Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5463 tentang Doa berlindung dari kefakiran dan kezaliman

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kepada kita empat hal yang wajib kita berlindung kepada Allah darinya: kemiskinan, kekurangan (kefakiran yang parah), kehinaan, dan dari menzalimi atau dizalimi. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ini sebagai bentuk tawadhu dan pengakuan bahwa semua kebaikan hanya dari Allah. Ini bukan larangan menjadi miskin, tetapi perintah berlindung dari dampak buruknya yang bisa merusak agama.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Isti'adzah, Bab Memohon Perlindungan dari Kekurangan, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits lengkap dengan harakat:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفَقْرِ، وَمِنَ الْقِلَّةِ، وَمِنَ الذِّلَّةِ، وَأَنْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ»

Terjemahan: "Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: 'Berlindunglah kalian kepada Allah dari kemiskinan, dari kekurangan, dari kehinaan, dan dari aku menzalimi atau dizalimi.'"

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Falaq [113]: 1-2

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ۝ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Terjemahan: "Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya."

QS. An-Nahl [16]: 98

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Terjemahan: "Maka apabila engkau membaca Al-Qur'an, berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk."

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa isti'adzah (memohon perlindungan) adalah ibadah yang agung, dan Nabi ﷺ sendiri mengajarkannya kepada umatnya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa doa berlindung dari kezaliman termasuk doa yang diajarkan Nabi ﷺ secara rutin.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung empat permohonan perlindungan yang sangat penting:

Pertama: Berlindung dari al-faqr (kemiskinan).

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa kemiskinan yang dimaksud di sini adalah kefakiran yang dapat melemahkan seseorang dalam menjalankan ibadah dan membuatnya bergantung kepada manusia. Imam An-Nawawi menegaskan bahwa memohon perlindungan dari kefakiran bukan berarti mencela orang miskin, tetapi berlindung dari dampak buruknya, seperti meminta-minta kepada manusia atau berputus asa dari rahmat Allah.

Kedua: Berlindung dari al-qillah (kekurangan).

Para ulama seperti Al-Awza'i (yang meriwayatkan hadits ini) dan Ibnul Atsir menjelaskan bahwa al-qillah berarti kekurangan dalam segala hal — kekurangan harta, kekurangan keluarga, kekurangan ilmu, atau kekurangan dalam ketaatan. Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa kekurangan yang paling berbahaya adalah kekurangan iman dan ilmu.

Ketiga: Berlindung dari adz-dzillah (kehinaan).

Ibnul Qayyim dalam Al-Fawa'id menjelaskan bahwa kehinaan yang dimaksud adalah kehinaan di hadapan manusia karena melakukan dosa atau karena bergantung kepada selain Allah. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Tafsirnya menyebutkan bahwa kemuliaan sejati hanya datang dari iman dan taqwa, sedangkan kehinaan datang dari maksiat dan kerendahan diri di hadapan makhluk.

Keempat: Berlindung dari menzalimi atau dizalimi.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa kezaliman adalah kegelapan di hari kiamat. Nabi ﷺ berlindung dari dua sisi: menjadi pelaku zalim (yang lebih berbahaya) dan menjadi korban zalim. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menegaskan bahwa seorang Muslim harus takut menjadi pelaku kezaliman lebih dari takut menjadi korban, karena pelaku zalim akan dimintai pertanggungjawaban.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah memandang bahwa doa ini sunnah dibaca dalam shalat dan di luar shalat. Imam asy-Syafi'i dan Imam Malik menyebutkan bahwa doa ini boleh dibaca kapan saja, terutama setelah tasyahud sebelum salam. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bahwa doa ini dianjurkan dibaca dalam shalat dan di luar shalat, berdasarkan keumuman perintah "ta'awwadzu" (berlindunglah).

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu — sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits — selalu mengajarkan doa ini kepada murid-muridnya. Al-Awza'i (salah satu perawi hadits ini) dikenal sebagai ulama yang sangat zuhud dan selalu mengamalkan doa ini. Suatu ketika, seseorang datang kepada Sufyan ats-Tsauri dan mengeluh tentang kemiskinannya. Sufyan berkata: "Tidakkah engkau tahu bahwa Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk berlindung dari kemiskinan? Maka berlindunglah kepada Allah, dan janganlah engkau meminta kepada manusia."

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Aku tidak takut kepada kemiskinan, tetapi aku takut kepada kekurangan iman. Aku tidak takut kepada kehinaan di hadapan manusia, tetapi aku takut kepada kehinaan di hadapan Allah pada hari kiamat."

Kesimpulan Praktis

  1. Amalkan doa ini setiap selesai shalat dan dalam keadaan sulit: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemiskinan, kekurangan, kehinaan, dan dari menzalimi atau dizalimi."
  2. Jangan takut miskin, tetapi takutlah kepada kekurangan iman dan ilmu.
  3. Jaga kehormatan diri dengan tidak meminta-minta kepada manusia dan tidak melakukan dosa yang menyebabkan kehinaan.
  4. Hindari kezaliman dalam segala bentuknya, baik kepada diri sendiri, orang lain, maupun kepada Allah.
  5. Perbanyak isti'adzah (memohon perlindungan) karena ini adalah ibadah yang diajarkan Nabi ﷺ dan para salafus shalih.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?