Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa ketika dua orang berselisih tentang masjid manakah yang dimaksud dalam ayat "masjid yang didirikan di atas ketaqwaan sejak hari pertama" (QS. At-Taubah [9]: 108), Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa yang dimaksud adalah Masjid Nabawi di Madinah, yaitu masjid beliau sendiri. Hadits ini juga mengajarkan adab dalam berdiskusi dan keutamaan Masjid Nabawi serta Masjid Quba.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an terkait:
QS. At-Taubah [9]: 108
لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
Terjemahan: "Janganlah engkau (Muhammad) berdiri di dalamnya (masjid kaum munafik) selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar ketaqwaan sejak hari pertama lebih berhak engkau berdiri (shalat) di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang suka membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih."
Hadits terkait:
Hadits riwayat An-Nasa'i no. 697, dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, dalam Kitab Masjid, Bab Menyebut Masjid yang Didirikan di Atas Ketaqwaan.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (no. 1398) dengan makna yang sama, dari Abu Sa'id Al-Khudri.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa yang dimaksud "masjid yang didirikan atas ketaqwaan" dalam QS. At-Taubah [9]: 108 adalah Masjid Nabawi, bukan Masjid Quba. Meskipun Masjid Quba juga didirikan atas dasar ketaqwaan, namun konteks ayat lebih mengarah kepada Masjid Nabawi.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang masjid mana yang dimaksud dalam ayat tersebut. Sebagian berpendapat Masjid Quba, sebagian berpendapat Masjid Nabawi. Namun hadits ini menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ sendiri menyatakan bahwa itu adalah masjid beliau (Masjid Nabawi).
- Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Masjid Nabawi, dan hadits Abu Sa'id Al-Khudri ini memperkuat pendapat tersebut.
Penjelasan Rinci
Latar belakang hadits:
Hadits ini berisi kisah dua orang sahabat yang berselisih pendapat tentang masjid manakah yang dimaksud Allah dalam firman-Nya: "Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar ketaqwaan sejak hari pertama..." (QS. At-Taubah [9]: 108).
Satu pihak mengatakan bahwa itu adalah Masjid Quba, karena Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun Rasulullah ﷺ ketika beliau hijrah ke Madinah, dan dibangun atas dasar ketaqwaan sejak hari pertama. Pihak lain mengatakan bahwa itu adalah Masjid Nabawi, karena Masjid Nabawi juga dibangun atas dasar ketaqwaan dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi.
Kemudian Rasulullah ﷺ memberikan jawaban yang tegas: "هُوَ مَسْجِدِي هَذَا" — "Itu adalah masjidku ini," yaitu Masjid Nabawi.
Pemahaman ulama:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Masjid Nabawi. Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama berpendapat bahwa ayat itu mencakup kedua masjid, karena keduanya sama-sama didirikan atas dasar ketaqwaan. Namun pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang ditegaskan oleh Rasulullah ﷺ sendiri, yaitu Masjid Nabawi.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menambahkan bahwa meskipun Masjid Quba juga memiliki keutamaan, namun konteks ayat At-Taubah [9]: 108 adalah tentang Masjid Nabawi. Hal ini karena ayat tersebut turun dalam konteks pembicaraan tentang Masjid Dhirar (masjid yang dibangun kaum munafik untuk memecah belah kaum muslimin), dan Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk tidak shalat di masjid tersebut, melainkan shalat di masjid yang didirikan atas ketaqwaan, yaitu Masjid Nabawi.
Ibn Katsir dalam tafsirnya juga menegaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan Masjid Nabawi, dan beliau menyebutkan hadits Abu Sa'id Al-Khudri ini sebagai dalilnya.
Adab dalam berdiskusi:
Hadits ini juga mengajarkan kepada kita adab dalam berdiskusi. Dua orang sahabat tersebut berselisih pendapat, namun mereka tidak saling mencela atau menghina. Mereka menyampaikan pendapat masing-masing, lalu mengembalikan permasalahan tersebut kepada Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan bahwa dalam menyelesaikan perselisihan, kita harus merujuk kepada sumber yang otoritatif, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah, serta bertanya kepada ahlinya.
