Penjelasan Hadits Nasa'i No. 898 tentang Doa iftitah saat memulai shalat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits riwayat An-Nasa'i no. 898 ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ ketika memulai shalat sunnah (tathawwu') membaca takbir "Allahu Akbar" lalu dilanjutkan dengan doa iftitah yang berisi tauhid, penyerahan diri kepada Allah, dan pujian kepada-Nya, kemudian baru membaca Al-Fatihah. Doa ini dikenal sebagai doa istiftah (pembuka) yang mengajarkan kita memurnikan niat dan menghadapkan hati hanya kepada Allah sebelum berdialog dengan-Nya dalam shalat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang menjadi kandungan doa ini:

QS. Al-An'am [6]: 162

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Terjemahan: "Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku (sembelihanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam."

QS. Al-An'am [6]: 79

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Terjemahan: "Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus (hanif), dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, dari sahabat Muhammad bin Maslamah radhiyallahu 'anhu. Imam An-Nasa'i termasuk ulama yang disebutkan dalam daftar rujukan. Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dengan lafaz yang berdekatan, menunjukkan bahwa doa istiftah ini memiliki dasar yang kuat.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa doa istiftah memiliki beberapa lafaz yang berbeda, dan semuanya boleh diamalkan.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa perbedaan lafaz doa istiftah menunjukkan keluasan (tanawwu') dalam berdoa, bukan pertentangan.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan berbagai doa istiftah sesuai keadaan, dan semuanya mengandung tauhid serta pengagungan kepada Allah.

Penjelasan Rinci

Makna doa istiftah dalam hadits ini:

Doa ini terdiri dari beberapa bagian penting:

  1. "Allahu Akbar" — Takbir pembuka, mengagungkan Allah bahwa Dia Maha Besar dari segala sesuatu.
  2. "Wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardh hanifan musliman wa ma ana minal musyrikin" — "Aku hadapkan wajahku kepada-Nya yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus, sebagai seorang Muslim, dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik."
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna "menghadapkan wajah" adalah memurnikan niat dan tujuan hanya kepada Allah, tidak kepada selain-Nya.
  • As-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa "hanifan" berarti condong kepada tauhid dan menjauhi kesyirikan.
  1. "Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil 'alamin" — "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan semesta alam."
  • Ibn Qayyim menjelaskan bahwa seorang hamba harus menyadari seluruh hidupnya adalah milik Allah, bukan hanya shalatnya.
  1. "La syarika lahu wa bidzalika umirtu wa ana awwalul muslimin" — "Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dengan itu aku diperintahkan, dan aku adalah yang pertama dari orang-orang Muslim."
  • Ibnu Hajar menjelaskan bahwa "awwalul muslimin" berarti yang pertama berserah diri dari umat ini, bukan yang pertama secara mutlak.
  1. "Allahumma antal Malik la ilaha illa anta subhanaka wa bihamdika" — "Ya Allah, Engkau adalah Raja, tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau dan segala puji bagi-Mu."
  • Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah pujian kepada Allah dengan nama-Nya "Al-Malik" (Raja), pengakuan tauhid, dan tasbih.

Perbedaan pendapat ulama:

Para ulama dari daftar yang disebutkan memiliki pandangan yang berdekatan tentang doa istiftah:

  • Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa doa istiftah dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca Al-Fatihah, baik dalam shalat fardhu maupun sunnah.
  • Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa doa istiftah dibaca setelah takbiratul ihram, namun lafaz yang beliau pilih adalah "Subhanakallahumma wa bihamdika..." (doa yang lain).
  • Imam Malik berpendapat bahwa doa istiftah tidak dibaca dalam shalat fardhu, tetapi boleh dalam shalat sunnah.

Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat jumhur (mayoritas ulama: Asy-Syafi'i, Ahmad, dan Abu Hanifah) bahwa doa istiftah disyariatkan dalam shalat fardhu dan sunnah, karena hadits ini dan hadits-hadits lain menunjukkan Nabi ﷺ membacanya. Adapun perbedaan lafaz, semuanya boleh diamalkan karena Nabi ﷺ mengajarkan beberapa versi.

Catatan penting:

Hadits ini secara khusus menyebutkan shalat sunnah (tathawwu'), namun para ulama seperti Ibnu Hajar dan An-Nawawi menjelaskan bahwa doa istiftah juga berlaku untuk shalat fardhu berdasarkan hadits-hadits lain yang lebih umum.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Muhammad bin Maslamah radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat Anshar yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam peristiwa-peristiwa besar Islam, meriwayatkan doa ini. Beliau memperhatikan dengan seksama bagaimana Nabi ﷺ memulai shalatnya, lalu menyampaikan kepada umat apa yang beliau lihat dan dengar.

Abdurrahman bin Hurmuz al-A'raj, seorang tabi'in yang meriwayatkan hadits ini, dikenal sebagai salah satu perawi yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits. Imam Adz-Dzahabi menyebutkan bahwa al-A'raj adalah seorang yang tsiqah (terpercaya) dan banyak meriwayatkan hadits dari para sahabat.

Muhammad bin al-Munkadir, salah satu perawi dalam sanad ini, adalah seorang tabi'in yang dikenal zuhud dan ahli ibadah. Beliau pernah berkata: "Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih baik dalam shalat daripada Muhammad bin Maslamah." Ini menunjukkan betapa beliau memperhatikan detail ibadah Nabi ﷺ.

Hikmahnya: Para salaf sangat memperhatikan bagaimana Nabi ﷺ beribadah, lalu mengajarkannya kepada umat dengan amanah. Mereka tidak menambah atau mengurangi, tetapi menyampaikan apa adanya.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah doa istiftah setelah takbiratul ihram dan sebelum Al-Fatihah, baik dalam shalat fardhu maupun sunnah.
  2. Hayati maknanya — doa ini mengajarkan tauhid, penyerahan diri, dan kesadaran bahwa seluruh hidup kita adalah untuk Allah.
  3. Boleh memilih salah satu lafaz doa istiftah yang diajarkan Nabi ﷺ, karena semuanya sahih dan mengandung kebaikan.
  4. Jangan tinggalkan doa ini karena ia membantu menghadirkan hati dan mengusir gangguan syaitan di awal shalat.
  5. Ajarkan kepada keluarga dan orang-orang terdekat, sebagaimana para sahabat mengajarkannya kepada generasi setelah mereka.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?