Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5365 tentang Larangan gambar makhluk hidup di rumah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa malaikat Jibril tidak masuk ke rumah Nabi ﷺ karena ada tirai bergambar makhluk bernyawa. Ini menunjukkan bahwa gambar makhluk bernyawa menjadi penghalang masuknya malaikat rahmat ke dalam rumah. Solusi yang diberikan adalah menghilangkan gambar tersebut, baik dengan memotong kepalanya atau menjadikannya alas yang diinjak.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i (no. 5365), dari jalur Mujahid bin Jabr (seorang tabi'in yang termasuk dalam daftar ulama rujukan) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Hadits ini juga memiliki riwayat serupa dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari jalur lain, dengan lafaz yang semakna, yaitu larangan adanya gambar makhluk bernyawa di rumah.

Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan kehadiran malaikat di rumah, Allah ﷻ berfirman:

QS. Al-Hijr [15]: 51-52 — namun ayat yang lebih relevan secara umum tentang malaikat yang tidak masuk rumah yang ada gambar adalah berdasarkan hadits itu sendiri. Karena itu, kita cukupkan dengan hadits sebagai dalil utama.

Hadits lain yang semakna, diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ تَصَاوِيرُ

"Malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar (makhluk bernyawa)."

(HR. Muslim)

Penjelasan Rinci

Hadits ini menyentuh beberapa perkara penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Makna "Malaikat tidak masuk rumah yang ada gambar"

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud malaikat di sini adalah malaikat rahmat dan malaikat yang membawa keberkahan, bukan malaikat pencatat amal (Kiraman Katibin) atau malaikat maut, karena mereka tidak pernah berpisah dari manusia. Jadi, penghalangnya adalah gambar makhluk bernyawa yang menjadi sebab terhalangnya keberkahan dan rahmat di rumah tersebut.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil bahwa para ulama berbeda pendapat tentang hikmah larangan gambar. Sebagian mengatakan karena gambar itu menyerupai ciptaan Allah, dan sebagian lagi karena gambar tersebut bisa menjadi sarana menuju syirik (menyembah gambar). Pendapat yang paling kuat adalah bahwa gambar makhluk bernyawa dilarang karena menyerupai ciptaan Allah, dan ini termasuk dosa besar sebagaimana disebutkan dalam hadits lain bahwa pembuat gambar akan disiksa pada hari kiamat dan dikatakan kepada mereka: "Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan."

Kedua: Solusi yang diberikan Jibril

Jibril menawarkan dua solusi: memotong kepala gambar tersebut, atau menjadikannya alas yang diinjak. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa memotong kepala gambar menjadikannya tidak lagi berbentuk makhluk bernyawa yang sempurna, sehingga hukumnya berubah. Sedangkan menjadikannya alas yang diinjak menunjukkan penghinaan terhadap gambar tersebut, sehingga tidak lagi diagungkan.

Ketiga: Perbedaan pendapat tentang gambar

Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa para ulama sepakat tentang haramnya gambar makhluk bernyawa yang memiliki bayangan (yaitu patung atau gambar tiga dimensi). Adapun gambar dua dimensi (di kain, kertas, dinding), terdapat perbedaan pendapat. Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah berpendapat bahwa gambar dua dimensi juga terlarang secara mutlak. Sedangkan sebagian ulama lain memberikan keringanan jika gambar tersebut dihinakan (seperti dijadikan alas kaki atau bantal). Pendapat yang paling kuat dan lebih berhati-hati adalah pendapat Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahuyah, yaitu menjauhi gambar makhluk bernyawa secara mutlak, kecuali jika gambar tersebut telah dihinakan atau dipotong kepalanya.

Keempat: Kaitan dengan bab "Orang yang Paling Keras Siksanya"

Imam An-Nasa'i meletakkan hadits ini dalam bab tentang orang yang paling keras siksanya, yaitu para pembuat gambar makhluk bernyawa. Ini dikuatkan oleh hadits lain dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ

"Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menyerupakan (ciptaan mereka) dengan ciptaan Allah."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa menyerupakan ciptaan Allah adalah dosa besar karena mengandung unsur kesombongan dan penyerupaan dengan Allah dalam sifat mencipta.

Story Telling

Dikisahkan bahwa suatu ketika Aisyah radhiyallahu 'anha membeli sebuah bantal kecil yang bergambar. Ketika Nabi ﷺ melihatnya, beliau berdiri di pintu dan tidak masuk. Aisyah melihat ketidaksenangan di wajah beliau dan berkata: "Aku bertaubat kepada Allah dari dosa ini. Apa yang telah aku lakukan?" Nabi ﷺ bersabda: "Apa maksud bantal ini?" Aisyah menjawab: "Aku membelinya untuk engkau duduki dan bersandar." Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya para pemilik gambar ini akan disiksa pada hari kiamat dan dikatakan kepada mereka: 'Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan.' Sesungguhnya malaikat tidak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat gambar."

(Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Aisyah radhiyallahu 'anha)

Hikmah: Nabi ﷺ tidak masuk ke rumah karena ada gambar, menunjukkan betapa besar pengaruh gambar makhluk bernyawa terhadap terhalangnya keberkahan dan kehadiran malaikat. Ini juga menunjukkan kelembutan Nabi ﷺ dalam mengajarkan kepada istrinya tanpa kekerasan.

Kesimpulan Praktis

  1. Hindari gambar makhluk bernyawa di rumah — baik berupa lukisan, foto yang dipajang, patung, atau hiasan dinding yang menampilkan makhluk bernyawa secara utuh. Ini menjadi penghalang masuknya malaikat rahmat dan keberkahan.
  2. Jika gambar sudah terlanjur ada, solusinya adalah memotong kepalanya (sehingga tidak lagi berbentuk makhluk hidup yang sempurna) atau menjadikannya alas yang diinjak (seperti keset, bantal lantai, atau alas kaki) sebagai bentuk penghinaan.
  3. Gambar yang dihinakan — seperti foto di KTP, ijazah, atau dokumen resmi yang disimpan di dompet atau laci — para ulama memberikan keringanan karena gambar tersebut tidak diagungkan dan tidak dipajang.
  4. Bertutur lembut dalam mengingatkan — sebagaimana Nabi ﷺ tidak langsung marah, tetapi menunjukkan ketidaksenangan dengan sikap dan menjelaskan dengan hikmah.
  5. Renungkanlah bahwa rumah yang bersih dari gambar makhluk bernyawa akan lebih mudah dimasuki malaikat rahmat, sehingga membawa ketenangan dan keberkahan bagi penghuninya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?