Penjelasan Hadits Nasa'i No. 645 tentang Keutamaan muadzin dan doa ampunan bagi suaranya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan keutamaan besar bagi muadzin (orang yang mengumandangkan adzan): dosanya diampuni sejauh jangkauan suaranya, dan seluruh makhluk—yang basah maupun kering—akan menjadi saksi kebaikan baginya pada hari kiamat. Ini menunjukkan bahwa mengangkat suara dalam adzan bukan sekadar teknik, tetapi ibadah yang mendatangkan ampunan dan syafaat kesaksian dari seluruh alam. Karena itu para ulama menganjurkan muadzin mengeraskan suaranya dan menghadirkan niat ikhlas.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Adzan, Bab Mengangkat Suara dalam Adzan (no. 645), dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, yang beliau dengar langsung dari lisan Rasulullah ﷺ.

Teks hadits:

الْمُؤَذِّنُ يُغْفَرُ لَهُ بِمَدِّ صَوْتِهِ وَيَشْهَدُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ

Terjemahan: "Muadzin akan diampuni (dosanya) sejauh jangkauan suaranya, dan setiap yang basah dan kering akan bersaksi untuknya."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan syahadat (kesaksian) seluruh makhluk, di antaranya firman Allah:

وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ

QS. Fushshilat [41]: 21

Terjemahan: "Dan mereka berkata kepada kulit mereka: 'Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?' Kulit mereka menjawab: 'Allah yang menjadikan segala sesuatu dapat berbicara, Dialah yang menjadikan kami dapat berbicara.'"

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mampu menjadikan segala sesuatu—termasuk benda mati—bersaksi. Inilah dasar dipahaminya hadits di atas secara hakiki, bukan kiasan semata.

Keterkaitan dengan ulama: Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membahas keutamaan muadzin dan ampunan bagi mereka. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa ampunan ini khusus bagi muadzin yang ikhlas dan mengharap pahala Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama: Ampunan sejauh jangkauan suara.

Maknanya, setiap jengkal suara muadzin yang sampai ke telinga makhluk menjadi sebab diampuninya dosa-dosanya. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ini adalah keutamaan khusus bagi muadzin, dan menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah bagi orang yang menegakkan syiar adzan. Imam an-Nawawi menambahkan bahwa ampunan ini mencakup dosa-dosa kecil, karena dosa besar memerlukan taubat khusus—sebagaimana kaidah yang beliau sebutkan dalam Syarh Muslim.

Kedua: Kesaksian seluruh yang basah dan kering.

Yang dimaksud "rathb" (basah) dan "yabis" (kering) adalah seluruh makhluk: manusia, jin, hewan, tumbuhan, bahkan benda mati. Mereka semua akan menjadi saksi kebaikan muadzin di hari kiamat. Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa seluruh makhluk akan berbicara pada hari kiamat dengan izin Allah, sebagaimana ayat di atas. Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa kesaksian ini adalah bentuk pemuliaan Allah kepada muadzin, karena ia telah menyeru manusia kepada tauhid dan shalat.

Ketiga: Anjuran mengangkat suara.

Bab yang dipilih An-Nasa'i—"Bab Mengangkat Suara dalam Adzan"—menunjukkan bahwa mengeraskan suara adalah bagian dari sunnah. Sufyan ats-Tsauri dan Abdullah bin al-Mubarak menyebutkan bahwa adzan yang dikumandangkan dengan suara lantang lebih mencapai tujuan syiar. Namun, Imam Ahmad bin Hanbal mengingatkan agar tidak berlebihan hingga mengganggu atau melampaui batas kesopanan.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama seperti Al-Awza'i berpendapat bahwa ampunan ini berlaku umum bagi setiap muadzin, sedangkan Fudail bin 'Iyadh menekankan syarat ikhlas. Pendapat yang paling kuat—sebagaimana ditegaskan Ibnu Rajab al-Hanbali—adalah bahwa keutamaan ini berlaku bagi muadzin yang ikhlas dan mengikuti sunnah, karena amal tanpa ikhlas tidak bernilai di sisi Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu—sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits—sangat bersemangat menyampaikan hadits ini. Beliau pernah berkata bahwa beliau mendengar langsung dari lisan Rasulullah ﷺ, bukan melalui perantara, sehingga hadits ini memiliki kedudukan kuat. Para salaf seperti Al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin dikenal sangat memuliakan para muadzin. Al-Hasan al-Bashri pernah mengatakan bahwa muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya di hari kiamat—yakni paling tinggi derajatnya—karena ia telah menyeru manusia kepada Allah. Hikmahnya: jangan remehkan peran muadzin, karena suaranya menjadi saksi kebaikan bagi seluruh alam.

Kesimpulan Praktis

  1. Bagi muadzin: keraskan suara adzan dengan niat ikhlas mengharap ampunan Allah.
  2. Bagi yang mendengar adzan: jawablah dengan mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin, karena ini sunnah yang mendatangkan pahala.
  3. Jangan meremehkan profesi muadzin—ia memiliki kedudukan mulia di sisi Allah.
  4. Perbanyak doa agar Allah menjadikan kita termasuk orang yang menegakkan syiar-Nya dengan ikhlas.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?