Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5063 tentang Keutamaan Abdullah bin Mas'ud dalam membaca Al-Qur'an

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, di mana beliau menyatakan bahwa dirinya telah membacakan lebih dari tujuh puluh surah langsung di hadapan Rasulullah ﷺ, sementara Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu saat itu masih kecil (masih bermain dengan anak-anak). Hadits ini menunjukkan keutamaan dan kedudukan ilmiah Ibnu Mas'ud dalam Al-Qur'an, serta bahwa bacaan beliau adalah bacaan yang sah dan diterima. Hadits ini juga menunjukkan bahwa usia muda Zaid bin Tsabit tidak menghalangi beliau untuk kemudian menjadi salah satu penulis wahyu dan ahli qira'at yang mulia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Perhiasan dari Sunnah (Kitab az-Zinah), Bab Duhabat (tentang rambut yang dikepang). Sanadnya: Al-Hasan bin Isma'il bin Sulaiman → 'Abdah bin Sulaiman → Al-A'masy → Abu Ishaq → Hubairah bin Yarim → dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

Makna hadits secara umum: Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu menegaskan bahwa beliau telah membacakan lebih dari tujuh puluh surah di hadapan Rasulullah ﷺ secara langsung, dan beliau menyebutkan bahwa Zaid bin Tsabit saat itu masih kecil — memiliki dua kepang rambut dan bermain dengan anak-anak. Ini menunjukkan bahwa Ibnu Mas'ud lebih dahulu dan lebih banyak berinteraksi langsung dengan Rasulullah ﷺ dalam hal bacaan Al-Qur'an dibandingkan Zaid bin Tsabit pada masa itu.

Kaitan dengan ulama dalam daftar:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Ibnu Mas'ud dalam ilmu Al-Qur'an dan bahwa beliau adalah salah satu sahabat yang paling utama dalam qira'at.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para sahabat yang paling utama dalam qira'at Al-Qur'an di antaranya adalah Ibnu Mas'ud, Ubay bin Ka'b, Zaid bin Tsabit, dan lainnya — dan masing-masing memiliki keutamaan.
  • Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala mencatat bahwa Ibnu Mas'ud adalah salah satu sahabat yang paling awal masuk Islam dan paling dekat dengan Rasulullah ﷺ, serta termasuk ahli qira'at yang diakui.

Hadits pendukung dari Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari 'Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

> خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ: مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ، وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ

"Ambillah Al-Qur'an dari empat orang: dari 'Abdullah bin Mas'ud, Salim maula Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka'b, dan Mu'adz bin Jabal." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan Rinci

Pertama: Konteks hadits.

Hadits ini muncul dalam konteks ketika Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berbicara tentang bacaan Al-Qur'an. Beliau mengatakan: "Menurut bacaan siapa yang ingin Anda saya bacakan?" — ini menunjukkan bahwa beliau menawarkan dirinya untuk mengajarkan atau membacakan Al-Qur'an sesuai dengan bacaan yang beliau terima langsung dari Rasulullah ﷺ. Beliau kemudian menegaskan bahwa beliau telah membacakan lebih dari tujuh puluh surah di hadapan Rasulullah ﷺ secara langsung.

Kedua: Kedudukan Zaid bin Tsabit.

Ibnu Mas'ud menyebutkan bahwa Zaid bin Tsabit saat itu "memiliki dua kepang dan bermain dengan anak-anak" — ini adalah kinayah (ungkapan) yang menunjukkan bahwa Zaid masih kecil pada masa itu. Ini bukanlah celaan terhadap Zaid, melainkan penjelasan bahwa Ibnu Mas'ud lebih dahulu dan lebih banyak berinteraksi dengan Rasulullah ﷺ dalam hal bacaan Al-Qur'an pada masa itu.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa para sahabat yang paling utama dalam qira'at ada empat: Ibnu Mas'ud, Ubay bin Ka'b, Mu'adz bin Jabal, dan Salim maula Abu Hudzaifah. Namun, ini tidak berarti Zaid bin Tsabit tidak memiliki keutamaan. Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu justru adalah salah satu penulis wahyu utama dan termasuk sahabat yang mengumpulkan Al-Qur'an pada masa Abu Bakar dan Utsman radhiyallahu 'anhuma.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Ibnu Mas'ud adalah salah satu sahabat yang paling utama dalam ilmu Al-Qur'an, dan bahwa bacaan beliau adalah bacaan yang sah dan diterima. Beliau juga menjelaskan bahwa pernyataan Ibnu Mas'ud tentang Zaid bin Tsabit bukanlah bentuk merendahkan, melainkan penjelasan tentang realitas usia dan pengalaman pada masa itu.

