Penjelasan Hadits Nasa'i No. 651 tentang Sanad lain dari Ibrahim dari Al-Aswad dengan riwayat serupa

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini bukanlah matan (isi) hadits yang berdiri sendiri, melainkan sebuah sanad (jalur periwayatan) lain yang disebutkan Imam An-Nasa'i untuk menguatkan hadits sebelumnya di dalam Kitab Adzan, Bab Akhir Adzan. Redaksi "مِثْلَ ذَلِكَ" (mitsla dzalika) berarti "seperti itu", yaitu semakna dengan hadits yang telah disebutkan sebelumnya. Jadi, faedah utamanya adalah penguatan jalur riwayat, bukan penambahan hukum baru.

Rujukan Ulama & Dalil

Karena hadits ini adalah penguat (mutaba'ah/syahid) dari hadits sebelumnya, maka kita perlu melihat konteks babnya. Bab "Akhir Adzan" berkaitan dengan hadits tentang kapan adzan berakhir, yang umumnya merujuk pada hadits tentang lafaz adzan dan iqamah.

Dalil umum tentang perintah adzan dan lafaznya:

QS. Al-Ma'idah [5]: 58

إِلَىٰ قَوْلِهِ: وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ

"Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk shalat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti."

Hadits terkait lafaz adzan dari sahabat Abu Mahdzurah radhiyallahu 'anhu, diriwayatkan oleh Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih-nya, dan juga oleh An-Nasa'i. Lafaz adzan yang masyhur berjumlah 19 kalimat (dengan tarji' dan tatsniyah), dan iqamah 11 kalimat (dengan ifrad, kecuali qad qamatish shalah).

Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya menyusun bab ini untuk menunjukkan berakhirnya adzan pada lafaz "لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ" (laa ilaaha illallah), sebagaimana dipahami dari hadits-hadits yang beliau bawakan.

Penjelasan Rinci

Hadits nomor 651 ini adalah sanad kedua yang disebutkan Imam An-Nasa'i setelah hadits sebelumnya (nomor 650). Perhatikan redaksinya:

> أَخْبَرَنَا سُوَيْدٌ، قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللَّهِ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ الأَسْوَدِ، مِثْلَ ذَلِكَ

Artinya: "Telah mengabarkan kepada kami Suwaid, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdullah, dari Sufyan, dari Al-A'masy, dari Ibrahim, dari Al-Aswad, seperti itu."

Analisis sanad:

  • Suwaid = Suwaid bin Nashr (guru Imam An-Nasa'i)
  • Abdullah = Abdullah bin al-Mubarak (ulama Tabi'ut Tabi'in yang tercantum dalam daftar rujukan)
  • Sufyan = Sufyan ats-Tsauri (ulama Tabi'ut Tabi'in, juga dalam daftar)
  • Al-A'masy = Sulaiman bin Mihran al-A'masy
  • Ibrahim = Ibrahim an-Nakha'i
  • Al-Aswad = Al-Aswad bin Yazid an-Nakha'i

Jalur ini berbeda dari jalur sebelumnya, namun bertemu pada Al-A'masy. Inilah yang disebut mutaba'ah (penguat), yang menunjukkan bahwa hadits tersebut memiliki lebih dari satu jalur periwayatan, sehingga semakin kuat.

Bagaimana ulama memahami hal ini?

Imam An-Nasa'i rahimahullah (wafat 303 H) dikenal sangat teliti dalam menyusun sanad dan menunjukkan ilal (cacat tersembunyi) hadits. Ketika beliau menyebutkan "مِثْلَ ذَلِكَ" setelah menyebutkan hadits sebelumnya, ini menunjukkan bahwa matan (isi) haditsnya sama, hanya jalurnya berbeda. Ini adalah metode beliau dalam menguatkan riwayat.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah dalam kitab-kitab takhrij beliau sering menjelaskan bahwa hadits-hadits yang memiliki mutaba'ah seperti ini derajatnya menjadi shahih atau lebih kuat, karena saling menguatkan.

Adapun kandungan hukum dari bab "Akhir Adzan", para ulama seperti Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa adzan berakhir pada lafaz tauhid "لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ", dan setelah itu tidak ada lagi lafaz adzan. Ini berdasarkan hadits-hadits shahih tentang lafaz adzan yang berjumlah 19 kalimat.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama seperti dalam madzhab Hanafi (Imam Abu Hanifah) berpendapat lafaz adzan 17 kalimat (tanpa tarji'), sedangkan jumhur (mayoritas: Malik, Syafi'i, Ahmad) berpendapat 19 kalimat dengan tarji'. Namun perbedaan ini tidak terkait langsung dengan hadits 651 ini, karena hadits ini hanya penguat sanad.

Yang paling kuat: Pendapat jumhur, karena didukung hadits-hadits shahih yang lebih banyak dan kuat jalurnya, termasuk yang diperkuat oleh mutaba'ah seperti dalam hadits ini.

Story Telling

Tidak ada kisah khusus yang bisa disebutkan dari hadits ini, karena ia hanya berupa sanad. Namun, kita bisa mengambil hikmah dari ketelitian Imam An-Nasa'i rahimahullah.

Disebutkan bahwa Imam An-Nasa'i sangat teliti dalam meriwayatkan hadits. Beliau tidak hanya menyebutkan satu jalur, tetapi berusaha menyebutkan jalur-jalur lain yang menguatkan. Ini menunjukkan amanah ilmiah yang tinggi. Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah pernah berkata:

> "الإسناد من الدين، ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء"

"Sanad adalah bagian dari agama. Kalau bukan karena sanad, siapa pun bisa berkata apa saja yang ia kehendaki."

(Hikmah ini disebutkan oleh Abdullah bin al-Mubarak, sebagaimana dinukil oleh Imam Muslim dalam muqaddimah Shahih-nya.)

Kesimpulan Praktis

  1. Hadits ini adalah penguat sanad, bukan matan baru. Ia menunjukkan bahwa riwayat tentang akhir adzan memiliki jalur yang saling menguatkan.
  2. Adzan berakhir pada lafaz tauhid "لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ", sebagaimana dipahami dari bab dan hadits-hadits terkait.
  3. Ketelitian dalam sanad adalah bagian dari menjaga agama. Kita diajarkan untuk tidak menerima riwayat tanpa dasar.
  4. Bagi orang awam, cukup memahami bahwa adzan yang kita dengar sehari-hari memiliki dasar yang kuat dari sunnah Nabi ﷺ, dan lafaznya telah dijelaskan oleh para ulama.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?