Penjelasan Hadits Nasa'i No. 676 tentang Mengulangi ucapan muadzin saat mendengar adzan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan sunnah yang ringan namun besar pahalanya: ketika mendengar adzan, kita dianjurkan mengucapkan seperti apa yang diucapkan muadzin, kecuali pada lafaz "hayya 'alash shalah" dan "hayya 'alal falah" yang diganti dengan "laa haula wa laa quwwata illaa billah". Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar berdasarkan hadits-hadits lain yang shahih.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i (no. 676), Kitab Adzan, Bab "Bab Ucapan Seperti yang Diucapkan Muadzin", dari jalur Abu Umamah bin Sahl dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu.

Adapun dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar umum perintah mengingat Allah dan menyambut seruan-Nya:

QS. Al-Ma'idah [5]: 35

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung."

Hadits pendukung yang lebih rinci datang dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ

Terjemahan: "Apabila kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan."

Dan dalam Shahih Muslim, dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, disebutkan bahwa ketika muadzin mengucapkan "hayya 'alash shalah" dan "hayya 'alal falah", kita mengucapkan:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Terjemahan: "Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits Mu'awiyah ini bersifat mujmal (global), lalu dirinci oleh hadits Umar dan Abu Sa'id yang menyebutkan pengecualian pada dua lafaz tersebut.

Penjelasan Rinci

Hadits ini secara zahir memerintahkan kita mengikuti ucapan muadzin secara keseluruhan. Namun para ulama dari daftar yang mu'tabar menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah mengikuti lafaz-lafaz adzan, kecuali pada kalimat seruan "hayya 'alash shalah" dan "hayya 'alal falah".

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa pendapat yang shahih dan dipilih oleh jumhur ulama adalah menjawab adzan dengan mengucapkan seperti ucapan muadzin, dan pada dua kalimat hayya 'alash shalah serta hayya 'alal falah diganti dengan "laa haula wa laa quwwata illaa billah". Ini berdasarkan hadits Umar bin Al-Khaththab dan Mu'awiyah yang keduanya shahih.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil bahwa Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpegang pada hadits Mu'awiyah ini sebagai dalil menjawab adzan dengan lafaz yang sama. Sedangkan Imam Malik bin Anas dalam Al-Muwaththa' juga meriwayatkan atsar yang mendukung hal ini.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitab-kitabnya menegaskan bahwa menjawab adzan termasuk dzikir yang agung, karena ia adalah menyambut seruan tauhid dan seruan kepada shalat. Setiap kalimat adzan mengandung makna tauhid, pengagungan Allah, dan ajakan kepada kebaikan.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Irwa' al-Ghalil dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menilai hadits ini shahih dan menegaskan bahwa menjawab adzan hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan), bukan wajib.

Adapun hikmahnya:

  1. Menyatukan lisan dengan muadzin — sebagai bentuk kesaksian yang sama atas keesaan Allah dan kerasulan Muhammad ﷺ.
  2. Menghadirkan hati — agar hati tidak lalai saat adzan dikumandangkan.
  3. Menambah pahala — karena setiap kalimat yang diucapkan menjadi catatan kebaikan.
  4. Meneladani Nabi ﷺ — beliau sendiri menjawab adzan sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.

Perlu dicatat, setelah selesai menjawab adzan, disunnahkan membaca shalawat kepada Nabi ﷺ, lalu membaca doa yang diajarkan Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَالدَّرَجَةَ الرَّفِيعَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

Terjemahan: "Ya Allah, Tuhan seruan yang sempurna dan shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah, keutamaan, dan derajat yang tinggi, dan bangkitkanlah ia pada kedudukan terpuji yang Engkau janjikan."

Doa ini disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu — seorang sahabat Nabi ﷺ dan penulis wahyu — ketika mendengar adzan, beliau menghentikan aktivitasnya dan menjawab adzan dengan khusyuk. Beliau menyampaikan hadits ini kepada Abu Umamah bin Sahl sebagai bentuk pengajaran langsung dari apa yang beliau saksikan dan dengar dari Rasulullah ﷺ.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah menasihatkan bahwa hati seorang mukmin hendaknya hadir ketika adzan dikumandangkan, karena adzan adalah panggilan dari Allah melalui lisan muadzin. Beliau berkata bahwa orang yang menjawab adzan dengan penuh kesadaran, maka lisannya sedang bersaksi atas tauhid, dan hatinya sedang mengingat Allah.

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah juga dikenal sangat memperhatikan adzan. Beliau pernah berkata bahwa menjawab adzan adalah pintu masuk menuju shalat yang khusyuk, karena siapa yang baik dalam menyambut panggilan, akan baik pula dalam menghadap Allah dalam shalatnya.

Kesimpulan Praktis

  1. Ketika mendengar adzan, hentikan sejenak aktivitas dan jawablah dengan ucapan yang sama seperti muadzin.
  2. Pada lafaz "hayya 'alash shalah" dan "hayya 'alal falah", ucapkanlah "laa haula wa laa quwwata illaa billah".
  3. Setelah selesai menjawab adzan, bacalah shalawat kepada Nabi ﷺ, lalu doa wasilah.
  4. Lakukan dengan khusyuk dan tenang, bukan sekadar mengikuti tanpa menghadirkan hati.
  5. Ajarkan kepada keluarga dan anak-anak agar mereka terbiasa menyambut adzan dengan baik.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?