Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa ketika Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu mengumandangkan adzan di hadapan Nabi ﷺ, beliau memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri saat mengucapkan kalimat adzan. Ini menunjukkan bahwa menoleh (iltifat) dalam adzan adalah sunnah yang dipraktikkan langsung oleh muadzin Nabi ﷺ. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, dan para ulama seperti Imam An-Nawawi serta Ibnu Hajar menjelaskan bahwa gerakan ini dilakukan pada kalimat "hayya 'alash shalah" dan "hayya 'alal falah".
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Adzan, Bab Kaifiyyah Adzanil Muadzdzin (Bab Bagaimana Muadzin Melakukan Adzan), nomor 643. Sanadnya: Mahmud bin Ghailan ← Waki' bin al-Jarrah ← Sufyan ats-Tsauri ← 'Aun bin Abi Juhaifah ← dari ayahnya (Abu Juhaifah Wahb bin 'Abdillah as-Suwa'i radhiyallahu 'anhu).
Teks hadits:
أَخْبَرَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ، قَالَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ فَخَرَجَ بِلَالٌ فَأَذَّنَ فَجَعَلَ يَقُولُ فِي أَذَانِهِ هَكَذَا يَنْحَرِفُ يَمِينًا وَشِمَالًا
Terjemahan: "Telah memberitakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, ia berkata: Waki' telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan telah menceritakan kepada kami, dari 'Aun bin Abi Juhaifah, dari ayahnya, ia berkata: 'Saya datang kepada Nabi ﷺ, lalu Bilal keluar dan mengumandangkan adzan, dan ia mulai melakukan seperti ini dalam adzannya — berpaling ke kanan dan ke kiri.'"
Dalil pendukung dari Al-Qur'an tentang seruan adzan dan keutamaan muadzin:
QS. Al-Ma'idah [5]: 58
وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ
Terjemahan: "Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk shalat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti."
Ayat ini menunjukkan bahwa adzan adalah seruan yang dikenal dalam syariat, dan orang-orang munafik serta ahli kitab mengejeknya — yang justru menunjukkan kedudukannya yang agung.
Hadits terkait dari kitab shahih lain — Shahih Muslim, dari Abu Juhaifah radhiyallahu 'anhu, bahwa ia melihat Bilal mengumandangkan adzan dan memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri pada kalimat "hayya 'alash shalah" dan "hayya 'alal falah". Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan Imam Abu Dawud dengan makna serupa.
Penjelasan Rinci
Hadits ini merupakan dalil yang jelas tentang disyariatkannya menoleh (iltifat) dalam adzan. Para ulama yang tercantum dalam rujukan kami menjelaskannya sebagai berikut:
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Al-Majmu' menjelaskan bahwa disunnahkan bagi muadzin untuk memalingkan wajahnya ke kanan ketika mengucapkan "hayya 'alash shalah" dan ke kiri ketika mengucapkan "hayya 'alal falah". Ini adalah pendapat yang disepakati oleh mayoritas ulama dari kalangan mazhab Syafi'i, Hanafi, Maliki, dan Hanbali.
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hikmah dari menoleh ini adalah agar seruan adzan terdengar ke arah kanan dan kiri, sehingga lebih banyak orang yang mendengar panggilan shalat. Beliau juga menegaskan bahwa gerakan ini bukanlah gerakan yang berlebihan, melainkan gerakan ringan yang sesuai dengan tujuan adzan itu sendiri, yaitu memanggil manusia untuk shalat.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berpendapat bahwa menoleh dalam adzan adalah sunnah, dan beliau mengamalkannya. Demikian pula Ishaq bin Rahuyah yang menegaskan hal serupa.
Adapun cara melakukannya: muadzin tetap menghadap kiblat dengan tubuhnya, lalu memalingkan wajahnya (bukan seluruh badannya) ke kanan saat mengucapkan "hayya 'alash shalah" dan ke kiri saat mengucapkan "hayya 'alal falah". Ini sebagaimana dijelaskan oleh Sufyan ats-Tsauri dan Waki' bin al-Jarrah dalam riwayat-riwayat mereka.
Perlu dicatat bahwa hadits ini tidak menunjukkan bahwa muadzin harus berputar seluruh badannya, melainkan hanya memalingkan wajahnya. Ini adalah pemahaman yang dipegang oleh jumhur ulama dari daftar rujukan kami.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Abu Juhaifah Wahb bin 'Abdillah radhiyallahu 'anhu — seorang sahabat Nabi ﷺ — datang menemui Nabi ﷺ untuk suatu keperluan. Ketika itu, Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu keluar untuk mengumandangkan adzan. Abu Juhaifah memperhatikan dengan seksama gerakan Bilal, dan ia melihat bahwa Bilal memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri saat mengucapkan seruan adzan. Abu Juhaifah kemudian menceritakan apa yang dilihatnya ini kepada murid-muridnya, sehingga sampai kepada kita melalui jalur 'Aun bin Abi Juhaifah dari ayahnya.
Kisah ini menunjukkan betapa para sahabat sangat memperhatikan detail ibadah Nabi ﷺ dan para pelaksana ibadah di zaman beliau, lalu menyampaikannya dengan amanah kepada generasi berikutnya. Inilah salah satu sebab terpeliharanya sunnah Nabi ﷺ hingga hari ini.
Kesimpulan Praktis
- Menoleh dalam adzan adalah sunnah — muadzin memalingkan wajahnya ke kanan saat "hayya 'alash shalah" dan ke kiri saat "hayya 'alal falah".
- Tubuh tetap menghadap kiblat, hanya wajah yang dipalingkan, bukan seluruh badan.
- Hikmahnya adalah agar seruan adzan terdengar lebih luas ke arah kanan dan kiri.
- Bagi yang mendengar adzan, tetap menjawab seruan muadzin sebagaimana diajarkan dalam hadits-hadits shahih lainnya.
- Bagi muadzin, hendaknya mengamalkan sunnah ini dengan niat mengikuti petunjuk Nabi ﷺ dan para sahabatnya, tanpa berlebihan atau menambah-nambah gerakan yang tidak dicontohkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.