Keutamaan Masjid Nabawi:
Hadits ini juga menunjukkan keutamaan Masjid Nabawi. Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai "masjidku" (مَسْجِدِي), yang menunjukkan kedekatan beliau dengan masjid tersebut dan keutamaan shalat di dalamnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain yang shahih, shalat di Masjid Nabawi memiliki keutamaan 1000 kali lipat dibandingkan shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Di antara ulama yang tercantum dalam daftar, terdapat perbedaan pendapat tentang masjid mana yang dimaksud dalam ayat tersebut:
- Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud adalah Masjid Quba, karena Masjid Quba adalah masjid pertama yang didirikan atas dasar ketaqwaan sejak hari pertama hijrah.
- Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud adalah Masjid Nabawi, berdasarkan hadits Abu Sa'id Al-Khudri ini.
- Sebagian ulama berpendapat bahwa ayat tersebut mencakup keduanya, karena kedua masjid tersebut sama-sama didirikan atas dasar ketaqwaan.
Namun, pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang ditegaskan oleh Rasulullah ﷺ sendiri dalam hadits ini, yaitu Masjid Nabawi. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar al-Asqalani, dan Ibn Katsir.
Story Telling
Dikisahkan bahwa pada suatu hari, dua orang sahabat Rasulullah ﷺ sedang duduk di majelis. Mereka kemudian membicarakan tentang ayat Al-Qur'an yang menyebutkan tentang "masjid yang didirikan atas dasar ketaqwaan sejak hari pertama" (QS. At-Taubah [9]: 108).
Salah satu dari mereka berkata, "Aku yakin yang dimaksud adalah Masjid Quba. Bukankah itu masjid pertama yang dibangun Rasulullah ﷺ ketika beliau tiba di Madinah? Dan bukankah itu masjid yang dibangun atas dasar ketaqwaan sejak hari pertama?"
Yang lain menyanggah, "Tidak, aku yakin yang dimaksud adalah Masjid Nabawi. Masjid itu lebih mulia, lebih besar, dan lebih utama. Rasulullah ﷺ sendiri yang membangunnya dan shalat di dalamnya."
Karena keduanya tidak menemukan titik temu, mereka pun pergi menghadap Rasulullah ﷺ untuk bertanya. Setelah mendengar pertanyaan mereka, Rasulullah ﷺ dengan tenang bersabda, "هُوَ مَسْجِدِي هَذَا" — "Itu adalah masjidku ini," sambil menunjuk ke Masjid Nabawi.
Kedua sahabat itu pun menerima jawaban Rasulullah ﷺ dengan lapang dada. Mereka tidak merasa tersinggung atau marah karena pendapatnya tidak diterima. Sebaliknya, mereka bersyukur karena telah mendapatkan penjelasan yang benar dari Rasulullah ﷺ.
Hikmah dari kisah ini:
- Kembalikan perselisihan kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Ketika kita berselisih pendapat, janganlah kita saling mencela atau memaksakan kehendak. Kembalikanlah kepada sumber yang otoritatif, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah, serta bertanya kepada ahlinya.
- Adab dalam berdiskusi. Kedua sahabat tersebut menunjukkan adab yang baik dalam berdiskusi. Mereka menyampaikan pendapat dengan sopan, tidak saling menghina, dan menerima keputusan dengan lapang dada.
- Keutamaan Masjid Nabawi. Hadits ini menegaskan keutamaan Masjid Nabawi sebagai masjid yang didirikan atas dasar ketaqwaan dan memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam.
Kesimpulan Praktis
- Masjid yang didirikan atas dasar ketaqwaan yang dimaksud dalam QS. At-Taubah [9]: 108 adalah Masjid Nabawi, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits ini.
- Masjid Quba juga memiliki keutamaan, karena ia adalah masjid pertama yang dibangun Rasulullah ﷺ dan didirikan atas dasar ketaqwaan. Namun, konteks ayat tersebut lebih mengarah kepada Masjid Nabawi.
- Adab dalam berdiskusi hendaknya kita teladani dari kedua sahabat dalam hadits ini: menyampaikan pendapat dengan sopan, tidak saling mencela, dan mengembalikan perselisihan kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
- Keutamaan Masjid Nabawi hendaknya kita imani dan kita hormati. Shalat di Masjid Nabawi memiliki keutamaan yang sangat besar, yaitu 1000 kali lipat dibandingkan shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram.
- Hindari perdebatan yang tidak bermanfaat. Jika kita menemukan perselisihan dalam masalah agama, hendaklah kita merujuk kepada ulama yang terpercaya dan tidak berlarut-larut dalam perdebatan yang tidak membawa manfaat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.