Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 631 tentang Cara adzan yang diajarkan Rasulullah kepada Abu Mahdhurah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah dalil utama tentang tata cara adzan yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ kepada Abu Mahdzurah radhiyallahu 'anhu. Dalam riwayat ini, adzan dimulai dengan empat kali takbir (Allahu Akbar), lalu dua kali syahadatain, kemudian diulang kembali dua kali syahadatain, lalu dua kali hayya 'alash-shalah, dua kali hayya 'alal-falah, dua kali takbir, dan ditutup dengan satu kali kalimat tauhid (la ilaha illallah). Ini menunjukkan bahwa adzan memiliki lafazh yang tetap dan diajarkan oleh Nabi ﷺ, bukan dibuat-buat oleh para sahabat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat An-Nasa'i:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Adzan, Bab Cara Adzan, no. 631, dari Abu Mahdzurah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 379) dan Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 499) dengan redaksi yang serupa.

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjadikan hadits ini sebagai salah satu dalil tentang lafazh adzan. Di antaranya:

  • Imam Asy-Syafi'i dalam kitab Al-Umm menjelaskan bahwa adzan yang diajarkan kepada Abu Mahdzurah ini adalah salah satu bentuk adzan yang sah, dan beliau menyebutkan bahwa adzan versi Abu Mahdzurah ini dipilih oleh sebagian ulama karena langsung diajarkan Nabi ﷺ kepadanya.
  • Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zaad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan adzan kepada beberapa sahabat dengan lafazh yang sedikit berbeda, dan semua itu sah serta menunjukkan keluasan syariat.
  • Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Irwa' al-Ghalil (no. 209) menilai hadits ini shahih dan menjelaskan bahwa lafazh adzan Abu Mahdzurah ini adalah salah satu bentuk adzan yang masyhur dan diamalkan.

Catatan Penting:

Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits Abdullah bin Zaid atau Bilal bin Rabah tentang adzan. Perbedaan lafazh ini adalah tanawwu' (variasi) yang dibenarkan syariat, dan para ulama memilih salah satunya berdasarkan dalil dan konteks.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa adzan disyariatkan pada tahun pertama Hijriyah di Madinah. Ada beberapa riwayat tentang siapa yang pertama kali bermimpi tentang lafazh adzan, seperti Abdullah bin Zaid dan Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhuma. Namun, hadits Abu Mahdzurah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sendiri yang mengajarkan lafazh adzan secara langsung kepada beliau.

Poin-poin penting dari hadits ini:

  1. Takbir empat kali di awal: Dalam riwayat ini, Nabi ﷺ mengajarkan "Allahu Akbar" sebanyak empat kali di awal adzan. Ini berbeda dengan riwayat Bilal yang dua kali. Keduanya sah, dan para ulama membolehkan salah satunya.
  2. Syahadatain dua kali: Lafazh "Asyhadu an la ilaha illallah" dan "Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah" masing-masing dua kali di awal, kemudian diulang lagi dua kali setelahnya. Ini adalah bentuk tarji' (pengulangan) yang diajarkan Nabi ﷺ.
  3. Hayya 'alash-shalah dan hayya 'alal-falah masing-masing dua kali: Ini sama dengan riwayat Bilal dan disepakati oleh para ulama.
  4. Takbir dua kali di akhir: Setelah hayya 'alal-falah, diucapkan "Allahu Akbar" dua kali, lalu ditutup dengan "La ilaha illallah" satu kali.

Pandangan Ulama tentang Lafazh Adzan:

  • Imam Asy-Syafi'i berpendapat bahwa lafazh adzan yang paling utama adalah yang diriwayatkan dari Abu Mahdzurah, yaitu dengan tarji' (mengulang syahadatain) dan empat takbir di awal. Ini adalah pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafi'i.
  • Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Abu Hanifah lebih memilih lafazh adzan Bilal bin Rabah yang tanpa tarji', yaitu dua takbir di awal, dua syahadatain, dua hayya, dua takbir, dan satu tauhid. Namun, mereka tetap menganggap adzan versi Abu Mahdzurah sah.
  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa semua lafazh adzan yang diajarkan Nabi ﷺ adalah sah, dan tidak ada satu pun yang wajib secara mutlak. Yang penting adalah makna dan tujuannya, yaitu mengumandangkan panggilan shalat dengan lafazh yang mengandung tauhid dan syahadat.

Hikmah di balik perbedaan ini:

Perbedaan lafazh adzan menunjukkan bahwa syariat Islam memberikan kelonggaran dalam hal-hal yang bersifat ta'abbudi (ibadah) selama tetap dalam koridor yang diajarkan Nabi ﷺ. Ini juga menunjukkan bahwa para sahabat sangat teliti dalam meriwayatkan sunnah, sehingga kita mendapatkan beberapa versi yang semuanya bersumber dari Nabi ﷺ.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abu Mahdzurah radhiyallahu 'anhu adalah seorang pemuda Quraisy yang pada awalnya mengejek suara adzan Bilal. Ketika Nabi ﷺ mendengar hal itu, beliau memanggilnya dan dengan penuh kasih sayang mengajarkan langsung lafazh adzan kepadanya. Abu Mahdzurah pun menerima ajaran itu dengan hati yang tulus, dan sejak saat itu beliau menjadi muadzin di Makkah. Beliau dikenal dengan suaranya yang merdu dan panjang, dan adzannya menjadi teladan bagi kaum muslimin di zamannya.

Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak marah kepada pemuda yang mengejek, tetapi justru mengajaknya belajar dan memberinya kehormatan menjadi muadzin. Ini adalah pelajaran tentang kelembutan dakwah dan pentingnya membina generasi muda dengan ilmu dan kasih sayang.

Kesimpulan Praktis

  1. Adzan adalah syiar Islam yang agung — lafazhnya diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ, bukan buatan manusia.
  2. Perbedaan lafazh adzan adalah rahmat — semua versi yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ adalah sah, dan kita boleh memilih salah satunya selama sesuai tuntunan.
  3. Bagi yang ingin mengikuti lafazh Abu Mahdzurah — silakan amalkan karena ini adalah sunnah yang shahih, sebagaimana dipilih oleh Imam Asy-Syafi'i.
  4. Bagi yang mengikuti lafazh Bilal — ini juga sah dan lebih masyhur di kalangan ulama Hanafiyah dan Hanabilah.
  5. Yang terpenting adalah menjaga adab dan makna adzan — yaitu mengajak kepada shalat dan kemenangan, serta mengagungkan Allah dan Rasul-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.