Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5527 tentang Doa berlindung dari kejahatan yang telah dan belum dilakukan

Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan sebuah doa perlindungan yang sangat mendalam dari Nabi ﷺ. Beliau memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan perbuatan yang sudah dilakukan (sebagai bentuk taubat dan penyesalan) dan dari keburukan perbuatan yang belum dilakukan (sebagai bentuk pencegahan agar tidak terjatuh ke dalamnya). Doa ini mencakup permohonan ampun atas dosa masa lalu dan penjagaan dari dosa di masa depan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Istiadzah, Bab Istiadzah dari Kejahatan Apa yang Belum Dilakukan (nomor 5527). Perawi sahabatnya adalah 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dan jalur periwayatannya melalui Farwah bin Nawfal.

Teks hadits lengkap:

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى، قَالَ حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ حُصَيْنٍ، عَنْ هِلاَلِ بْنِ يِسَافٍ، عَنْ فَرْوَةَ بْنِ نَوْفَلٍ، قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ حَدِّثِينِي بِشَىْءٍ، كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدْعُو بِهِ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ "اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ وَمِنْ شَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ"

Terjemahan: "Diriwayatkan bahwa Farwah bin Nawfal berkata: 'Saya bertanya kepada 'Aisyah: 'Ceritakanlah sesuatu yang biasa diucapkan Rasulullah ﷺ dalam doanya.' Dia berkata: 'Rasulullah ﷺ biasa berkata: Allahumma, inni a'udhu bika min sharri ma 'amiltu wa min sharri ma lam a'mal (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan apa yang telah aku lakukan dan dari kejahatan apa yang belum aku lakukan.)'"

Hadits ini juga memiliki makna yang sejalan dengan ayat Al-Qur'an, di antaranya firman Allah:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

QS. Ali 'Imran [3]: 147

"Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."

Ayat ini menunjukkan permohonan ampun atas dosa yang telah lalu (ma 'amiltu) dan permohonan keteguhan agar tidak terjerumus di masa depan (ma lam a'mal).

Penjelasan Rinci

Hadits ini menjelaskan salah satu doa yang rutin dibaca oleh Nabi ﷺ. Doa ini mengandung dua dimensi perlindungan:

  1. Perlindungan dari kejahatan yang telah dilakukan (شَرِّ مَا عَمِلْتُ)

Ini mencakup permohonan ampun dan penyesalan atas dosa-dosa yang telah terjadi. Seorang hamba mengakui kelemahannya, bahwa ia pernah berbuat salah, dan memohon agar Allah menghapus dampak buruk dari perbuatan tersebut, serta tidak menghukumnya karena dosa itu. Ini adalah bentuk taubat dan istighfar yang mendalam.

  1. Perlindungan dari kejahatan yang belum dilakukan (شَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ)

Ini adalah permohonan agar Allah menjaga hamba dari perbuatan dosa yang belum terjadi. Termasuk di dalamnya:

  • Memohon agar tidak terjatuh ke dalam dosa di masa depan.
  • Memohon agar tidak melakukan perbuatan buruk yang mungkin terlintas dalam hati atau terencana.
  • Memohon agar tidak melakukan dosa yang lebih besar dari yang sudah dilakukan.
  • Memohon agar tidak melakukan amal yang tampak baik tetapi niatnya rusak atau tidak ikhlas.

Para ulama yang tercantum dalam daftar rujukan kami menjelaskan makna ini dengan sangat baik. Imam an-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim ketika menjelaskan hadits serupa menyatakan bahwa doa ini mencakup permohonan perlindungan dari segala bentuk keburukan, baik yang sudah terjadi maupun yang belum, baik yang berupa dosa kecil maupun besar. Ini adalah doa yang sangat komprehensif (jami').

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa "kejahatan yang belum dilakukan" bisa berarti:

  • Kejahatan yang belum terjadi tetapi dikhawatirkan akan terjadi.
  • Kejahatan yang tidak dilakukan karena Allah melindungi, namun tetap dimohon perlindungan agar tidak terjadi.
  • Kejahatan dari amal yang tidak dilakukan, misalnya meninggalkan kewajiban atau tidak melakukan kebaikan yang seharusnya dilakukan.

Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Al-Wabil ash-Shayyib menekankan bahwa doa ini adalah bentuk tawadhu' (kerendahan hati) seorang hamba di hadapan Allah. Hamba mengakui bahwa dirinya lemah dan bisa berbuat salah kapan saja, sehingga ia terus memohon perlindungan. Ini juga menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak boleh merasa aman dari tipu daya setan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A'raf [7]: 99:

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

"Apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa aman dari azab Allah selain orang-orang yang merugi."

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa doa ini mengandung permohonan agar Allah menjaga hamba dari segala keburukan, baik yang berasal dari dalam diri sendiri maupun dari luar. Ini adalah doa yang mencakup keselamatan dunia dan akhirat.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menambahkan bahwa doa ini juga mencakup permohonan agar Allah tidak menjadikan hamba sebagai orang yang melakukan kejahatan yang belum dilakukan, seperti kesyirikan, kemunafikan, atau bid'ah dalam agama. Karena itu, doa ini sangat penting untuk dibaca setiap hari.

Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama yang tercantum dalam daftar mengenai makna doa ini. Mereka sepakat bahwa doa ini adalah doa yang agung dan mencakup segala bentuk perlindungan dari keburukan.

Story Telling

Suatu ketika, seorang tabi'in bernama Farwah bin Nawfal bertanya kepada Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha tentang doa yang biasa dibaca Rasulullah ﷺ. Pertanyaan ini menunjukkan kecintaan para sahabat dan tabi'in untuk meneladani Nabi ﷺ secara detail, termasuk dalam urusan doa.

'Aisyah radhiyallahu 'anha, yang merupakan istri Nabi ﷺ dan orang yang paling mengetahui kebiasaan beliau di rumah, menjawab dengan doa yang singkat namun penuh makna. Beliau menyebutkan bahwa Nabi ﷺ biasa membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ وَمِنْ شَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ

Doa ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ, meskipun telah dijamin masuk surga dan dosanya diampuni, tetap memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan. Ini adalah pelajaran bagi kita semua agar tidak pernah merasa aman dari dosa dan selalu memohon perlindungan Allah.

Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dengan lafaz yang serupa, yang semakin menguatkan kedudukannya.

Kesimpulan Praktis

  1. Amalkan doa ini setiap hari, terutama setelah shalat atau di waktu-waktu mustajab, sebagai bentuk perlindungan dari dosa masa lalu dan masa depan.
  2. Sadari kelemahan diri bahwa kita bisa berbuat salah kapan saja, sehingga kita tidak boleh sombong atau merasa aman dari dosa.
  3. Bertaubatlah atas dosa yang telah lalu dan berusahalah untuk tidak mengulanginya.
  4. Mohonlah perlindungan dari dosa yang belum terjadi, termasuk dari niat buruk, amal yang tidak ikhlas, dan godaan setan.
  5. Teladani Nabi ﷺ dalam berdoa dengan penuh tawadhu' dan pengharapan kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?