Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa dalam adzan Subuh terdapat kalimat tambahan "الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ" (shalat lebih baik daripada tidur), yang disebut tathwîb. Kalimat ini diucapkan setelah "hayya 'alal falâh" pada adzan Subuh. Para ulama menjelaskan bahwa tathwîb adalah sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ, dan merupakan bentuk penekanan agar orang bangun dari tidur menuju shalat.
Rujukan Ulama & Dalil
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan adzan dan seruan shalat:
QS. Al-Mā'idah [5]: 58
وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهُ هُزُوًا وَلَعِبًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ
Terjemahan: "Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka orang-orang yang tidak mengerti."
Ayat ini menunjukkan bahwa menyeru kepada shalat (adzan) adalah syiar yang dikenal sejak awal Islam, dan orang-orang beriman menyambutnya, bukan memperoloknya.
Dalil Hadits:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Abu Mahdzurah radhiyallahu 'anhu, dalam Sunan An-Nasa'i no. 647, Kitab Adzan, Bab Tathwib dalam Adzan Subuh.
Selain itu, hadits serupa juga diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Mahdzurah, bahwa Nabi ﷺ mengajarkan adzan kepadanya, dan di dalamnya terdapat kalimat:
الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ
"Shalat lebih baik daripada tidur."
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam al-Majmû' dan Syarh Shahîh Muslim menjelaskan bahwa tathwîb (mengucapkan "ash-shalâtu khairun minan-naum") adalah sunnah dalam adzan Subuh, dan disepakati oleh mayoritas ulama.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bârî menyebutkan bahwa kalimat ini diucapkan dua kali, setelah "hayya 'alal falâh", sebagai penekanan.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zâd al-Ma'âd menjelaskan bahwa tathwîb adalah kekhususan adzan Subuh, karena waktu itu orang sedang tidur, sehingga perlu penekanan.
Penjelasan Rinci
Makna hadits:
Abu Mahdzurah radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa ia mengumandangkan adzan untuk Rasulullah ﷺ. Dalam adzan Subuh, setelah mengucapkan "hayya 'alal falâh" (marilah menuju keberuntungan), ia mengucapkan:
الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ
"Shalat lebih baik daripada tidur" — dua kali.
Kemudian dilanjutkan dengan takbir "Allahu Akbar Allahu Akbar" dan tahlil "La ilaha illallah".
Istilah tathwîb:
Kata tathwîb secara bahasa berarti "mengulang-ulang" atau "menyeru dengan suara keras". Dalam istilah syariat, tathwîb adalah mengucapkan "ash-shalâtu khairun minan-naum" dalam adzan Subuh. Dinamakan tathwîb karena muadzin mengulanginya dua kali untuk menegaskan.
Pandangan ulama dalam daftar:
- Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam al-Majmû' Syarh al-Muhadzdzab menyatakan: "Disunnahkan tathwîb dalam adzan Subuh, yaitu mengucapkan 'ash-shalâtu khairun minan-naum' dua kali setelah 'hayya 'alal falâh'. Ini adalah pendapat jumhur ulama."
- Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bârî menjelaskan bahwa hadits Abu Mahdzurah ini menjadi dalil disyariatkannya tathwîb, dan bahwa kalimat tersebut diucapkan dua kali berdasarkan riwayat yang shahih.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H) dalam Zâd al-Ma'âd fî Hadyi Khair al-'Ibâd menyebutkan bahwa tathwîb adalah bagian dari adzan Subuh yang diajarkan Nabi ﷺ, dan hikmahnya adalah karena waktu Subuh orang sedang tidur, sehingga perlu penekanan bahwa shalat lebih baik daripada tidur.
- Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Mumti' menjelaskan bahwa tathwîb diucapkan setelah "hayya 'alal falâh" pada adzan Subuh, dan hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan).
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama berbeda pendapat tentang jumlah pengulangan tathwîb. Dalam hadits Abu Mahdzurah ini disebutkan dua kali. Namun ada riwayat lain yang menyebutkan satu kali. Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menguatkan bahwa yang paling shahih adalah dua kali, berdasarkan hadits Abu Mahdzurah yang shahih.
Catatan penting:
Hadits ini menyebutkan "adzan pertama Subuh" (الأَوَّلِ). Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah adzan Subuh yang dikumandangkan setelah masuk waktu fajar, bukan adzan sebelum fajar (adzan pertama untuk qiyamul lail). Ibnu Hajar dalam Fath al-Bârî menjelaskan bahwa tathwîb hanya ada pada adzan Subuh yang kedua (adzan untuk shalat Subuh), bukan pada adzan pertama (adzan sebelum fajar).
Story Telling
Dikisahkan bahwa Abu Mahdzurah radhiyallahu 'anhu adalah seorang muadzin Nabi ﷺ yang suaranya indah. Pada suatu hari, ketika Nabi ﷺ kembali dari perang Hunain, Abu Mahdzurah dan beberapa pemuda sedang berada di jalan. Nabi ﷺ memerintahkan mereka untuk mengumandangkan adzan. Abu Mahdzurah mengumandangkan adzan, dan Nabi ﷺ mengajarinya adzan secara langsung, termasuk tathwîb dalam adzan Subuh.
Dalam riwayat Shahih Muslim, Nabi ﷺ mengusap ubun-ubun Abu Mahdzurah dan mendoakannya, lalu mengajarkan kepadanya adzan. Abu Mahdzurah kemudian menjadi muadzin tetap di Masjidil Haram hingga akhir hayatnya. Ia meriwayatkan adzan Nabi ﷺ kepada generasi setelahnya, termasuk kalimat tathwîb ini.
Hikmah: Seorang muadzin adalah orang yang menyeru manusia kepada kebaikan. Nabi ﷺ mengajarkan adzan secara langsung kepada Abu Mahdzurah, menunjukkan betapa pentingnya adzan dan tathwîb sebagai syiar Islam. Kalimat "shalat lebih baik daripada tidur" adalah pengingat lembut bagi orang yang masih terlelap, bahwa ada yang lebih berharga daripada tidur, yaitu menghadap Allah.
Kesimpulan Praktis
- Tathwîb adalah sunnah dalam adzan Subuh, yaitu mengucapkan "ash-shalâtu khairun minan-naum" setelah "hayya 'alal falâh".
- Diucapkan dua kali berdasarkan hadits Abu Mahdzurah yang shahih, sebagaimana dijelaskan Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar.
- Hanya pada adzan Subuh, bukan pada adzan shalat lainnya.
- Hikmahnya adalah penekanan agar orang bangun dari tidur dan menyambut shalat Subuh.
- Bagi muadzin, hendaklah mengucapkannya dengan suara yang jelas dan penuh semangat, karena ini adalah seruan iman di waktu orang sedang tidur.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.