Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa merapikan dan meluruskan barisan shalat adalah perintah Nabi ﷺ yang sangat ditekankan. Ketika barisan tidak rapi dan tidak lurus, maka akan menimbulkan perpecahan hati di antara kaum muslimin. Nabi ﷺ juga mengarahkan agar orang-orang yang dewasa, berilmu, dan bijaksana menempati barisan paling depan, karena mereka lebih pantas menjadi teladan dan menjaga ketenangan shalat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam kitab Sunan An-Nasa'i, kitab "Al-Imamah" (Buku Imam), bab "Apa yang Dikatakan Imam Ketika Menyusun Barisan", nomor 812. Sanadnya: Bisyr bin Khalid Al-'Askari → Gundar (Muhammad bin Ja'far) → Syu'bah → Sulaiman (Al-A'masy) → 'Umarah bin 'Umair → Abu Ma'mar → Abu Mas'ud Al-Anshari رضي الله عنه.
Teks Arab hadits:
أَخْبَرَنَا بِشْرُ بْنُ خَالِدٍ الْعَسْكَرِيُّ، قَالَ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ سُلَيْمَانَ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ، عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ، قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَمْسَحُ عَوَاتِقَنَا وَيَقُولُ "اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ وَلْيَلِيَنِّي مِنْكُمْ أُولُو الأَحْلاَمِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ"
Terjemahan: Dari Abu Mas'ud Al-Anshari berkata: "Rasulullah ﷺ biasa mengusap bahu kami (untuk memastikan barisan lurus) pada saat shalat, dan beliau bersabda: 'Luruskanlah (barisan); janganlah kalian berbeda satu sama lain agar hati kalian tidak saling berselisih. Biarkanlah orang-orang yang dewasa dan bijaksana berdiri paling dekat dengan saya, kemudian orang-orang yang di belakang mereka, kemudian orang-orang yang di belakang mereka.'"
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan pentingnya persatuan dan larangan berpecah belah:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
QS. Ali 'Imran [3]: 103
Terjemahan: "Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara."
Hadits ini juga memiliki riwayat serupa dalam Shahih Muslim dari Abu Mas'ud, dan Imam An-Nawawi menyebutkannya dalam Syarh Shahih Muslim ketika menjelaskan adab shalat berjamaah. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas hadits-hadits tentang meluruskan shaf dan menyebutkan hikmah-hikmahnya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama: Perintah meluruskan barisan shalat. Nabi ﷺ tidak hanya memerintahkan dengan ucapan, tetapi juga mengusap bahu para sahabat untuk memastikan barisan benar-benar lurus dan rapat. Ini menunjukkan betapa seriusnya perkara ini. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa meluruskan shaf adalah perkara yang disepakati (ijma') kewajibannya atau setidaknya sunnah yang sangat ditekankan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat apakah hukumnya wajib atau sunnah muakkadah, namun yang paling kuat adalah wajib karena adanya perintah tegas dan ancaman bagi yang meninggalkannya.
Kedua: Hubungan antara kerapian barisan dengan persatuan hati. Nabi ﷺ bersabda: "Janganlah kalian berbeda satu sama lain agar hati kalian tidak saling berselisih." Ini menunjukkan bahwa ketidakteraturan dalam barisan lahiriah bisa mencerminkan dan bahkan menyebabkan perpecahan batin. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa perselisihan dalam perkara lahiriah dapat menyeret kepada perselisihan hati. Sebaliknya, kesepakatan dalam perkara lahiriah yang diperintahkan agama akan membuahkan kesatuan hati. Ini sejalan dengan QS. Ali 'Imran [3]: 103 di atas.
Ketiga: Prioritas dalam barisan. Nabi ﷺ mengarahkan agar "ulul ahlām wan nuha" (orang-orang yang dewasa dan berakal bijaksana) berada paling dekat dengan beliau. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa "ulul ahlām" adalah orang-orang yang sudah baligh dan dewasa, sedangkan "nuha" adalah orang-orang yang memiliki akal dan pemahaman. Hikmahnya adalah agar mereka dapat mengikuti gerakan Nabi ﷺ dengan tepat, menjadi teladan bagi yang di belakang, dan menjaga ketenangan serta kekhusyukan shalat. Imam An-Nawawi menambahkan bahwa ini juga agar mereka dapat menggantikan imam jika terjadi sesuatu, dan agar mereka lebih dekat untuk mengingatkan imam jika ada kesalahan.
Keempat: Pengulangan "tsumma alladzīna yalūnahum" (kemudian orang-orang yang di belakang mereka). Ini menunjukkan bahwa urutan prioritas dalam barisan bukanlah sembarang urutan, melainkan ada tingkatan: yang paling dekat dengan imam adalah yang paling utama dalam ilmu, akal, dan kedewasaan. Ibnu Rajab menyebutkan bahwa ini adalah dalil bahwa orang yang lebih utama dalam ilmu dan agama hendaknya lebih dekat dengan imam.
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: Sebagian ulama seperti Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar cenderung pada kewajiban meluruskan shaf, sementara sebagian lain menekankan sunnah muakkadah. Namun, semuanya sepakat bahwa meninggalkannya adalah makruh dan menyelisihi sunnah. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan wajib, berdasarkan perintah tegas Nabi ﷺ dan hadits-hadits lain yang mengancam bagi yang tidak meluruskan shaf.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Mas'ud Al-Anshari رضي الله عنه, seorang sahabat yang mulia, meriwayatkan hadits ini sebagai saksi langsung bagaimana Nabi ﷺ memperhatikan barisan shalat. Beliau melihat sendiri bagaimana Nabi ﷺ mengusap bahu para sahabat, dari satu orang ke orang lain, memastikan tidak ada yang menonjol atau mundur. Ini menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya, karena beliau ingin shalat mereka sempurna dan hati mereka bersatu.
Dalam riwayat lain yang disebutkan Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, Anas bin Malik رضي الله عنه berkata: "Rasulullah ﷺ bersabda: 'Luruskanlah barisan kalian, karena aku melihat kalian dari belakang punggungku.'" Anas berkata: "Maka setiap kami menempelkan bahunya ke bahu kawannya, dan kakinya ke kaki kawannya." Ini menggambarkan betapa para sahabat benar-benar memahami dan mengamalkan perintah Nabi ﷺ dengan sungguh-sungguh.
Hikmahnya: Para sahabat tidak hanya mendengar, tetapi langsung mengamalkan. Mereka menyadari bahwa kerapian barisan adalah bagian dari kesempurnaan shalat dan tanda ketaatan kepada Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Luruskan dan rapatkan barisan shalat — pastikan bahu sejajar dan tidak ada celah yang bisa diisi setan.
- Jangan berbeda dalam barisan — karena perbedaan lahiriah bisa menyebabkan perpecahan hati.
- Beri prioritas kepada orang dewasa, berilmu, dan bijaksana untuk berada di barisan depan, karena mereka lebih pantas menjadi teladan dan menjaga ketenangan shalat.
- Imam hendaknya memeriksa barisan sebelum memulai shalat, sebagaimana Nabi ﷺ mengusap bahu para sahabat.
- Sadari bahwa shalat berjamaah adalah sarana persatuan umat — kerapian barisan adalah cermin kerapian hati dan ukhuwah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.