Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5500 tentang Doa berlindung dari kesulitan perjalanan dan hal buruk

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa Nabi ﷺ ketika hendak bepergian berlindung kepada Allah dari lima hal: beratnya perjalanan, kesedihan saat kembali, kemunduran setelah kemajuan, doa orang yang terzalimi, dan pemandangan yang buruk. Doa orang yang teraniaya disebutkan secara khusus karena ia mustajab dan tidak terhalang. Maka seorang muslim dianjurkan berdoa dengan doa ini dan berhati-hati agar tidak menzalimi siapa pun.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Isti'adzah, Bab Isti'adzah dari Doa Orang yang Teraniaya (no. 5500), dari sahabat Abdullah bin Sarjis رضي الله عنه. Hadits semakna juga diriwayatkan Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih Muslim dari Ibnu Umar رضي الله عنهما.

Ayat yang sangat berkaitan dengan doa orang teraniaya:

QS. An-Naml [27]: 62

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

Terjemahan: "Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan serta yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikit kamu mengingat-Nya."

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan Allah menjawab doa orang yang dalam kesulitan dan terdesak, termasuk orang yang terzalimi, karena tidak ada tempat bergantung selain Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini berisi lima perlindungan yang Nabi ﷺ minta ketika safar:

1. وَعْثَاءِ السَّفَرِ — berat dan sulitnya perjalanan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini mencakup kelelahan, kesulitan kendaraan, dan berbagai kesulitan fisik selama safar.

2. وَكَآبَةِ الْمُنْقَلَبِ — kesedihan saat kembali. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa maknanya adalah kesedihan yang menimpa seseorang ketika kembali kepada keluarganya karena mendapati keadaan yang tidak menyenangkan, atau karena perubahan buruk yang terjadi pada keluarganya sepeninggalnya.

3. وَالْحَوْرِ بَعْدَ الْكَوْرِ — kemunduran setelah kemajuan. Ibnu Hajar menjelaskan: berkurangnya nikmat atau keadaan baik setelah sebelumnya banyak, baik dalam urusan agama maupun dunia. Ibnul Qayyim dalam kitabnya mengingatkan bahwa nikmat yang paling berbahaya adalah nikmat yang dicabut tanpa disadari, terutama nikmat iman dan istiqamah.

4. وَدَعْوَةِ الْمَظْلُومِ — doa orang yang teraniaya. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa doa orang terzalimi mustajab, dan seorang muslim wajib berhati-hati agar tidak menjadi penyebab keluarnya doa tersebut, baik dengan kezaliman langsung maupun tidak langsung.

5. وَسُوءِ الْمَنْظَرِ — pemandangan yang buruk. Ibnu Hajar menjelaskan: melihat sesuatu yang menyedihkan atau menjijikkan pada diri, keluarga, atau harta ketika kembali dari safar.

Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa doa ini termasuk doa yang Nabi ﷺ ucapkan ketika memulai safar, dan dianjurkan bagi setiap musafir untuk membacanya. As-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa berlindung kepada Allah dari doa orang terzalimi adalah bentuk kehati-hatian dari kezaliman, karena doa tersebut naik ke langit tanpa hijab.

Story Telling

Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, bahwa Nabi ﷺ mengutus Mu'adz bin Jabal ke Yaman dan berpesan:

"اتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ"

"Takutlah kepada doa orang yang terzalimi, karena tidak ada hijab antara doa itu dengan Allah."

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa cepatnya doa orang terzalimi dikabulkan, sehingga seorang muslim harus sangat berhati-hati agar tidak menzalimi siapa pun, sekecil apa pun.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah doa ini ketika hendak safar, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
  2. Sadari bahwa safar memiliki kesulitan, maka bersiaplah secara lahir dan batin, serta perbanyak doa.
  3. Jauhi kezaliman dalam bentuk apa pun — kepada keluarga, tetangga, bawahan, atau siapa saja — karena doa orang terzalimi mustajab.
  4. Jika pernah menzalimi seseorang, segera bertaubat dan minta maaf atau kembalikan haknya.
  5. Mohon kepada Allah agar dijaga dari kemunduran iman setelah istiqamah, dan dari pemandangan buruk yang menimpa diri dan keluarga.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?