Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa rangkaian lafaz adzan ditutup dengan kalimat tauhid, yaitu "Lā ilāha illallāh" setelah takbir "Allāhu Akbar, Allāhu Akbar". Ini menunjukkan bahwa adzan dimulai dan diakhiri dengan pengagungan kepada Allah serta penegasan keesaan-Nya. Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu, muadzin Nabi ﷺ, secara langsung menyampaikan hal ini.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Adzan, Bab Akhir Adzan, nomor 649. Sanadnya: Muhammad bin Ma'dan bin Isa → Al-Hasan bin A'yan → Zuhair → Al-A'masy → Ibrahim (An-Nakha'i) → Al-Aswad (bin Yazid) → Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits:
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْدَانَ بْنِ عِيسَى، قَالَ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَعْيَنَ، قَالَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ، قَالَ حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ الأَسْوَدِ، عَنْ بِلاَلٍ، قَالَ آخِرُ الأَذَانِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
Terjemahan: "Dari Al-Aswad, dari Bilal, ia berkata: 'Akhir adzan adalah: Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Lā ilāha illallāh.'"
Dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan kalimat tauhid ini adalah firman Allah:
وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ
QS. Al-Baqarah [2]: 163
"Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang."
Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kalimat tauhid adalah inti dakwah para nabi dan menjadi penutup yang tepat untuk seruan shalat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini secara khusus menjelaskan lafaz terakhir dalam adzan. Menurut Imam An-Nasa'i yang menyusunnya dalam bab "Akhir Adzan", hadits ini menjadi dalil bahwa setelah rangkaian takbir, syahadat, dan hayya 'alal-falah, adzan ditutup dengan "Lā ilāha illallāh".
Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu adalah muadzin utama Rasulullah ﷺ. Pernyataan beliau "آخِرُ الأَذَانِ" (akhir adzan) menunjukkan bahwa beliau menyaksikan dan mempraktikkan langsung adzan di masa Nabi ﷺ. Ini adalah bentuk riwayat sahabat yang bersifat marfū' hukman (dianggap marfu' kepada Nabi ﷺ karena berkaitan dengan ibadah yang tidak mungkin diijtihadkan).
Imam An-Nawawi dalam kitab-kitab syarahnya menjelaskan bahwa adzan memiliki dua bentuk penutup yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih:
- Ditutup dengan "Lā ilāha illallāh" — sebagaimana hadits Bilal ini.
- Ditutup dengan "Lā ilāha illallāh" setelah takbir, sebagaimana dalam riwayat lain.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa jumhur ulama dari kalangan Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal sepakat bahwa lafaz terakhir adzan adalah "Lā ilāha illallāh". Ini menunjukkan kesepakatan (ijma') praktis di antara madzhab yang empat.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan hikmah ditutupnya adzan dengan kalimat tauhid: karena adzan adalah seruan menuju ibadah, maka ditutup dengan penegasan bahwa ibadah hanya untuk Allah semata. Kalimat tauhid adalah kalimat yang paling berat di timbangan dan merupakan kunci masuk Islam.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa "Lā ilāha illallāh" mengandung dua rukun: peniadaan (nafyu) segala sesembahan selain Allah, dan penetapan (itsbat) bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Inilah makna yang tepat sebagai penutup adzan.
Adapun perbedaan kecil dalam riwayat tentang jumlah takbir di akhir adzan, para ulama seperti Imam An-Nasa'i dan Abu Dawud meriwayatkan beberapa variasi, namun semuanya sepakat bahwa kalimat terakhir adalah "Lā ilāha illallāh". Syaikh al-Albani dalam Irwa' al-Ghalil menilai hadits ini shahih dan menjadi dalil kuat untuk amalan tersebut.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat dari Habasyah yang pernah disiksa di jalan Allah, adalah orang yang dipilih Nabi ﷺ untuk mengumandangkan adzan. Suatu ketika setelah Nabi ﷺ wafat, Bilal merasa berat untuk tetap mengumandangkan adzan karena rindu kepada Rasulullah ﷺ. Ketika ia adzan untuk terakhir kalinya dan sampai pada kalimat "Lā ilāha illallāh", ia tidak mampu menahan tangisnya.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah menyebutkan bahwa Bilal pernah berkata, "Aku tidak akan adzan lagi setelah Rasulullah ﷺ." Namun ketika Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu memintanya adzan di Syam, ia pun adzan, dan seluruh penduduk menangis mendengarnya. Ini menunjukkan betapa kalimat tauhid dalam adzan memiliki tempat istimewa di hati para sahabat.
Hikmahnya: adzan bukan sekadar panggilan shalat, tetapi pengumuman tauhid yang menggema di langit dan bumi, dimulai dengan takbir dan ditutup dengan kalimat keesaan Allah.
Kesimpulan Praktis
- Lafaz terakhir adzan adalah "Lā ilāha illallāh" — ini adalah pendapat jumhur ulama dan didukung hadits Bilal radhiyallahu 'anhu.
- Muadzin hendaknya menutup adzan dengan kalimat tauhid sesuai sunnah yang dipraktikkan di masa Nabi ﷺ.
- Mendengarkan adzan hingga selesai dan menjawabnya adalah sunnah; ketika sampai pada "Lā ilāha illallāh", kita menjawab dengan kalimat yang sama.
- Renungkan makna tauhid dalam adzan: setiap hari kita diingatkan bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.
- Jangan menambah atau mengurangi lafaz adzan dari yang diajarkan Nabi ﷺ dan dipraktikkan para sahabat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.