Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita untuk menjaga nama shalat 'Isya sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah ﷺ, yaitu shalat 'Isya, bukan menyebutnya dengan istilah lain seperti "shalat Atamah" yang merupakan kebiasaan sebagian orang Badui. Ini adalah bentuk penjagaan terhadap syiar-syiar agama dan adab dalam beribadah, agar kita tidak terbawa kebiasaan yang menyelisihi tuntunan Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam An-Nasa'i:
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَغْلِبَنَّكُمُ الْأَعْرَابُ عَلَى اسْمِ صَلَاتِكُمْ هَذِهِ فَإِنَّهُمْ يُعْتِمُونَ عَلَى الْإِبِلِ وَإِنَّهَا الْعِشَاءُ
"Janganlah kalian dikalahkan oleh orang-orang Badui dalam penamaan shalat kalian ini. Sesungguhnya mereka mengakhirkan (shalat) hingga sangat gelap karena (sibuk) dengan unta-unta mereka. Dan sesungguhnya (shalat) itu adalah shalat 'Isya." (HR. An-Nasa'i no. 541, dari sahabat Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 644) dengan lafaz yang semakna.
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
QS. Al-Isra' [17]: 78
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
"Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (dirikanlah pula shalat) Subuh di waktu fajar. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)."
Dalam ayat ini, Allah menyebut waktu shalat malam dengan istilah "ghasaq al-lail" (gelapnya malam), yang menunjukkan bahwa shalat 'Isya adalah shalat yang dilakukan di waktu gelap, dan ini adalah nama yang Allah tetapkan.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Penjagaan Terhadap Nama-Nama Ibadah yang Diajarkan Nabi ﷺ
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim (5/117) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya menyebut shalat 'Isya dengan nama "Atamah" secara bahasa, tetapi yang lebih utama dan lebih afdhal adalah menyebutnya dengan nama "Isya" karena itulah nama yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an dan yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa makruh hukumnya menyebut shalat 'Isya dengan nama "Atamah" berdasarkan hadits ini.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu' Al-Fatawa (22/63) menjelaskan bahwa larangan dalam hadits ini menunjukkan bahwa nama-nama ibadah adalah perkara tauqifiyah (bersifat menunggu petunjuk), tidak boleh diubah-ubah sesuka hati. Ini adalah bagian dari menjaga syiar-syarat agama.
2. Hikmah Larangan: Menghindari Perubahan Syiar
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani rahimahullah dalam Fath Al-Bari (2/10) menjelaskan bahwa sebab larangan ini adalah karena orang-orang Badui terbiasa menunda shalat 'Isya hingga sangat larut malam karena kesibukan mereka dengan unta. Mereka menyebut waktu itu dengan "Atamah" (kegelapan yang sangat pekat). Nabi ﷺ melarang umatnya mengikuti kebiasaan ini, agar tidak terjadi perubahan pada waktu shalat yang telah ditetapkan.
3. Penetapan Waktu Shalat 'Isya
Imam Asy-Syafi'i rahimahullah dalam Al-Umm menjelaskan bahwa waktu shalat 'Isya dimulai setelah hilangnya mega merah (syafaq) hingga pertengahan malam. Ini berdasarkan hadits-hadits shahih tentang waktu shalat. Adapun orang Badui yang disebut dalam hadits menunda shalat hingga sangat larut, ini bukanlah tuntunan, melainkan kebiasaan yang perlu dijauhi.
4. Adab Menjaga Istilah-Istilah Syar'i
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin (3/12) menjelaskan bahwa pelajaran penting dari hadits ini adalah kita harus menjaga istilah-istilah syar'i yang diajarkan Nabi ﷺ, tidak menggantinya dengan istilah lain yang bisa menghilangkan makna atau membuka pintu perubahan. Ini termasuk dalam bab al-wala' wal-bara' (loyalitas dan berlepas diri) dalam masalah syiar.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa di kalangan para sahabat dan tabi'in, mereka sangat menjaga istilah-istilah yang diajarkan Nabi ﷺ. Suatu ketika, ada sebagian orang yang terbiasa menyebut shalat 'Isya dengan "Atamah" karena pengaruh kebiasaan orang Badui di sekitar mereka. Maka Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan hadits ini untuk mengingatkan mereka agar tetap menggunakan nama yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya (no. 563) dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَغْلِبَنَّكُمُ الْأَعْرَابُ عَلَى اسْمِ صَلَاتِكُمْ الْعِشَاءِ
"Janganlah kalian dikalahkan oleh orang-orang Badui dalam penamaan shalat kalian, yaitu (shalat) 'Isya."
Hikmah dari kisah ini: Para sahabat sangat perhatian dalam menjaga setiap lafaz yang keluar dari mulut Rasulullah ﷺ, karena mereka memahami bahwa agama ini dibangun di atas wahyu, bukan akal atau kebiasaan semata.
Kesimpulan Praktis
- Gunakan nama "Isya" untuk shalat yang dilakukan setelah hilangnya mega merah, bukan "Atamah" atau istilah lainnya.
- Jaga istilah-istilah syar'i dalam ibadah, karena nama-nama ibadah adalah bagian dari syiar agama yang tidak boleh diubah.
- Hindari mengikuti kebiasaan yang menyelisihi tuntunan, meskipun kebiasaan itu datang dari orang yang dianggap lebih berpengalaman dalam urusan duniawi.
- Pelajari waktu-waktu shalat sesuai tuntunan Nabi ﷺ, agar ibadah kita sesuai dengan yang dicontohkan.
- Sebarkan ilmu ini dengan lembut, karena tujuan hadits ini adalah menjaga kemurnian ajaran, bukan untuk mencela orang lain.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.