Ketiga: Pelajaran tentang adab dan ilmu.

Hadits ini mengajarkan kita beberapa hal penting:

  1. Keutamaan ilmu Al-Qur'an — Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling utama dalam qira'at, dan beliau membacakan Al-Qur'an langsung di hadapan Rasulullah ﷺ.
  2. Tidak merendahkan yang lebih muda — Meskipun Zaid bin Tsabit saat itu masih kecil, beliau kemudian menjadi salah satu ulama besar di kalangan sahabat. Ini menunjukkan bahwa usia bukanlah penghalang untuk mencapai kedudukan tinggi dalam ilmu.
  3. Pentingnya sanad dalam Al-Qur'an — Hadits ini menunjukkan bahwa bacaan Al-Qur'an harus diambil dari orang yang terpercaya dan memiliki sanad yang jelas kepada Rasulullah ﷺ.

Keempat: Perbedaan pendapat di antara ulama.

Sebagian ulama memahami bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Ibnu Mas'ud di atas Zaid bin Tsabit dalam hal qira'at. Namun, Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa masing-masing sahabat memiliki keutamaan yang berbeda-beda. Ibnu Mas'ud unggul dalam qira'at dan kedekatan dengan Rasulullah ﷺ, sementara Zaid bin Tsabit unggul dalam penulisan wahyu dan pengumpulan Al-Qur'an.

Kesimpulan yang paling kuat adalah bahwa kedua sahabat ini memiliki kedudukan yang mulia, dan tidak ada pertentangan di antara mereka. Hadits ini hanya menjelaskan realitas bahwa Ibnu Mas'ud lebih dahulu dan lebih banyak membacakan Al-Qur'an di hadapan Rasulullah ﷺ pada masa itu.

Story Telling

Dikisahkan bahwa 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling awal masuk Islam. Beliau adalah orang keenam yang masuk Islam, dan sejak awal beliau sangat dekat dengan Rasulullah ﷺ. Beliau pernah berkata: "Saya adalah orang yang paling mengetahui tentang Kitabullah di antara kalian."

Suatu ketika, Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berdiri di hadapan manusia dan berkata: "Menurut bacaan siapa yang ingin Anda saya bacakan? Sungguh, saya telah membacakan tujuh puluh lebih surah di hadapan Rasulullah ﷺ, sementara Zaid bin Tsabit saat itu masih memiliki dua kepang dan bermain dengan anak-anak."

Ucapan ini bukanlah untuk merendahkan Zaid bin Tsabit, melainkan untuk menegaskan bahwa beliau adalah orang yang paling berhak untuk mengajarkan Al-Qur'an pada masa itu, karena beliau telah menerima langsung dari Rasulullah ﷺ.

Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala menceritakan bahwa Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling zuhud dan paling dekat dengan Rasulullah ﷺ. Beliau pernah berkata: "Saya tidak mengetahui seorang pun yang lebih mengetahui tentang Al-Qur'an daripada saya." Namun, beliau juga dikenal sebagai orang yang tawadhu dan tidak sombong.

Hikmah: Kedekatan dengan Rasulullah ﷺ dan kesungguhan dalam mempelajari Al-Qur'an adalah jalan untuk mencapai kedudukan yang tinggi. Namun, kedudukan tersebut tidak boleh membuat seseorang sombong atau merendahkan orang lain, karena setiap orang memiliki keutamaan dan peran masing-masing.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersungguh-sungguhlah dalam mempelajari Al-Qur'an — Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah contoh sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah ﷺ dalam hal qira'at. Kita harus meneladani kesungguhan beliau.
  2. Jangan merendahkan orang yang lebih muda atau kurang pengalaman — Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu meskipun masih kecil pada masa itu, kemudian menjadi salah satu ulama besar dan penulis wahyu. Setiap orang memiliki potensi dan keutamaan.
  3. Ambillah ilmu dari sumber yang terpercaya — Hadits ini menunjukkan pentingnya sanad dalam Al-Qur'an. Kita harus belajar Al-Qur'an dari guru yang memiliki sanad yang jelas kepada Rasulullah ﷺ.
  4. Hindari sikap sombong dan merasa paling benar — Meskipun Ibnu Mas'ud memiliki keutamaan, beliau tidak merendahkan Zaid bin Tsabit. Kita harus meneladani adab beliau.
  5. Hormati para ulama dan sahabat — Semua sahabat Rasulullah ﷺ memiliki keutamaan masing-masing. Kita harus menghormati mereka semua dan tidak membanding-bandingkan mereka dengan cara yang tidak pantas.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?