Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa pada zaman Nabi ﷺ ada dua adzan di waktu Subuh. Adzan pertama dikumandangkan oleh Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu di malam hari, dan adzan kedua oleh Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu 'anhu. Adzan Bilal menjadi penanda bahwa waktu sahur masih tersisa, sedangkan adzan Ibnu Ummi Maktum menjadi penanda masuknya waktu Subuh dan dimulainya puasa. Maka, umat Islam diperbolehkan makan dan minum di antara dua adzan tersebut.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam An-Nasa'i:
Teks Arab hadits di atas sudah Anda cantumkan. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari jalur lain, dengan lafaz yang semakna.
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
"Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar." (QS. Al-Baqarah [2]: 187)
Ayat ini menjelaskan batas waktu sahur, yaitu sampai terbit fajar shadiq (fajar yang sebenarnya). Adzan Ibnu Ummi Maktum adalah penanda masuknya fajar tersebut.
Penjelasan Ulama:
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hikmah adzan Bilal di malam hari adalah untuk membangunkan orang yang tidur dan mengingatkan orang yang ingin sahur agar segera makan. Sedangkan adzan Ibnu Ummi Maktum adalah penanda masuknya waktu Subuh.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa pada masa Nabi ﷺ, Bilal bin Rabah mengumandangkan adzan pertama sebelum masuk waktu Subuh. Adzan ini bertujuan:
- Membangunkan orang yang masih tidur agar bersiap untuk shalat Subuh.
- Mengingatkan orang yang ingin sahur agar segera makan sebelum waktu Subuh tiba.
Kemudian, Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu 'anhu mengumandangkan adzan kedua ketika fajar shadiq telah terbit. Adzan inilah yang menjadi penanda resmi masuknya waktu Subuh dan dimulainya puasa.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa jarak antara dua adzan ini cukup lama, sehingga orang yang sahur masih memiliki waktu luang. Bahkan disebutkan dalam riwayat lain bahwa jaraknya adalah waktu turunnya Bilal dan naiknya Ibnu Ummi Maktum.
Pelajaran penting dari hadits ini:
- Bolehnya adzan sebelum masuk waktu untuk keperluan tertentu, seperti membangunkan orang tidur dan mengingatkan sahur. Ini adalah kekhususan yang dipraktikkan di zaman Nabi ﷺ.
- Adzan yang sah dan dianggap sebagai penanda masuk waktu adalah adzan yang dikumandangkan setelah masuk waktu, yaitu adzan Ibnu Ummi Maktum.
- Sahur adalah sunnah yang dianjurkan, dan hadits ini menunjukkan perhatian syariat agar umat Islam tidak meninggalkan sahur.
- Perbedaan antara dua adzan ini mengajarkan kita untuk teliti dalam menentukan waktu imsak dan waktu Subuh.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa sebagian orang salah paham dengan menghentikan makan saat adzan pertama (adzan Bilal). Padahal Nabi ﷺ justru memerintahkan untuk terus makan dan minum sampai adzan kedua. Maka, yang menjadi patokan adalah terbitnya fajar, bukan adzan pertama.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat yang buta. Namun, Allah memberinya kehormatan menjadi muadzin di masjid Nabawi bersama Bilal bin Rabah. Beliau adalah orang yang sangat teliti dan tidak akan mengumandangkan adzan kecuali setelah yakin fajar telah terbit.
Suatu ketika, ada seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang waktu sahur. Maka Nabi ﷺ bersabda:
"فَصَلِّ مَا بَيْنَ أَذَانِ بِلَالٍ وَأَذَانِ ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ"
"Shalatlah (atau beristirahatlah) di antara adzan Bilal dan adzan Ibnu Ummi Maktum." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hikmah dari kisah ini: Betapa indahnya ukhuwah Islamiyah antara Bilal yang mengumandangkan adzan malam dan Ibnu Ummi Maktum yang mengumandangkan adzan Subuh. Keduanya bekerja sama untuk kemaslahatan umat, meskipun salah satunya buta. Ini mengajarkan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk berkhidmat kepada agama Allah.
Kesimpulan Praktis
- Jangan berhenti sahur hanya karena mendengar adzan pertama (adzan Bilal atau adzan imsak di zaman sekarang). Yang menjadi patokan adalah terbitnya fajar shadiq.
- Bersungguh-sungguhlah dalam sahur, karena di dalamnya terdapat keberkahan sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
- Telitilah waktu Subuh dengan mengetahui jadwal yang akurat, agar ibadah puasa dan shalat kita sesuai dengan tuntunan syariat.
- Ambil pelajaran dari kerjasama para sahabat dalam urusan agama, bahwa setiap orang bisa berkontribusi sesuai kemampuannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.