Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa seorang Muslim yang dikaruniai harta oleh Allah dianjurkan menampakkan nikmat tersebut pada penampilannya — berpakaian rapi, bersih, dan pantas — bukan untuk kesombongan, melainkan sebagai bentuk syukur dan menjaga kehormatan diri. Nabi ﷺ menegur sahabat yang datang dengan penampilan lusuh padahal ia memiliki harta, karena penampilan yang baik adalah bagian dari sunnah dan cerminan rasa syukur kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-A'raf [7]: 31
وَخُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Terjemahan: "Dan pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
Hadits terkait:
Hadits dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
"Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi." (HR. Muslim)
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa berhias dengan pakaian yang baik dan bersih adalah sunnah, selama tidak mengandung unsur kesombongan, pemborosan, atau niat riya'.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa menampakkan nikmat Allah pada penampilan adalah bagian dari syukur, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ad-Duha [93]: 11.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menegaskan bahwa Nabi ﷺ mencintai keindahan dalam penampilan dan tidak menyukai penampilan yang lusuh tanpa alasan syar'i.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam an-Nasa'i dalam Sunan-nya, dari jalur Abu Al-Ahwas dari ayahnya. Sang ayah — yang menurut para ulama adalah Malik bin Nadhlah radhiyallahu 'anhu — datang menemui Nabi ﷺ dengan penampilan yang tidak rapi (سَيِّئَ الْهَيْئَةِ), yakni pakaian lusuh, rambut acak-acakan, dan kondisi yang tidak mencerminkan kemampuan.
Nabi ﷺ bertanya: "Apakah kamu memiliki sesuatu?" — maksudnya harta. Sahabat itu menjawab: "Ya, Allah telah memberikan segala jenis harta kepadaku" — artinya unta, kambing, kuda, harta benda, dan lainnya. Maka Nabi ﷺ bersabda: "Jika kamu memiliki harta, maka hendaklah itu terlihat padamu" (فَلْيُرَ عَلَيْكَ).
Makna hadits menurut para ulama:
- Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan anjuran menampakkan nikmat Allah dalam bentuk penampilan yang baik, pakaian yang layak, dan kebersihan diri. Ini bukanlah kesombongan, melainkan syukur.
- Ibnu Hajar al-Asqalani menambahkan bahwa penampilan yang baik menjaga kehormatan seorang Muslim di hadapan manusia dan merupakan bagian dari dakwah secara tidak langsung — menunjukkan bahwa Islam mencintai keindahan.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ sendiri adalah orang yang paling rapi dan bersih penampilannya. Beliau memakai pakaian terbaik pada hari raya dan saat menerima delegasi.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa menampakkan nikmat Allah — termasuk dalam penampilan — adalah bentuk syukur yang diperintahkan, sebagaimana QS. Ad-Duha [93]: 11: "Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya."
Batasan penting:
Para ulama menegaskan bahwa berhias ini harus bebas dari:
- Kesombongan (kibr) — sebagaimana hadits Ibnu Mas'ud di atas.
- Pemborosan (israf) — dilarang dalam QS. Al-A'raf [7]: 31.
- Riya' (pamer untuk pujian manusia) — yang merupakan syirik kecil.
- Menyerupai lawan jenis atau menyerupai orang kafir dalam kekhususan mereka.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama memandang perintah "فَلْيُرَ عَلَيْكَ" sebagai anjuran (sunnah), bukan kewajiban. Namun Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menyebutkan bahwa meninggalkan penampilan yang baik padahal mampu bisa termasuk meninggalkan sunnah dan mengurangi syukur. Pendapat yang paling kuat adalah bahwa ini adalah sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan), karena Nabi ﷺ secara langsung memerintahkannya dalam konteks teguran.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah melihat seorang pria berpakaian lusuh dan tampak tidak peduli pada penampilannya. Al-Hasan berkata kepadanya: "Sesungguhnya Allah telah memberikan nikmat kepadamu, maka tampakkanlah nikmat itu pada dirimu." Pria itu menjawab: "Aku sedang zuhud." Al-Hasan pun berkata: "Zuhud bukanlah seperti ini. Zuhud adalah ketika hatimu tidak terikat pada dunia, sementara penampilanmu tetap baik." (Kisah ini dinukil secara makna dari nasihat salaf tentang zuhud yang benar, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab zuhud karya Abdullah bin al-Mubarak dan Fudail bin 'Iyadh).
Hikmahnya: zuhud yang benar bukan berarti berpakaian lusuh dan mengabaikan penampilan, melainkan hati yang tidak diperbudak dunia, sementara lahirnya tetap menjaga kehormatan dan syukur.
Kesimpulan Praktis
- Tampilkan syukur pada penampilan — jika Allah memberi harta, pakailah pakaian yang layak, bersih, dan rapi sebagai bentuk syukur, bukan kesombongan.
- Jaga kebersihan dan kerapian — ini adalah sunnah Nabi ﷺ yang sering dilupakan.
- Hindari dua ekstrem — jangan berpakaian lusuh padahal mampu (mengabaikan sunnah), dan jangan berlebihan hingga boros atau sombong (melanggar larangan).
- Niatkan untuk syukur dan menjaga kehormatan — bukan untuk pamer atau mencari pujian manusia.
- Ingat batasan syar'i — tidak menyerupai lawan jenis, tidak menyerupai kekhususan orang kafir, dan tidak mengandung gambar makhluk bernyawa yang diharamkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.