Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan salah satu bentuk fisik dan penampilan Rasulullah ﷺ, yaitu panjang rambut beliau yang mencapai setengah telinga. Ini adalah bagian dari sifat-sifat fisik beliau yang agung, yang diriwayatkan oleh para sahabat untuk menunjukkan kecintaan dan kerinduan kita kepada beliau. Hadits ini juga menunjukkan bahwa memanjangkan rambut hingga batas tertentu adalah sesuatu yang pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ, dan hal ini mubah (boleh) selama tidak menyerupai kebiasaan orang-orang kafir atau musyrik yang dilarang.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 5234), dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Teks Arab Hadits:
أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ، قَالَ أَنْبَأَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ كَانَ شَعْرُ النَّبِيِّ ﷺ إِلَى نِصْفِ أُذُنَيْهِ
Makna Ringkas: Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, "Rambut Rasulullah ﷺ (panjangnya) sampai setengah telinga beliau."
Hadits ini juga memiliki penguat (mutaba'ah) dalam riwayat Imam Muslim, dari Anas bin Malik, bahwa rambut beliau tidak keriting dan tidak pula lurus, melainkan terurai antara kedua telinga dan bahunya. Namun, riwayat yang Anda sebutkan secara spesifik menyebutkan ukuran hingga setengah telinga, yang menunjukkan bahwa panjang rambut beliau tidak terlalu panjang, melainkan sedang.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini adalah bagian dari syama'il (sifat-sifat fisik) Nabi ﷺ yang agung. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling lama melayani Nabi ﷺ (selama 10 tahun di Madinah), sehingga penuturannya tentang sifat fisik beliau sangat akurat dan dapat dipercaya.
Pandangan Ulama tentang Panjang Rambut:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa rambut Nabi ﷺ terurai hingga mencapai bahu atau setengah telinga, dan ini adalah bentuk yang paling utama. Beliau menukil bahwa para ulama berbeda pendapat tentang model rambut yang paling utama, namun yang terpenting adalah tidak berlebihan dalam memanjangkan atau memendekkannya.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits-hadits tentang rambut Nabi ﷺ menunjukkan bahwa panjang rambut beliau bervariasi. Terkadang mencapai bahu, terkadang setengah telinga, dan ini semua menunjukkan bahwa memanjangkan rambut adalah perkara yang mubah selama tidak menyerupai orang-orang kafir.
- Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa masalah rambut adalah perkara yang kembali kepada adat dan kebiasaan. Jika suatu kaum memiliki kebiasaan tertentu dalam model rambut yang tidak mengandung unsur tasyabbuh (menyerupai) orang kafir atau perbuatan maksiat, maka hal itu boleh. Namun jika model rambut tersebut menjadi ciri khas orang-orang kafir atau orang-orang fasik, maka memakainya menjadi terlarang.
- Syeikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya tentang hukum memanjangkan rambut, beliau menjawab bahwa hal itu boleh selama tidak menyerupai wanita atau orang-orang kafir, dan selama dalam keadaan bersih dan rapi. Karena Nabi ﷺ sendiri memiliki rambut yang terurai hingga setengah telinga atau bahunya.
Hikmah di Balik Riwayat Ini:
Riwayat tentang sifat fisik Nabi ﷺ bukan sekadar informasi sejarah, tetapi memiliki beberapa faedah:
- Menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ, karena cinta lahir dari mengenal.
- Menunjukkan bahwa Islam tidak memerintahkan umatnya untuk memiliki penampilan yang seragam dalam hal-hal yang bersifat adat, selama tidak melanggar syariat.
- Mengajarkan bahwa kebersihan dan kerapian adalah bagian dari fitrah yang dicintai Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu hari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu ditanya tentang sifat-sifat Rasulullah ﷺ. Maka beliau pun menceritakan dengan penuh kecintaan dan kerinduan. Di antara yang beliau ceritakan adalah tentang rambut beliau yang indah, tidak terlalu keriting dan tidak terlalu lurus, terurai hingga setengah telinga atau mencapai bahu.
Yang menarik, ketika Anas menceritakan hal ini, beliau tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi ada air mata dan kerinduan yang dalam. Ini menunjukkan bahwa mengenang sifat-sifat Nabi ﷺ adalah ibadah yang dapat menghidupkan cinta dalam hati. Sebagaimana para ulama salaf, mereka sangat antusias mempelajari dan meriwayatkan syama'il Nabi ﷺ, karena setiap detail dari diri beliau adalah mulia dan penuh berkah.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Anas berkata: "Aku belum pernah menyentuh sutra atau kain yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah ﷺ, dan aku belum pernah mencium bau yang lebih harum dari bau tubuh Rasulullah ﷺ." Ini menunjukkan betapa dekatnya Anas dengan Nabi ﷺ, sehingga riwayatnya tentang sifat fisik beliau sangat dapat dipercaya.
Kesimpulan Praktis
- Mengenal Nabi ﷺ adalah bagian dari iman. Semakin kita mengenal beliau, semakin bertambah cinta kita kepada beliau, dan semakin sempurna keimanan kita.
- Model rambut adalah perkara adat yang mubah, selama tidak menyerupai orang kafir, tidak menyerupai lawan jenis, dan tidak dalam keadaan kotor atau tidak terurus.
- Umat Islam hendaknya menjaga penampilan yang bersih, rapi, dan tidak berlebihan, sebagaimana contoh Nabi ﷺ.
- Jangan menjadikan perbedaan model rambut sebagai sebab perpecahan atau saling menghina, karena hal ini bukan bagian dari inti agama.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.