Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan besar shalat Ashar dan dorongan kuat untuk menjaganya tepat waktu. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa umat-umat terdahulu (Yahudi dan Nasrani) telah menyia-nyiakan shalat ini, sedangkan umat Islam yang menjaganya akan mendapat pahala dua kali lipat. Hadits ini juga menegaskan larangan melakukan shalat sunnah setelah shalat Ashar hingga terbitnya bintang (masuk waktu Maghrib), karena waktu tersebut adalah waktu terlarang untuk shalat.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
"Peliharalah semua shalat dan shalat wustha (shalat Ashar). Dan berdirilah untuk Allah dalam keadaan khusyuk."
(QS. Al-Baqarah [2]: 238)
Hadits terkait:
Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 521), juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al-Bazzar dari sahabat Abu Basrah Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa'i.
Kaitan dengan ulama:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa "shalat wustha" adalah shalat Ashar berdasarkan hadits-hadits shahih, di antaranya hadits Ali bin Abi Thalib dan hadits Abu Basrah ini.
- Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menegaskan bahwa perintah menjaga shalat wustha menunjukkan keutamaannya yang besar, dan menyia-nyiakannya adalah kebinasaan.
Penjelasan Rinci
Pertama: Makna "Shalat ini diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian"
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah umat Yahudi dan Nasrani. Mereka diperintahkan menjaga shalat Ashar, namun banyak yang mengabaikannya. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Orang-orang sebelum kalian telah menyia-nyiakan shalat Ashar. Barangsiapa menjaganya, maka pahalanya dua kali lipat. Dan tidak ada shalat setelahnya hingga terbitnya bintang."
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa pahala dua kali lipat ini karena umat ini diperintahkan menjaga shalat yang juga diperintahkan kepada umat terdahulu, namun mereka menyia-nyiakannya. Maka umat Muhammad ﷺ yang menjaganya mendapat keutamaan ganda: pahala menjalankan perintah dan pahala karena berbeda dari kebiasaan umat terdahulu yang lalai.
Kedua: Makna "Tidak ada shalat setelahnya hingga munculnya bintang"
Yang dimaksud adalah larangan shalat sunnah setelah shalat Ashar hingga terbenam matahari dan muncul bintang (masuk waktu Maghrib). Ini termasuk waktu-waktu terlarang untuk shalat.
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa para ulama sepakat (ijma') tentang makruhnya shalat sunnah setelah shalat Ashar hingga terbenam matahari, kecuali shalat yang memiliki sebab seperti shalat tahiyatul masjid jika masuk masjid, atau qadha shalat fardhu yang terlewat. Ini berdasarkan hadits-hadits shahih lainnya seperti hadits Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Tidak ada shalat setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam."
Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Zaad Al-Ma'ad menjelaskan hikmah larangan ini: waktu setelah Ashar adalah waktu di mana amal-amal diangkat kepada Allah, dan waktu tersebut adalah waktu ibadahnya orang-orang yang lalai. Maka syariat menutup pintu agar tidak terjadi shalat yang menyerupai shalatnya orang-orang yang menyembah matahari ketika matahari condong ke barat.
Ketiga: Makna "Asy-Syahid" (bintang)
Dalam riwayat ini, perawi menjelaskan bahwa asy-syahid adalah bintang. Maksudnya adalah bintang yang muncul pertama kali di ufuk timur setelah matahari terbenam, yang menandakan masuknya waktu Maghrib. Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Hingga terbitnya bintang" — yaitu bintang yang menjadi penanda masuknya waktu Maghrib.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Basrah Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu adalah salah seorang sahabat yang ikut dalam berbagai peperangan bersama Rasulullah ﷺ. Suatu hari, beliau shalat Ashar bersama Nabi ﷺ di sebuah tempat bernama Al-Mukhammas (sekitar 9 mil dari Madinah menuju Makkah). Setelah shalat, Nabi ﷺ menyampaikan sabda yang agung ini untuk menanamkan kecintaan terhadap shalat Ashar di hati para sahabat.
Para sahabat sangat memperhatikan shalat Ashar. Al-Hasan Al-Bashri — ulama tabi'in yang terkenal — pernah berkata: "Barangsiapa yang menjaga shalat lima waktu, maka ia telah menjaga agamanya. Dan barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka ia akan menyia-nyiakan yang lainnya." Beliau juga berkata: "Wahai anak Adam, sesungguhnya shalat Ashar adalah shalat yang paling berat bagimu. Barangsiapa yang menjaganya, maka ia termasuk orang-orang yang menjaga shalat."
Kesimpulan Praktis
- Jaga shalat Ashar tepat waktu — ini adalah shalat yang paling ditekankan setelah shalat-shalat fardhu lainnya, bahkan disebut "shalat wustha" dalam Al-Qur'an.
- Jangan menunda shalat Ashar hingga mendekati maghrib tanpa uzur syar'i, karena ini termasuk perbuatan orang-orang yang menyia-nyiakannya.
- Hindari shalat sunnah setelah Ashar hingga masuk waktu Maghrib, kecuali shalat yang memiliki sebab seperti qadha atau tahiyatul masjid menurut pendapat yang lebih kuat.
- Raih pahala dua kali lipat dengan menjaga shalat Ashar, karena ini adalah keistimewaan umat Muhammad ﷺ dibanding umat sebelumnya.
- Jadikan shalat Ashar sebagai tolok ukur keimanan seseorang — siapa yang menjaganya, ia berada di atas kebaikan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.