Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5478 tentang Doa berlindung dari kikir, pengecut, pikun, fitnah dunia, azab kubur

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan sebuah doa perlindungan yang diajarkan Nabi ﷺ melalui Sa'd bin Abi Waqqash kepada anaknya, Mus'ab. Doa ini meminta perlindungan dari empat hal: sifat kikir, sifat pengecut, dikembalikan ke usia pikun yang buruk, serta fitnah dunia dan azab kubur. Semua ini adalah penyakit hati dan bahaya akhirat yang wajib kita jauhi dengan memohon pertolongan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Munafiqun [63]: 9

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Isti'adzah, Bab Memohon Perlindungan dari Fitnah Dunia (no. 5478), dari jalur Mus'ab bin Sa'd dari ayahnya Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu. Hadits serupa juga terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan lafaz yang berdekatan, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa doa ini mencakup perlindungan dari keburukan dunia dan akhirat sekaligus.
  • Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar memasukkan doa ini dalam bab doa-doa yang dianjurkan dibaca pagi dan sore.
  • Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Al-Wabil ash-Shayyib menyebutkan bahwa doa ini termasuk doa yang menghimpun berbagai kebaikan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki sanad yang kuat: Mahmud bin Ghailan → Abu Dawud (ath-Thayalisi) → Syu'bah → Abdul Malik bin Umair → Mus'ab bin Sa'd → Sa'd bin Abi Waqqash → Nabi ﷺ.

Pertama: "Aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir (al-bukhl)"

Kikir adalah menahan harta yang seharusnya dikeluarkan, baik itu zakat, infak, maupun hak-hak sosial lainnya. Ibnul Qayyim dalam Al-Jawab al-Kafi menjelaskan bahwa kikir adalah penyakit hati yang dapat menghalangi seseorang dari berbuat baik dan mendekatkan diri kepada Allah. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa kikir termasuk sifat tercela yang diancam dalam Al-Qur'an, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali 'Imran [3]: 180 tentang orang-orang yang kikir.

Kedua: "Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut (al-jubn)"

Pengecut adalah sifat takut yang berlebihan terhadap bahaya duniawi sehingga seseorang meninggalkan kewajiban, seperti jihad, amar ma'ruf nahi munkar, atau membela kebenaran. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa pengecut termasuk sifat yang merusak kehormatan dan agama seseorang. Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa keberanian adalah sifat terpuji yang lahir dari tawakkal kepada Allah, sedangkan pengecut lahir dari lemahnya iman.

Ketiga: "Aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada umur yang paling buruk (ardzalil 'umur)"

Ini merujuk pada usia pikun (pikun/uzur) di mana seseorang kehilangan kemampuan berpikir, ingatan, dan pemahaman. Allah berfirman dalam QS. An-Nahl [16]: 70 dan QS. Al-Hajj [22]: 5 tentang dikembalikannya seseorang kepada usia yang paling lemah. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah keadaan di mana manusia kembali seperti bayi dalam hal kelemahan, tetapi tanpa kemuliaan bayi. Ibnu Hajar menambahkan bahwa ini adalah musibah besar karena dapat menghilangkan pahala ibadah jika tidak disertai kesabaran.

Keempat: "Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan azab kubur"

Fitnah dunia mencakup segala godaan yang menjauhkan dari Allah: harta, jabatan, syahwat, dan kesenangan yang melalaikan. Al-Hasan al-Bashri berkata bahwa fitnah dunia adalah ujian yang paling berbahaya karena datang dalam bentuk yang menyenangkan. Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa fitnah dunia dapat merusak hati sebagaimana racun merusak tubuh. Adapun azab kubur adalah siksa yang dialami di alam barzakh, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits shahih. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa azab kubur adalah haq (benar) dan wajib diimani.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara ulama yang tercantum mengenai makna doa ini. Semuanya sepakat bahwa doa ini mencakup perlindungan dari keburukan dunia dan akhirat. Yang paling kuat adalah pendapat yang menghimpun semua makna tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar dan Ibnul Qayyim.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, selalu mengajarkan doa ini kepada anak-anaknya dan keluarganya. Mus'ab bin Sa'd, anaknya, meriwayatkan bahwa ayahnya mengajarkan kalimat-kalimat ini sebagaimana seorang guru mengajarkan Al-Qur'an kepada muridnya. Sa'd memahami bahwa doa ini adalah warisan berharga dari Nabi ﷺ yang harus diteruskan kepada generasi berikutnya.

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata bahwa seorang mukmin sejati adalah yang selalu memohon perlindungan Allah dari fitnah dunia, karena dunia adalah tempat ujian yang tidak pernah berhenti. Beliau juga mengingatkan bahwa kikir dan pengecut adalah dua sifat yang dapat menghancurkan amal seseorang.

Sufyan ats-Tsauri suatu ketika ditanya tentang obat untuk sifat kikir, beliau menjawab: "Renungkanlah bahwa harta yang engkau tahan akan menjadi milik orang lain setelah engkau mati, sedangkan engkau akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang engkau tahan."

Kesimpulan Praktis

  1. Hafalkan dan amalkan doa ini dalam kehidupan sehari-hari, terutama di pagi dan sore hari, sebagaimana anjuran Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar.
  2. Jauhi sifat kikir dengan membiasakan bersedekah, karena Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa sedekah adalah obat bagi hati yang kikir.
  3. Lawan sifat pengecut dengan tawakkal kepada Allah dan keberanian membela kebenaran, sebagaimana dicontohkan para sahabat.
  4. Persiapkan diri untuk usia tua dengan memperbanyak amal saleh sebelum datangnya masa lemah, karena Ibnu Hajar mengingatkan bahwa masa pikun adalah ujian yang berat.
  5. Waspadai fitnah dunia dengan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, tetapi hanya sebagai sarana menuju akhirat.
  6. Perbanyak doa perlindungan dari azab kubur, karena ini adalah bagian dari iman kepada hari akhir yang wajib diyakini.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?