Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bagaimana wahyu turun kepada Nabi ﷺ dalam dua cara utama: (1) seperti bunyi lonceng yang sangat berat, lalu setelah reda beliau ﷺ langsung memahami isinya; dan (2) Malaikat Jibril datang menyerupai seorang laki-laki lalu menyampaikan wahyu. Ini menunjukkan betapa agung dan beratnya wahyu, serta kesungguhan Nabi ﷺ dalam menerimanya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 933), dari Aisyah radhiyallahu 'anha, melalui jalur Hisyam bin 'Urwah dari ayahnya ('Urwah bin az-Zubair). Hadits serupa juga ada dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari jalur yang sama.
Teks hadits:
<p>عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ سَأَلَ الْحَارِثُ بْنُ هِشَامٍ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ قَالَ " فِي مِثْلِ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ فَيَفْصِمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ وَأَحْيَانًا يَأْتِينِي فِي مِثْلِ صُورَةِ الْفَتَى فَيَنْبِذُهُ إِلَيَّ "</p>
Terjemahan: "Dari Aisyah, ia berkata: Al-Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah ﷺ: 'Bagaimana wahyu datang kepadamu?' Beliau menjawab: 'Seperti bunyi lonceng, lalu ia terputus dariku dan aku telah memahami (apa yang disampaikan), dan itulah yang paling berat bagiku. Dan kadang-kadang ia datang kepadaku menyerupai bentuk seorang pemuda, lalu ia menyampaikannya kepadaku.'"
Ayat yang berkaitan dengan turunnya wahyu:
<p>وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ</p>
QS. Asy-Syu'ara' [26]: 192–194
Terjemahan: "Dan sesungguhnya Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, yang dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau menjadi salah satu pemberi peringatan."
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa wahyu diturunkan melalui Jibril ke dalam hati Nabi ﷺ, dan cara penyampaiannya bermacam-macam sebagaimana dijelaskan dalam hadits Aisyah ini.
Penjelasan Rinci
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan dua cara wahyu yang paling sering disebutkan:
Pertama: seperti bunyi lonceng (صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ). Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah suara yang sangat kuat dan mengguncang, namun setelah suara itu berhenti, Nabi ﷺ langsung memahami maknanya tanpa perlu diulang. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa cara ini adalah yang paling berat bagi Nabi ﷺ, karena beliau merasakan beban yang sangat besar secara fisik — sampai-sampai dalam riwayat lain disebutkan dahi beliau berkeringat di hari yang dingin, dan tunggangan beliau bisa berhenti karena beratnya wahyu.
Kedua: Jibril datang menyerupai seorang laki-laki (مِثْلِ صُورَةِ الْفَتَى). Dalam bentuk ini, Jibril menyampaikan wahyu dengan kata-kata yang jelas, dan Nabi ﷺ mendengarnya secara langsung. Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa cara ini lebih ringan dibanding cara pertama, karena penyampaiannya seperti percakapan biasa.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa wahyu turun kepada Nabi ﷺ dengan beberapa cara, dan hadits ini termasuk yang paling jelas menjelaskan perbedaan tingkat kesulitannya. Beliau juga menegaskan bahwa beratnya wahyu bukan karena kelemahan Nabi ﷺ, tetapi justru menunjukkan kemuliaan dan keagungan wahyu itu sendiri.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa perbedaan cara turunnya wahyu menunjukkan hikmah Allah dalam mempersiapkan Nabi ﷺ untuk menerima risalah yang sangat besar, dan bahwa setiap cara memiliki hikmah tersendiri dalam penguatan hati beliau.
Pertanyaan Al-Harits bin Hisyam ini menunjukkan semangat para sahabat untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan kenabian, dan Nabi ﷺ menjawabnya dengan penjelasan yang sangat rinci dan jelas.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu ketika Nabi ﷺ sedang berada di atas untanya, lalu wahyu turun kepada beliau. Unta itu pun terduduk karena beratnya beban wahyu yang beliau rasakan. Para sahabat yang melihatnya menyaksikan betapa besar pengaruh wahyu terhadap diri Nabi ﷺ. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha pernah melihat Nabi ﷺ menerima wahyu di hari yang sangat dingin, namun dahi beliau tetap berkeringat karena beratnya. Ini menunjukkan bahwa wahyu bukanlah perkara ringan, melainkan amanah besar dari Allah yang harus disampaikan dengan penuh kesungguhan.
Ibnu Hajar menyebutkan bahwa para sahabat memperhatikan keadaan Nabi ﷺ saat wahyu turun sebagai tanda kenabian, dan mereka semakin yakin akan kebenaran risalah beliau.
Kesimpulan Praktis
- Wahyu adalah perkara agung — kita harus menghormati Al-Qur'an sebagai wahyu Allah yang diturunkan melalui cara-cara yang penuh keagungan.
- Membaca dan memahami Al-Qur'an adalah ibadah besar — karena ia adalah wahyu yang dahulu diterima Nabi ﷺ dengan penuh perjuangan.
- Meneladani kesungguhan Nabi ﷺ — beliau menerima wahyu dengan sepenuh hati, maka kita pun harus menyambut Al-Qur'an dengan sepenuh hati.
- Bertanya untuk memahami agama adalah sunnah para sahabat — seperti Al-Harits bin Hisyam yang bertanya langsung kepada Nabi ﷺ.
- Mengagungkan sunnah dan wahyu — jangan menganggap remeh perkara agama, karena semuanya berasal dari Allah yang Maha Agung.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.