Penjelasan Hadits Nasa'i No. 901 tentang Doa pembuka shalat yang diangkat dua belas malaikat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa seorang yang masuk masjid dalam keadaan kehabisan napas boleh langsung bertakbir dan memuji Allah dengan kalimat "alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih" meskipun imam sedang shalat. Nabi ﷺ tidak mengingkarinya, bahkan memuji kalimat tersebut dan menyebut bahwa dua belas malaikat berebut mengangkatnya. Ini menunjukkan keutamaan dzikir dan pujian kepada Allah di waktu-waktu mulia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 901), dari sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه, melalui jalur Tsabit, Qatadah, dan Humaid. Hadits ini juga memiliki asal dalam Shahih Muslim (no. 600) dari Anas dengan lafaz serupa, dan Shahih al-Bukhari meriwayatkan maknanya dalam bab dzikir setelah takbir.

Teks hadits yang disebutkan:

اللَّهُ أَكْبَرُ، الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

"Allah Maha Besar, segala pujian bagi Allah dengan pujian yang banyak, yang baik, dan yang penuh berkah di dalamnya."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan dzikir:

QS. Al-Ahzab [33]: 41-42

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

"Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak, dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang."

QS. Al-Baqarah [2]: 152

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Bolehnya berdzikir di sela-sela shalat pada tempat yang disyariatkan.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa kalimat ini diucapkan oleh lelaki tersebut setelah takbiratul ihram, yaitu pada posisi doa istiftah (pembuka shalat). Ini menunjukkan bahwa doa istiftah tidak harus terpaku pada satu lafaz saja, tetapi boleh dengan lafaz lain yang mengandung pujian kepada Allah. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Nabi ﷺ tidak mengajarkan lafaz ini secara khusus sebagai doa istiftah wajib, tetapi membenarkan dan memujinya, sehingga menunjukkan keutamaannya.

Kedua: Keutamaan kalimat "alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih".

Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa kalimat ini mengandung tiga sifat pujian: katsir (banyak), thayyib (baik dan suci), dan mubarak fih (penuh berkah). Ini menunjukkan kesempurnaan pujian kepada Allah dari segi kuantitas, kualitas, dan keberkahan. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika membahas ayat-ayat dzikir menegaskan bahwa pujian yang banyak dan baik adalah tanda keimanan yang kuat.

Ketiga: Dua belas malaikat berebut mengangkat kalimat tersebut.

Nabi ﷺ bersabda: "Saya melihat dua belas malaikat bergegas untuk melihat siapa di antara mereka yang akan mengangkatnya." Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa ini menunjukkan betapa mulianya kalimat dzikir tersebut di sisi Allah, sampai-sampai para malaikat berlomba untuk mencatat dan mengangkatnya. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Al-Wabil ash-Shayyib menyebutkan bahwa amal-amal saleh diangkat oleh malaikat, dan semakin ikhlas serta baik suatu amal, semakin tinggi kedudukannya di sisi Allah.

Keempat: Adab ketika masuk masjid dan kehabisan napas.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa seorang yang datang terlambat dan kehabisan napas tidak perlu memaksakan diri untuk membaca doa masuk masjid yang panjang, tetapi boleh langsung bertakbir dan memuji Allah. Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah bentuk keringanan (rukhshah) dalam syariat, dan menunjukkan bahwa Allah tidak membebani hamba di luar kemampuannya.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah berpendapat bahwa kalimat ini boleh diucapkan sebagai doa istiftah. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik lebih memilih lafaz "Subhanakallahumma wa bihamdika..." sebagai doa istiftah yang utama, namun tidak melarang lafaz lain yang mengandung pujian. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang membolehkan variasi doa istiftah selama mengandung pujian kepada Allah, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain tentang doa istiftah yang beragam.

Story Telling

Dikisahkan oleh Anas bin Malik رضي الله عنه, suatu hari Rasulullah ﷺ sedang memimpin shalat berjamaah di masjid. Tiba-tiba seorang lelaki datang tergesa-gesa, napasnya terengah-engah karena berlari menuju masjid. Tanpa menunggu napasnya tenang, ia langsung mengucapkan:

اللَّهُ أَكْبَرُ، الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

Setelah shalat selesai, Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat: "Siapa di antara kalian yang mengucapkan kata-kata ini?" Para sahabat terdiam, tidak ada yang menjawab karena mereka merasa takut atau tidak ingin menonjolkan diri. Lalu Nabi ﷺ bersabda: "Dia tidak mengatakan sesuatu yang buruk." Mendengar itu, lelaki tersebut menjawab: "Saya, wahai Rasulullah. Saya datang dan saya kehabisan napas, lalu saya mengatakannya."

Maka Nabi ﷺ bersabda dengan penuh kekaguman: "Saya melihat dua belas malaikat bergegas untuk melihat siapa di antara mereka yang akan mengangkatnya."

Hikmah: Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa Allah dan para malaikat-Nya sangat menghargai kalimat-kalimat pujian yang diucapkan dengan ikhlas, bahkan dalam keadaan tergesa-gesa sekalipun. Seorang hamba yang hatinya selalu terhubung dengan Allah akan selalu menemukan cara untuk berdzikir, kapan pun dan di mana pun.

Kesimpulan Praktis

  1. Boleh mengucapkan kalimat pujian ini setelah takbiratul ihram sebagai doa istiftah, terutama ketika datang terlambat dan kehabisan napas.
  2. Kalimat "alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih" memiliki keutamaan besar, bahkan dua belas malaikat berebut mengangkatnya.
  3. Berdzikir dengan ikhlas meskipun singkat dan dalam keadaan tergesa-gesa tetap bernilai di sisi Allah.
  4. Tidak perlu memaksakan diri untuk membaca doa masuk masjid yang panjang ketika keadaan mendesak; yang penting adalah niat yang baik dan pujian kepada Allah.
  5. Hendaknya kita memperbanyak dzikir kepada Allah di setiap kesempatan, karena dzikir adalah amal yang paling mudah namun paling berat timbangannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?