Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat menyukai memulai dengan sebelah kanan dalam hal-hal yang baik dan mulia, seperti bersuci, memakai sandal, dan menyisir rambut. Para ulama menjelaskan bahwa kanan itu lebih mulia, sehingga amalan yang mengandung keindahan dan penghormatan dimulai dari kanan. Ini adalah sunnah yang ringan namun penuh berkah, dan sebaiknya kita biasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i (no. 5240), dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dan juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan lafaz yang semakna. Perawi: Masruq bin al-Ajda' (Tabi'in), dari Aisyah.
Teks hadits (sesuai yang Anda sampaikan):
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يُحِبُّ التَّيَامُنَ مَا اسْتَطَاعَ فِي طُهُورِهِ وَتَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ
Terjemahan: "Dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Rasulullah ﷺ suka memulai dari sebelah kanan jika memungkinkan, dalam bersuci, mengenakan alas kaki, dan merapikan rambut."
Dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan kemuliaan kanan, sebagaimana dipahami para ulama:
وَجَعَلْنَا فِي الْقُلُوبِ مِنْهُمْ ... — namun yang lebih tepat dan jelas adalah ayat tentang penghormatan kepada kanan dalam konteks catatan amal:
فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ
QS. Al-Haqqah [69]: 19
Terjemahan: "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: 'Ambillah, bacalah kitabku (ini).'"
Ayat ini menunjukkan bahwa kanan adalah sisi kemuliaan dan keberuntungan. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa menerima catatan amal dari kanan adalah tanda kebahagiaan dan keselamatan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung prinsip penting dalam adab Islam: memulai dari kanan dalam perkara yang baik. Para ulama yang tercantum dalam rujukan kami menjelaskan hal ini dengan rinci:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa sunnah ini berlaku umum dalam hal-hal yang mengandung keindahan, penghormatan, dan kebaikan, seperti bersuci (wudhu, mandi), memakai sandal, menyisir rambut, memakai pakaian, masuk masjid, dan semisalnya. Adapun untuk hal-hal yang mengandung kotoran atau tidak mulia — seperti istinja' (cebok), masuk kamar mandi, melepas sandal — maka dimulai dari kiri. Ini adalah kaidah yang beliau nukil dari para ulama.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menambahkan bahwa "التَّيَامُن" (at-tayamun) di sini maknanya adalah memulai dengan tangan atau anggota tubuh kanan. Beliau menyebutkan bahwa hikmahnya adalah karena kanan itu lebih mulia di sisi Allah, sebagaimana Allah menjadikan kanan sebagai sisi orang-orang yang beruntung (ashhabul yamin). Maka segala yang baik dan indah pantas dimulai dari sisi yang mulia.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ konsisten dalam hal ini: beliau memulai dari kanan dalam bersuci, memakai sandal, menyisir rambut, memotong kuku, dan bahkan dalam hal-hal kecil seperti memberi salam dan berjabat tangan. Beliau juga menyebutkan bahwa ini adalah bagian dari kesempurnaan syariat yang memperhatikan adab hingga detail terkecil.
As-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menafsirkan ayat tentang ashhabul yamin menjelaskan bahwa kemuliaan kanan adalah karena Allah menjadikannya sisi bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Maka memulai dari kanan dalam ibadah dan adab adalah bentuk mengikuti sunnah dan mengharap keberkahan.
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama membahas apakah sunnah ini wajib atau mustahab. Jumhur ulama — termasuk Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar — menyatakan bahwa hukumnya mustahab (sunnah), bukan wajib, karena hadits ini menunjukkan "kebiasaan" Nabi ﷺ (كَانَ يُحِبُّ), bukan perintah tegas. Namun meninggalkannya tanpa udzur berarti meninggalkan keutamaan.
Catatan penting: Hadits ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memperhatikan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Ini mengajarkan kita bahwa Islam bukan hanya tentang ibadah besar, tetapi juga tentang adab dalam hal-hal sederhana seperti menyisir rambut dan memakai sandal.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha — istri Nabi ﷺ yang paling dekat dan paling banyak meriwayatkan hadits tentang kehidupan sehari-hari beliau — memperhatikan dengan teliti kebiasaan Nabi ﷺ di rumah. Beliau melihat bahwa Nabi ﷺ selalu memulai dari kanan ketika berwudhu, ketika memakai sandal, dan ketika menyisir rambut. Aisyah kemudian menyampaikan hal ini kepada para Tabi'in, termasuk Masruq bin al-Ajda', yang kemudian meriwayatkannya kepada generasi berikutnya.
Al-Hasan al-Bashri pernah berkata bahwa seorang mukmin hendaknya memperhatikan adab-adab kecil ini, karena adab adalah cermin dari kesempurnaan iman. Beliau mengatakan: "Sesungguhnya Allah menyukai hal-hal yang baik dan indah, dan Dia menjadikan kanan sebagai sisi kemuliaan." (Makna umum dari perkataan beliau yang dinukil dalam kitab-kitab adab).
Hikmahnya: Aisyah menunjukkan bahwa sunnah Nabi ﷺ tidak hanya dalam ibadah formal, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Maka hendaknya kita meneladani beliau dalam hal-hal kecil, karena di situlah letak keberkahan.
Kesimpulan Praktis
- Biasakan memulai dari kanan dalam hal-hal baik: wudhu (membasuh anggota kanan dulu), memakai sandal (kanan dulu), menyisir rambut (kanan dulu), memakai pakaian (kanan dulu), masuk masjid (kanan dulu), dan memberi salam.
- Mulai dari kiri untuk hal-hal yang mengandung kotoran atau tidak mulia: istinja', masuk kamar mandi, melepas sandal (kiri dulu), dan melepas pakaian (kiri dulu).
- Ajarkan kepada keluarga dan anak-anak adab-adab kecil ini, karena Nabi ﷺ memperhatikannya.
- Jangan menganggap remeh amalan kecil ini, karena ia adalah bagian dari sunnah dan tanda kecintaan kepada Nabi ﷺ.
- Jika lupa atau tidak memungkinkan (misalnya tangan kanan cedera), maka tidak ada dosa, karena hadits ini menunjukkan "jika memungkinkan" (مَا اسْتَطَاعَ).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.