturunan orang lain. Ini adalah kebiasaan jahiliyyah yang bertentangan dengan ajaran Islam yang memuliakan manusia berdasarkan takwa, bukan berdasarkan nasab. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
"Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Imam Ibn Rajab Al-Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa mencela keturunan termasuk perbuatan yang dapat memutus silaturahmi dan menimbulkan permusuhan di antara kaum muslimin.
3. Al-'Adwa (Keyakinan Penyakit Menular dengan Sendirinya)
Yang dimaksud adalah keyakinan bahwa penyakit menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah. Nabi ﷺ mengingkari keyakinan ini dengan sabdanya: "Siapa yang memberi kudis kepada unta yang pertama?" Maksudnya, jika penyakit itu menular dengan sendirinya, maka siapakah yang menularkan penyakit kepada unta yang pertama? Ini menunjukkan bahwa semua terjadi dengan takdir dan kehendak Allah. Namun perlu dipahami dengan benar: Islam tidak mengingkari adanya penularan penyakit secara medis, tetapi yang diingkari adalah keyakinan bahwa penyakit menular dengan sendirinya terlepas dari takdir Allah. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang larangan masuk ke daerah wabah dan larangan mencampurkan unta yang sakit dengan yang sehat menunjukkan bahwa kita tetap harus mengambil sebab-sebab pencegahan, namun hati tetap yakin bahwa semua terjadi dengan takdir Allah.
4. Al-Anwa' (Menyandarkan Hujan kepada Bintang)
Yaitu kebiasaan orang jahiliyyah yang mengatakan: "Kami mendapat hujan karena bintang ini atau itu." Mereka menyandarkan turunnya hujan kepada bintang-bintang tertentu, bukan kepada Allah. Ini adalah bentuk kesyirikan kecil (syirik ashghar) karena menyandarkan nikmat kepada selain Allah. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah berfirman: "Di pagi hari, ada di antara hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir kepada-Ku. Barangsiapa mengatakan 'Kami diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya,' maka dia beriman kepada-Ku dan kufur kepada bintang-bintang. Dan barangsiapa mengatakan 'Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu,' maka dia kufur kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang." (HR. Al-Bukhari no. 846, Muslim no. 71)
Imam As-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa yang wajib diucapkan ketika turun hujan adalah: "Muthirna bi fadhllillahi wa rahmatihi" (Kita diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya), sebagai bentuk syukur dan pengakuan bahwa segala nikmat berasal dari Allah semata.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Rasulullah ﷺ memimpin kami shalat Subuh di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Setelah selesai shalat, beliau menghadap kepada para sahabat dan bersabda: 'Tahukah kalian apa yang Rabb kalian firmankan?' Mereka menjawab: 'Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.' Beliau bersabda: 'Allah berfirman: Di pagi ini, ada di antara hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir kepada-Ku. Adapun orang yang mengatakan: Kami diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dia beriman kepada-Ku dan kufur kepada bintang-bintang. Adapun orang yang mengatakan: Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu, maka dia kufur kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.'" (HR. Al-Bukhari no. 846 dan Muslim no. 71)
Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga lisan kita dalam menyandarkan segala nikmat kepada Allah. Sebuah ucapan yang tampak sederhana—"Kami hujan karena bintang ini"—ternyata bisa menjatuhkan seseorang ke dalam kekufuran terhadap nikmat Allah. Maka hendaknya kita selalu membiasakan lisan kita untuk mengucapkan: "Alhamdulillah," "Berkah dari Allah," dan "Karena karunia Allah," dalam setiap keadaan.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi meratap ketika tertimpa musibah. Cukuplah menangis dengan tenang tanpa ucapan yang menunjukkan ketidakridhaan, dan perbanyaklah beristirja' (inna lillahi wa inna ilaihi raji'un) serta bersabar.
- Jangan mencela keturunan atau nasab orang lain, karena kemuliaan di sisi Allah adalah berdasarkan takwa, bukan keturunan.
- Pahami konsep penyakit menular dengan benar: tetap berikhtiar menjaga kesehatan dan menjauhi sumber penyakit, namun hati yakin bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir dan kehendak Allah.
- Jaga lisan dari menyandarkan nikmat kepada selain Allah. Ketika turun hujan, ucapkanlah: "Muthirna bi fadhllillahi wa rahmatihi" (Kita diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya).
- Perbanyaklah bersyukur dan mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah semata, agar kita termasuk hamba yang beriman kepada Allah dan bukan termasuk orang-orang yang kufur terhadap nikmat-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.