Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan besar membangun masjid: siapa yang membangun masjid sebagai tempat mengingat Allah, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga. Ini adalah janji agung dari Allah yang menunjukkan mulianya amal membangun sarana ibadah. Amal ini termasuk sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir selama masjid digunakan untuk mengingat Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama — diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Masjid, Bab Keutamaan Membangun Masjid (no. 688), dari sahabat 'Amr bin 'Abasah radhiyallahu 'anhu:
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ بَنَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
"Siapa yang membangun masjid di mana Allah disebut di dalamnya, Allah 'Azza wa Jalla akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan — QS. At-Taubah [9]: 18:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kepada siapa pun selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk."
Hadits pendukung — dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ مِثْلَهُ
"Siapa yang membangun masjid karena Allah, Allah akan membangunkan untuknya yang semisal di surga." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kaitan dengan ulama: Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits-hadits ini menunjukkan keutamaan membangun masjid dan bahwa balasan itu bersifat jaza' min jinsil 'amal (balasan sejenis amal). Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami "yang semisal" secara makna keindahan dan kelayakannya, bukan ukuran fisik. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menegaskan bahwa amal ini termasuk yang pahalanya mengalir terus (sedekah jariyah).
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum. Rasulullah ﷺ menjanjikan kepada siapa saja yang membangun masjid — dengan syarat masjid itu digunakan untuk dzikrullah (mengingat Allah) — bahwa Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga. Kata "يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ" (di mana Allah disebut di dalamnya) bukan sekadar syarat tambahan, tetapi penjelas tujuan utama: masjid dibangun bukan untuk kebanggaan, bukan untuk nama, melainkan agar di dalamnya ditegakkan shalat, dzikir, tilawah, dan ilmu.
Pemahaman para ulama dalam daftar:
- Imam An-Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan membangun masjid, dan balasan "rumah di surga" adalah bentuk karamah dari Allah yang tidak terbatas pada ukuran dunia. Beliau juga menyebutkan bahwa amal ini berlaku umum, baik masjid kecil maupun besar.
- Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kata "مِثْلَهُ" (yang semisal) pada riwayat Al-Bukhari tidak harus dipahami sama persis ukurannya, tetapi semisal dalam keindahan, kelayakan, dan kenikmatan. Beliau juga menukil bahwa sebagian ulama memahami balasan itu sesuai kadar keikhlasan dan manfaat masjid.
- Ibn Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam memasukkan hadits ini dalam bab sedekah jariyah, karena masjid yang digunakan untuk ibadah akan terus mengalirkan pahala bagi pembangunnya meski ia telah wafat.
- Ibn Taymiyyah (wafat 728 H) dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa membangun masjid termasuk masalih 'ammah (kemaslahatan umum) yang paling utama, karena menjadi sarana tegaknya shalat berjamaah dan syiar Islam.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah (wafat 751 H) dalam Ighatsat al-Lahfan menyebutkan bahwa masjid adalah "rumah Allah di bumi" dan membangunnya adalah amal yang mendekatkan diri kepada-Nya, dengan syarat ikhlas dan masjid itu benar-benar difungsikan untuk ibadah.
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: Sebagian ulama (seperti yang dinukil Ibnu Hajar) memahami balasan "rumah di surga" secara hakiki — Allah benar-benar membangun rumah bagi hamba-Nya di surga. Sebagian lain menekankan bahwa itu adalah tamtsil (perumpamaan) untuk menunjukkan besarnya pahala. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat pertama: balasan itu hakiki, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan hadits-hadits shahih lainnya mendukung makna ini secara tegas.
Catatan sanad: Hadits riwayat An-Nasa'i ini melalui jalur 'Amr bin 'Abasah, dan sebagian perawi dalam jalur ini (seperti Baqiyyah bin al-Walid) memiliki catatan dalam ilmu hadits. Namun maknanya diperkuat oleh hadits Abu Hurairah dalam Al-Bukhari dan Muslim yang shahih, sehingga maknanya tetap kuat dan dapat diamalkan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa 'Amr bin 'Abasah radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat yang masuk Islam pada masa awal, bahkan sebelum banyak sahabat besar lainnya. Beliau pernah datang kepada Nabi ﷺ di Makkah dan bertanya tentang Islam, lalu kembali ke kaumnya. Beliau dikenal sebagai sahabat yang zuhud dan banyak meriwayatkan hadits tentang keutamaan amal.
Suatu ketika, para sahabat membangun masjid-masjid kecil di berbagai tempat untuk shalat dan mengajar. Mereka melakukannya dengan sederhana — kadang hanya berupa tanah yang diratakan dan diberi tanda batas. Namun Rasulullah ﷺ memberi kabar gembira bahwa sekecil apa pun masjid itu, selama digunakan untuk mengingat Allah, Allah akan membangunkan rumah di surga bagi pembangunnya. Ini menunjukkan bahwa yang dinilai bukan besar-kecilnya bangunan, melainkan keikhlasan dan manfaatnya untuk ibadah.
Hikmah: Jangan meremehkan amal kecil dalam membangun sarana ibadah. Satu batu yang diletakkan dengan ikhlas bisa menjadi sebab dibangunnya rumah di surga.
Kesimpulan Praktis
- Membangun masjid adalah amal agung yang balasannya langsung dijamin oleh Allah berupa rumah di surga.
- Syarat utamanya adalah ikhlas dan masjid itu benar-benar digunakan untuk mengingat Allah — bukan untuk riya', kebanggaan, atau kepentingan duniawi.
- Amal ini termasuk sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir selama masjid digunakan untuk ibadah, bahkan setelah pembangunnya wafat.
- Tidak harus membangun masjid besar — sekecil apa pun kontribusi kita (tanah, batu, tenaga, atau harta), jika ikhlas, Allah akan membalasnya dengan rumah di surga.
- Dukunglah masjid yang ada dengan membantu pembangunan, perawatan, atau memakmurkannya dengan shalat dan dzikir, karena memakmurkan masjid juga termasuk amal yang disebut dalam QS. At-Taubah [9]: 18.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.