Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan besar bagi orang yang membaca doa setelah mendengar adzan, yaitu doa memohon kepada Allah agar memberikan kepada Nabi Muhammad ﷺ kedudukan wasilah dan fadhilah serta membangkitkannya di maqam mahmud. Bagi yang membacanya dengan iman dan pengharapan, Nabi ﷺ menjanjikan akan mendapat syafaatnya pada hari kiamat. Doa ini dibaca setelah selesai mendengar adzan, dan merupakan bentuk penghormatan serta kecintaan kepada Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
Firman Allah tentang doa dan syafaat serta kedudukan Nabi:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
QS. Al-Isra' [17]: 79
Terjemahan ringkas: "Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat engkau ke tempat yang terpuji (maqam mahmud)."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, dalam Sunan An-Nasa'i no. 680, Kitab Adzan, Bab Doa Ketika Mendengar Adzan. Hadits serupa juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari (no. 614) dari Jabir, dengan lafaz yang semakna, dan dalam Shahih Muslim (no. 384) dari Abdullah bin Amr bin al-Ash dengan tambahan doa "wa arzuqna syafa'atan yaumal qiyamah".
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa doa ini disunnahkan dibaca setelah adzan, dan makna wasilah adalah kedudukan tertinggi di surga yang hanya untuk satu hamba, yaitu Nabi ﷺ.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa maqam mahmud adalah kedudukan syafaat 'uzma (syafaat agung) yang dijanjikan Allah kepada Nabi ﷺ.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya atas QS. Al-Isra' [17]: 79 menjelaskan bahwa maqam mahmud adalah kedudukan yang dijanjikan Allah kepada Nabi ﷺ, dan para ulama menafsirkannya dengan syafaat agung.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan satu amalan ringan namun bernilai sangat besar: membaca doa setelah mendengar adzan. Lafaz doanya:
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ الْمَقَامَ الْمَحْمُودَ الَّذِي وَعَدْتَهُ
"Ya Allah, Tuhan dari panggilan yang sempurna ini dan shalat yang akan didirikan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan fadhilah, dan bangkitkanlah dia di maqam mahmud yang Engkau janjikan."
Makna beberapa istilah penting:
- الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ (ad-da'watit-tammah) — panggilan yang sempurna, yaitu adzan itu sendiri, karena ia mengajak kepada tauhid dan shalat. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa adzan disebut sempurna karena tidak ada panggilan yang lebih sempurna dari padanya dalam menyeru kepada ibadah.
- الْوَسِيلَةَ (al-wasilah) — Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa wasilah adalah kedudukan tertinggi di surga, sebuah derajat yang hanya layak untuk satu hamba Allah, dan beliau berharap hamba itu adalah Nabi Muhammad ﷺ.
- الْفَضِيلَةَ (al-fadhilah) — keutamaan, yaitu derajat yang melebihi seluruh makhluk. Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa fadhilah adalah keutamaan yang diberikan Allah khusus kepada Nabi ﷺ di atas seluruh nabi dan makhluk.
- الْمَقَامَ الْمَحْمُودَ (al-maqam al-mahmud) — tempat yang terpuji. Ibn Katsir dalam tafsir QS. Al-Isra' [17]: 79 menjelaskan bahwa ini adalah kedudukan syafaat agung yang dijanjikan Allah kepada Nabi ﷺ, di mana seluruh makhluk memuji kedudukan beliau.
Waktu membacanya: Menurut Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar, doa ini dibaca setelah selesai mendengar adzan (setelah muadzin mengucapkan lafaz adzan), bukan di tengah-tengah adzan. Hal ini berdasarkan hadits-hadits lain yang memerintahkan membaca shalawat lalu berdoa setelah adzan.
Keutamaan syafaat: Sabda Nabi ﷺ "illa hallat lahu syafa'ati yaumal qiyamah" — "kecuali telah pasti baginya syafaatku pada hari kiamat." Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ini adalah janji yang sangat agung, menunjukkan bahwa doa ini termasuk amalan yang mendatangkan syafaat Nabi ﷺ. Namun para ulama menegaskan bahwa syafaat ini tetap dengan izin Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah [2]: 255 bahwa tidak ada yang memberi syafaat kecuali dengan izin-Nya.
Catatan penting: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menegaskan bahwa doa ini disyariatkan dibaca setelah adzan, dan merupakan bentuk doa yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ, sehingga tidak boleh diubah lafaznya atau ditambah-tambahi.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, adalah salah satu sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dan dikenal sangat menjaga sunnah Nabi ﷺ. Beliau meriwayatkan hadits ini langsung dari Rasulullah ﷺ, menunjukkan betapa beliau memperhatikan amalan-amalan ringan yang bernilai besar. Para sahabat seperti Jabir memahami bahwa adzan bukan sekadar panggilan shalat, tetapi momen doa yang mustajab. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa para salaf sangat bersemangat mengamalkan doa setelah adzan karena janji syafaat yang terkandung di dalamnya. Hikmahnya: amalan yang tampak kecil bisa menjadi sebab datangnya syafaat Nabi ﷺ di hari kiamat, jika dilakukan dengan iman dan pengharapan.
Kesimpulan Praktis
- Bacalah doa ini setiap kali selesai mendengar adzan, baik adzan shalat lima waktu maupun adzan lainnya, dengan penuh pengharapan kepada Allah.
- Pahami maknanya, agar doa tidak sekadar lafaz tanpa hati — kita memohon kepada Allah agar memuliakan Nabi ﷺ dengan kedudukan tertinggi.
- Iringi dengan shalawat sebelum berdoa, sebagaimana diajarkan dalam hadits-hadits lain, karena shalawat adalah pembuka doa yang baik.
- Jangan mengubah lafaz doa yang diajarkan Nabi ﷺ, karena ia adalah doa tauqifiyyah (mengikuti petunjuk Nabi ﷺ).
- Ajarkan kepada keluarga dan anak-anak agar mereka terbiasa mengamalkan sunnah ini sejak kecil.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.