Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan sebuah doa perlindungan yang sangat dalam: Nabi ﷺ berlindung kepada Allah dari keburukan amal yang sudah dikerjakan (dosa yang telah terjadi) dan dari keburukan amal yang belum dikerjakan (dosa yang mungkin akan datang, atau amal baik yang rusak karena riya, ujub, dan sejenisnya). Doa ini menunjukkan kerendahan hati Nabi ﷺ dan mengajarkan kita untuk tidak merasa aman dari bahaya dosa, baik yang lampau maupun yang akan datang.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam an-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab al-Isti'adzah, dari jalur Farwah bin Nawfal dari Ummul Mukminin 'Aisyah رضي الله عنها.
Teks hadits:
<p>أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ وَمِنْ شَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ</p>
Terjemahan: "Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah aku kerjakan dan dari keburukan apa yang belum aku kerjakan."
Hadits senada juga terdapat dalam Shahih Muslim dari 'Aisyah رضي الله عنها, dan Imam an-Nawawi menyebutkannya dalam Syarh Shahih Muslim ketika menjelaskan doa-doa Nabi ﷺ.
Ayat yang menjadi landasan makna doa ini antara lain:
<p>رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا</p>
QS. Al-Baqarah [2]: 286
Terjemahan: "Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah."
Dan firman Allah:
<p>وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي</p>
QS. Yusuf [12]: 53
Terjemahan: "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku."
Penjelasan Rinci
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa doa ini mencakup dua sisi perlindungan:
Pertama, "keburukan apa yang telah aku kerjakan" — yaitu dosa dan kesalahan yang sudah terjadi. Nabi ﷺ mengajarkan agar kita memohon perlindungan dari akibat buruk dosa yang telah lalu, baik berupa hukuman di dunia, siksa di akhirat, maupun dampak jelek yang menimpa diri dan orang lain.
Kedua, "keburukan apa yang belum aku kerjakan" — di sini para ulama memberikan beberapa makna:
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa maknanya termasuk berlindung dari berbuat dosa di masa depan, karena manusia tidak tahu apakah esok ia akan terjatuh dalam kemaksiatan.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa sebagian ulama memahaminya sebagai berlindung dari amal yang tampak baik tetapi rusak niatnya (riya, ujub, ingin dipuji), sehingga amal itu justru menjadi keburukan.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam al-Wabil ash-Shayyib menegaskan bahwa seorang hamba harus terus-menerus berlindung dari dua sisi: dosa yang telah lalu dan dosa yang akan datang, karena hati manusia berbolak-balik.
Imam an-Nasa'i menempatkan hadits ini dalam Kitab al-Isti'adzah, menunjukkan bahwa doa ini adalah bagian dari isti'adzah (memohon perlindungan) yang sangat dianjurkan, terutama pada waktu pagi dan sore, atau ketika seseorang merasa lemah di hadapan nafsunya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa seorang mukmin sejati adalah yang takut kepada Allah dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain, dan selalu memohon perlindungan dari keburukan amal, baik yang sudah maupun yang belum terjadi. Ini adalah bentuk tawadhu' dan kesadaran penuh akan kelemahan diri.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menambahkan bahwa doa ini mengajarkan adab seorang hamba untuk tidak merasa aman dari makar Allah, dan tidak merasa bangga dengan amal yang telah dilakukan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ummul Mukminin 'Aisyah رضي الله عنها pernah ditanya oleh Farwah bin Nawfal tentang doa apa yang biasa dibaca Rasulullah ﷺ. 'Aisyah menjawab dengan doa ini. Ini menunjukkan bahwa 'Aisyah memperhatikan detail ibadah Nabi ﷺ hingga doa-doa kecilnya, dan beliau menyampaikannya kepada umat dengan penuh amanah.
Al-Hasan al-Bashri pernah berkata bahwa seorang mukmin adalah orang yang menggabungkan antara rasa takut dan harapan: ia takut kepada dosanya yang telah lalu, dan ia berharap amal baiknya diterima. Inilah ruh dari doa Nabi ﷺ ini.
Fudail bin 'Iyadh berkata: "Barangsiapa takut kepada Allah, maka ia akan menjauhi dosa; dan barangsiapa berharap kepada Allah, maka ia akan memperbanyak amal." Doa ini adalah cerminan dari kedua sikap tersebut.
Kesimpulan Praktis
- Baca doa ini secara rutin, terutama di pagi dan sore hari, atau setelah shalat.
- Sadari bahwa dosa yang telah lalu bisa membawa akibat buruk, maka bertaubatlah dengan sungguh-sungguh.
- Waspadai dosa yang belum terjadi — jangan merasa aman dari godaan nafsu dan syaitan.
- Jaga niat dalam beramal, karena amal yang tampak baik bisa menjadi buruk jika niatnya rusak.
- Tanamkan tawadhu' — jangan merasa suci dan jangan meremehkan dosa kecil.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.