Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5052 tentang Anjuran memotong rambut yang panjang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan oleh Wa'il bin Hujr radhiyallahu 'anhu, menceritakan bahwa ketika ia datang kepada Nabi ﷺ dengan rambut yang panjang dan tidak terawat, Nabi ﷺ berkata "dzubab" (kotoran/buruk). Wa'il menyangka beliau mencelanya, lalu ia memotong rambutnya. Ternyata Nabi ﷺ hanya mengomentari kondisi rambut yang tidak rapi, dan setelah dipotong, beliau menyatakan itu lebih baik. Pelajarannya: Islam menganjurkan merawat dan merapikan rambut sebagai bagian dari kebersihan dan keindahan yang dicintai Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini terdapat dalam Sunan An-Nasa'i no. 5052, Kitab az-Zinah (Perhiasan), Bab Mengambil dari Rambut. Perawi: Wa'il bin Hujr radhiyallahu 'anhu, melalui jalur 'Ashim bin Kulaib dari ayahnya (Kulaib bin Syihab).

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan makna serupa. At-Tirmidzi menilainya hasan shahih, dan Al-Albani menilainya shahih dalam Shahih Sunan an-Nasa'i.

Dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar umum perintah berhias dan bersuci:

QS. Al-A'raf [7]: 31

وَيَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

"Wahai anak-anak Adam, pakailah perhiasanmu di setiap (memasuki) masjid, dan makan serta minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan."

Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan menutup aurat dan berpenampilan rapi ketika mendatangi tempat ibadah, termasuk merawat penampilan diri.

QS. Al-Baqarah [2]: 195

وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."

Hadits lain yang menjadi dasar umum merawat rambut, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ شَعْرٌ فَلْيُكْرِمْهُ

"Barangsiapa memiliki rambut, hendaklah ia memuliakannya (merawatnya)."

(Hadits ini disebutkan Al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah dan dinilai hasan)

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara bahasa dan istilah:

Kata ذُبَابٌ (dzubab) secara bahasa berarti "lalat". Namun dalam konteks hadits ini, para ulama menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menggunakannya sebagai kiasan terhadap sesuatu yang buruk, kotor, atau tidak sedap dipandang — yakni rambut Wa'il yang panjang, kusut, dan tidak terawat sehingga tampak seperti tempat hinggapnya lalat atau kotoran.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits-hadits tentang rambut menjelaskan bahwa syariat menganjurkan merapikan rambut, menyisirnya, dan tidak membiarkannya kusut tidak teratur, karena itu termasuk kebersihan yang diperintahkan.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa merawat rambut termasuk sunnah para nabi dan tanda kehormatan diri seorang muslim.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ selalu merawat rambutnya, menyisirnya, dan meminyakinya. Beliau mencintai kerapian dan kebersihan sebagai bagian dari fitrah.

Poin penting dari hadits:

  1. Nabi ﷺ tidak mencela pribadi Wa'il, melainkan hanya mengomentari kondisi rambutnya. Ini menunjukkan adab beliau yang lembut — beliau tidak menyerang pribadi, hanya menunjukkan yang perlu diperbaiki.
  2. Wa'il bin Hujr bergegas memperbaiki diri — ini menunjukkan adab seorang sahabat yang cepat menerima nasihat dan tidak membela diri. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam memuji sikap para sahabat yang selalu bersegera dalam kebaikan dan tidak menunda perbaikan diri.
  3. Nabi ﷺ menegaskan "aku tidak bermaksud kamu" — ini menunjukkan kelembutan beliau agar Wa'il tidak merasa tersinggung atau bersedih. Ini adalah pelajaran adab dalam menasihati: jelaskan maksud dengan jelas agar tidak menimbulkan salah paham.
  4. "Dan ini lebih baik" — Nabi ﷺ memuji hasil perbaikan Wa'il, menunjukkan bahwa beliau mengakui dan mengapresiasi kebaikan.

Perbedaan pendapat ulama tentang batas panjang rambut:

  • Imam Malik dan Imam asy-Syafi'i berpendapat bahwa rambut boleh dipanjangkan selama terawat, dan yang terbaik adalah mengikuti kebiasaan Nabi ﷺ yang rambutnya sampai di antara telinga dan bahu.
  • Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa memanjangkan rambut adalah sunnah jika terawat, dan mencukur habis (gundul) dimakruhkan kecuali ada alasan.
  • Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa yang menjadi patokan adalah kerapian dan kebersihan, bukan semata panjang atau pendeknya.

Kesimpulan ilmiah: Yang paling kuat adalah bahwa syariat memerintahkan merawat rambut — baik panjang maupun pendek — dengan menjaga kebersihannya, menyisirnya, dan tidak membiarkannya kusut atau kotor. Ini adalah pendapat yang dirajihkan oleh Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, dan as-Sa'di dalam kitab-kitab mereka.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Wa'il bin Hujr radhiyallahu 'anhu adalah seorang pemimpin dari Hadramaut, Yaman, yang datang kepada Nabi ﷺ untuk menyatakan keislamannya. Ia datang dengan rambut panjang yang tidak terawat karena perjalanan jauh.

Ketika Nabi ﷺ melihatnya, beliau berkata: "Dzubab" — sebuah isyarat bahwa ada sesuatu yang buruk pada penampilannya. Wa'il yang mulia hatinya langsung memahami bahwa beliau mungkin mencelanya, sehingga ia segera memotong rambutnya tanpa membantah atau bertanya lebih dulu.

Ketika ia kembali kepada Nabi ﷺ dengan rambut yang sudah rapi, beliau bersabda: "Aku tidak bermaksud kamu, dan ini lebih baik."

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa sikap Wa'il ini adalah contoh salafus shalih dalam menerima nasihat: tidak menunda, tidak membela diri, dan tidak mencari pembenaran. Sebaliknya, Nabi ﷺ menunjukkan kelembutan dengan menjelaskan maksudnya agar tidak ada salah paham.

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Sesungguhnya seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya — jika ia melihat kekurangan, ia memperbaikinya, dan jika ia melihat kebaikan, ia menyimpannya." (Makna ini disebutkan dalam kitab-kitab adab salaf)

Kesimpulan Praktis

  1. Rawatlah rambutmu — sisirlah, bersihkanlah, dan jangan biarkan kusut atau kotor, karena itu bagian dari kebersihan yang dicintai Allah.
  2. Jangan memanjangkan rambut hanya untuk gaya tanpa merawatnya, karena Nabi ﷺ mengomentari rambut yang tidak terawat sebagai sesuatu yang buruk.
  3. Terimalah nasihat dengan lapang dada seperti Wa'il bin Hujr — jangan membela diri atau tersinggung, tetapi segera perbaiki diri.
  4. Ketika menasihati, jelaskan maksudmu dengan lembut agar tidak menimbulkan salah paham, sebagaimana Nabi ﷺ menegaskan "aku tidak bermaksud kamu."
  5. Apresiasilah kebaikan orang lain yang telah memperbaiki diri, sebagaimana Nabi ﷺ memuji: "dan ini lebih baik."

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?