Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5756 tentang Menahan diri dari minuman selain air, susu, dan madu

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah atsar (perkataan sahabat) dari 'Abidah bin Qais As-Salmani, seorang ulama besar dari kalangan tabi'in. Beliau mengabarkan bahwa di zamannya sudah mulai muncul berbagai jenis minuman baru yang tidak dikenal di masa Nabi ﷺ. Sikap beliau sangat hati-hati (waro') dengan meninggalkan semua minuman yang tidak jelas statusnya, dan selama 20 tahun hanya minum air, susu, dan madu. Ini adalah pelajaran besar tentang kehati-hatian dalam perkara yang syubhat (samar-samar).

Rujukan Ulama & Dalil

Atsar 'Abidah (sebagaimana diriwayatkan Imam An-Nasa'i dalam Sunan Al-Kubra no. 5756):

Teks Arab atsar (sebagaimana yang Anda cantumkan):

أَخْبَرَنَا سُوَيْدٌ، قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللَّهِ، عَنِ ابْنِ عَوْنٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ عَبِيدَةَ، قَالَ أَحْدَثَ النَّاسُ أَشْرِبَةً مَا أَدْرِي مَا هِيَ وَمَا لِي شَرَابٌ مُنْذُ عِشْرِينَ سَنَةً إِلاَّ الْمَاءُ وَاللَّبَنُ وَالْعَسَلُ

Makna ringkas: 'Abidah berkata, "Orang-orang telah membuat minuman-minuman baru yang aku tidak tahu apa itu. Aku tidak punya minuman selama 20 tahun kecuali air, susu, dan madu."

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

QS. An-Nahl [16]: 69 — tentang minuman yang baik (madu):

ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

"Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir."

Hadits pendukung tentang perkara syubhat:

Hadits Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ:

فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ

"Barangsiapa yang menjauhi perkara-perkara syubhat, maka sungguh ia telah menjaga agama dan kehormatannya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa atsar ini menunjukkan sikap waro' (kehati-hatian ekstrem) para salaf terhadap perkara yang tidak jelas hukumnya.

1. Siapa 'Abidah bin Qais?

Beliau adalah seorang tabi'in terkemuka, murid dari sahabat besar seperti Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhuma. Beliau dikenal sangat zuhud dan wara'. Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam An-Nubala menyebutkan kedudukan beliau yang tinggi di kalangan tabi'in.

2. Makna "أَحْدَثَ النَّاسُ أَشْرِبَةً" (Orang-orang membuat minuman baru)

Maksudnya adalah di zaman 'Abidah, orang-orang mulai membuat minuman dari perasan buah-buahan, kurma, dan bahan lain yang difermentasi atau dicampur. Sebagian mungkin memabukkan, sebagian lagi tidak jelas. Beliau tidak mau bersusah payah meneliti satu per satu, karena prinsip beliau: "Apa yang tidak aku kenal, aku tinggalkan."

3. Sikap beliau: meninggalkan semua yang tidak jelas

Ini sejalan dengan kaidah yang dipegang para ulama: "Hati-hati itu lebih selamat." Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam kitab Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa orang yang bertakwa akan meninggalkan perkara syubhat karena khawatir terjerumus ke yang haram. Beliau menukil perkataan sebagian salaf: "Orang yang berani pada perkara syubhat, dikhawatirkan akan jatuh pada yang haram."

4. Mengapa hanya air, susu, dan madu?

Ketiga minuman ini adalah minuman yang jelas halal dan disebut dalam Al-Qur'an dan hadits:

  • Air: QS. Al-Anbiya' [21]: 30 — "Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air."
  • Susu: QS. An-Nahl [16]: 66 — "Dan sungguh, pada hewan ternak itu terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya berupa susu yang bersih."
  • Madu: QS. An-Nahl [16]: 69 — sebagaimana disebut di atas.

Imam As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ketiga minuman ini adalah minuman yang paling utama dan bermanfaat bagi tubuh, serta tidak ada syubhat di dalamnya.

5. Pelajaran dari sikap 'Abidah

Sikap ini bukan berarti semua minuman baru haram. Yang beliau lakukan adalah kehati-hatian pribadi karena beliau tidak memiliki ilmu yang cukup tentang minuman-minuman tersebut. Adapun hukum asal minuman adalah halal selama tidak memabukkan dan tidak berbahaya. Namun, sikap beliau mengajarkan kita agar tidak mudah tergesa-gesa mengonsumsi sesuatu yang belum jelas statusnya, terutama di zaman sekarang yang banyak minuman kemasan dengan campuran bahan yang tidak jelas.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Muhammad bin Sirin — yang meriwayatkan atsar ini dari 'Abidah — adalah seorang yang sangat wara'. Suatu hari, beliau membeli daging, lalu ditanya, "Daging apa ini?" Beliau menjawab, "Aku tidak tahu." Orang itu heran, "Kok beli tapi tidak tahu?" Beliau berkata, "Aku membelinya dari orang yang aku percaya agamanya, dan aku tidak menanyakan asal-usulnya karena aku tidak ingin memberatkan diriku dengan perkara yang tidak perlu."

Lihatlah, para salaf itu sangat menjaga diri mereka dari perkara yang samar. Mereka lebih memilih yang jelas daripada yang tidak jelas, walau itu hanya soal minuman atau makanan. Ini bukan berarti mereka tidak cerdas, justru ini adalah kecerdasan hakiki: menjaga hati dan agama dari hal-hal yang meragukan.

Kesimpulan Praktis

  1. Hukum asal minuman dan makanan adalah halal, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya (tidak memabukkan, tidak najis, tidak berbahaya).
  2. Sikap wara' para salaf seperti 'Abidah adalah teladan dalam meninggalkan perkara syubhat, terutama jika kita ragu akan status suatu produk.
  3. Perbanyak minuman yang jelas halal dan bermanfaat: air putih, susu, dan madu adalah pilihan terbaik yang disebut dalam Al-Qur'an.
  4. Jika ragu tentang suatu produk, tanyakan kepada ahlinya atau tinggalkan. Ini lebih selamat bagi agama dan kesehatan kita.
  5. Jangan mudah menghukumi orang lain yang berbeda dalam masalah ini, karena ini masalah kehati-hatian pribadi, bukan hukum umum.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.