Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 810 tentang Perintah merapikan barisan shalat dan ancamannya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah perintah tegas dari Nabi ﷺ untuk meluruskan dan merapatkan barisan shalat berjamaah. Beliau mengancam dengan sabdanya, "atau Allah akan memalingkan wajah-wajah kalian," yang merupakan ancaman serius agar kaum muslimin tidak meremehkan urusan shaf. Ini menunjukkan bahwa merapikan barisan adalah bagian dari kesempurnaan shalat berjamaah dan bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat An-Nasa'i:

Teks hadits yang Anda berikan sudah lengkap dengan sanadnya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat An-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhu.

Dalil dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (QS. Ash-Shaff [61]: 4)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mencintai keteraturan dan kerapian dalam barisan, baik dalam peperangan maupun dalam shalat, karena keduanya adalah bentuk ibadah dan ketaatan.

Penjelasan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "memalingkan wajah-wajah kalian" adalah Allah akan menanamkan perpecahan dan kebencian di antara hati-hati kalian, atau mengubah keadaan kalian dari kebaikan menjadi keburukan.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil pendapat para ulama bahwa ancaman ini bersifat nyata, dan sebagian ulama salaf benar-benar merasakan akibatnya ketika mereka meremehkan urusan shaf.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

1. Perhatian Nabi ﷺ terhadap Kerapian Shaf

Nabi ﷺ sendiri yang turun langsung merapikan barisan para sahabat, sebagaimana beliau merapikan anak panah sebelum digunakan. Ini menunjukkan bahwa merapikan shaf bukanlah perkara sepele, melainkan bagian dari petunjuk beliau dalam shalat berjamaah.

2. Ancaman bagi yang Tidak Merapikan Shaf

Sabda beliau, "atau Allah akan memalingkan wajah-wajah kalian," adalah ancaman yang sangat serius. Para ulama berbeda pendapat tentang maknanya:

  • Pendapat pertama (dipilih oleh mayoritas ulama seperti Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar): maknanya adalah Allah akan menanamkan perpecahan dan perselisihan di antara hati-hati kalian, sehingga wajah-wajah yang tadinya bersatu menjadi saling berpaling.
  • Pendapat kedua: maknanya adalah Allah akan mengubah wajah-wajah kalian menjadi menghadap ke belakang, sebagai bentuk hukuman. Ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari sebagian ulama salaf.

Kedua pendapat ini menunjukkan betapa besarnya perhatian syariat terhadap persatuan dan keteraturan dalam ibadah.

3. Hikmah di Balik Perintah Ini

Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa hikmah dari perintah merapikan shaf adalah untuk menumbuhkan rasa persatuan dan kebersamaan di antara kaum muslimin. Ketika barisan rapat dan lurus, tidak ada celah bagi setan untuk menyelinap, dan hati-hati pun menjadi lebih bersatu.

4. Penerapan dalam Shalat Berjamaah

Para ulama dari kalangan madzhab Syafi'i dan Hambali berpendapat bahwa meluruskan dan merapatkan shaf hukumnya sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan), dan sebagian ulama berpendapat wajib berdasarkan keumuman perintah Nabi ﷺ. Namun yang jelas, meremehkan urusan ini adalah bentuk menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat An-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

"Aku melihat seorang laki-laki yang dadanya menonjol keluar dari barisan shalat. Maka aku melihat Nabi ﷺ bersabda: 'Rapatkanlah barisan kalian atau Allah akan memalingkan wajah-wajah kalian.'"

Dalam riwayat lain, An-Nu'man bin Basyir berkata: "Maka aku melihat seorang laki-laki yang bahunya menonjol keluar dari shaf, dan sungguh aku melihatnya setelah itu shalat dalam keadaan dadanya bengkok (sebagai akibat dari ancaman tersebut)." (HR. Ahmad, dan sanadnya dinilai hasan oleh para ulama)

Kisah ini menunjukkan bahwa ancaman Nabi ﷺ bukanlah sekadar kata-kata kosong. Para sahabat sangat takut jika ancaman tersebut menimpa mereka, sehingga mereka sangat bersungguh-sungguh dalam merapikan barisan.

Kesimpulan Praktis

  1. Luruskan dan rapatkan barisan saat shalat berjamaah, baik sebagai makmum maupun imam.
  2. Rapatkan bahu dan tumit dengan orang di samping, tanpa berlebihan hingga menyakiti.
  3. Jangan biarkan celah kosong di antara barisan, karena setan akan menyelinap di celah tersebut.
  4. Imam hendaknya memeriksa dan merapikan barisan sebelum memulai shalat, sebagaimana dilakukan Nabi ﷺ.
  5. Jadikan kerapian shaf sebagai cermin persatuan umat, karena shalat berjamaah adalah simbol kebersamaan kaum muslimin.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.