Penjelasan Hadits Nasa'i No. 679 tentang Doa setelah mendengar adzan menghapus dosa

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan besar bagi orang yang mendengar adzan lalu mengucapkan kalimat syahadat dan keridhaan kepada Allah, Islam, dan Nabi Muhammad ﷺ. Bagi yang mengamalkannya dengan ikhlas, dosanya diampuni. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah dan betapa agungnya adzan sebagai panggilan iman.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Adzan, Bab Doa Ketika Mendengar Adzan, dari jalur Qutaibah dari Al-Laits dari Al-Hukaim bin Abdullah dari Amir bin Sa'd dari Sa'd bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah ﷺ.

Teks hadits sebagaimana disebutkan:

<p>مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ</p>

Terjemahan ringkas: "Siapa yang mengucapkan ketika mendengar muadzin: 'Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Muhammad sebagai Rasul, dan Islam sebagai agamaku', maka dosanya diampuni."

Dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan makna syahadat dan keridhaan:

<p>شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ</p>

QS. Ali 'Imran [3]: 18

"Allah menyatakan bahwa tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan. Tidak ada ilah selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana."

Juga firman Allah:

<p>وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ</p>

QS. Luqman [31]: 22

"Dan siapa yang menyerahkan wajahnya kepada Allah sedangkan dia berbuat ihsan, maka sungguh dia telah berpegang pada tali yang sangat kuat. Dan kepada Allah-lah kesudahan segala urusan."

Hadits ini juga sejalan dengan hadits lain tentang doa setelah adzan, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim dari Sa'd bin Abi Waqqas dan riwayat lain tentang keutamaan mengucapkan syahadat saat mendengar adzan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menunjukkan tiga hal pokok:

Pertama: Anjuran mengucapkan syahadat saat mendengar adzan.

Muadzin menyeru dengan kalimat tauhid, maka pendengar dianjurkan menjawab dan mengucapkan kalimat yang sama, bahkan menambahkan pengakuan dan keridhaan. Ini sebagaimana dipahami oleh Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika membahas bab adzan, bahwa menjawab adzan adalah sunnah yang sangat dianjurkan, dan menambahkan kalimat syahadat serta keridhaan termasuk amalan yang memiliki keutamaan khusus.

Kedua: Makna kalimat yang diucapkan.

Kalimat "radhitu billahi Rabban, wa bil-Islami dinan, wa bi Muhammadin Rasula" mengandung pengakuan total terhadap tiga hal: rububiyah Allah, kerasulan Muhammad ﷺ, dan kesempurnaan Islam sebagai agama. Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa keridhaan kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai din, dan Muhammad sebagai Rasul adalah inti kebahagiaan seorang hamba; siapa yang merealisasikannya akan merasakan manisnya iman. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya juga menegaskan bahwa keridhaan (ridha) adalah buah dari ma'rifah (mengenal) dan mahabbah (mencintai), sehingga kalimat ini bukan sekadar lisan, tetapi harus disertai ilmu dan keyakinan hati.

Ketiga: Keutamaan ampunan.

Sabda "ghufira lahu dzanbuhu" (dosanya diampuni) menunjukkan luasnya rahmat Allah. Para ulama seperti Ibnu Hajar dan An-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil, sebagaimana hadits-hadits lain tentang keutamaan amal, karena dosa besar memerlukan taubat khusus. Namun sebagian ulama menyebutkan bahwa ampunan ini bisa mencakup dosa kecil dan menjadi sebab dihapuskannya kesalahan, dengan syarat amal dilakukan dengan ikhlas dan tidak disertai hal yang membatalkan.

Perbedaan pendapat ringkas: Sebagian ulama berbeda dalam menetapkan lafazh persis yang diucapkan saat mendengar adzan — apakah cukup menjawab seperti yang diucapkan muadzin, atau menambahkan kalimat keridhaan. Namun hadits ini secara tegas menganjurkan tambahan tersebut, dan inilah yang dipegang oleh An-Nasa'i dan para ulama hadits dalam bab ini. Yang paling kuat adalah mengamalkan hadits ini sebagaimana zhahirnya, karena tidak ada dalil yang menolaknya.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Sa'd bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu, salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga dan doanya dikabulkan Nabi ﷺ, meriwayatkan hadits ini kepada muridnya Amir bin Sa'd dan Al-Hukaim bin Abdullah. Beliau adalah sahabat yang dikenal sangat menjaga adab dan amal, termasuk dalam hal mendengar adzan. Para salaf seperti Al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin dikenal sangat memperhatikan amalan-amalan ringan yang memiliki keutamaan besar, karena mereka memahami bahwa amal yang tampak kecil di mata manusia bisa menjadi berat di timbangan jika dilakukan dengan ikhlas dan sesuai sunnah. Hikmahnya: jangan meremehkan amal kecil, karena ampunan Allah bisa datang melalui kalimat sederhana yang diucapkan dengan hati yang hadir.

Kesimpulan Praktis

  1. Saat mendengar adzan, jawablah seruan muadzin, lalu ucapkan kalimat syahadat dan keridhaan sebagaimana dalam hadits ini.
  2. Ucapkan dengan hati yang hadir, memahami maknanya, bukan sekadar lisan.
  3. Yakinlah pada luasnya rahmat Allah, namun tetap jauhi dosa besar dan bertaubat dengan sungguh-sungguh.
  4. Ajarkan kalimat ini kepada keluarga dan anak-anak agar terbiasa mengamalkannya.
  5. Jangan meremehkan amal kecil; konsistenlah dalam amalan sunnah yang ringan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?