Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa iman dan bacaan Al-Qur'an itu dua hal yang bisa berkumpul atau terpisah pada seseorang. Mukmin yang membaca Al-Qur'an paling sempurna manfaatnya, mukmin yang tidak membaca tetap baik tetapi kurang manfaat. Sedangkan munafik, meski membaca Al-Qur'an, tetap tidak bermanfaat karena hatinya rusak. Jadi yang dinilai bukan sekadar bacaan, tetapi iman yang benar yang menghidupkan bacaan itu.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Iman dan Syariatnya, Bab Perumpamaan Orang yang Membaca Al-Qur'an dari Mukmin dan Munafik, dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Qatadah dari Anas bin Malik.
Teks haditsnya:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الْأُتْرُجَّةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلَا رِيحَ لَهَا وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ طَعْمُهَا مُرٌّ وَلَا رِيحَ لَهَا
Terjemah ringkas: "Perumpamaan mukmin yang membaca Al-Qur'an seperti buah utrujjah (sitrun/jeruk besar), rasanya enak dan baunya harum. Mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an seperti kurma, rasanya enak tetapi tidak berbau. Munafik yang membaca Al-Qur'an seperti raihanah (basil/daun wangi), baunya harum tetapi rasanya pahit. Munafik yang tidak membaca Al-Qur'an seperti hanzalah (buah pahit), rasanya pahit dan tidak berbau."
Hadits ini juga memiliki makna yang sejalan dengan hadits dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Musa Al-Asy'ari tentang perumpamaan mukmin yang membaca Al-Qur'an seperti utrujjah, dan munafik seperti hanzalah.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keadaan munafik:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ
QS. Al-Baqarah [2]: 8
Terjemah ringkas: "Dan di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,' padahal mereka bukan orang-orang yang beriman."
Ayat ini menjelaskan bahwa ada orang yang mengaku beriman, tetapi hatinya tidak beriman — inilah munafik. Bacaan Al-Qur'an pada lisan mereka tidak mengubah hakikat hati mereka.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menggunakan perumpamaan (tamtsil) untuk menjelaskan empat keadaan manusia berdasarkan dua hal: iman dan bacaan Al-Qur'an.
Pertama: Mukmin yang membaca Al-Qur'an — seperti utrujjah.
Buah utrujjah (sitrun/jeruk besar) memiliki dua keistimewaan: rasanya enak dan baunya harum. Ini menggambarkan mukmin yang beriman dengan benar dan rajin membaca Al-Qur'an. Hatinya bersih karena iman, lisannya hidup dengan Al-Qur'an. Manfaatnya bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk orang lain — seperti buah yang bisa dinikmati rasa dan baunya.
Kedua: Mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an — seperti kurma.
Kurma rasanya manis, tetapi tidak berbau harum. Ini menggambarkan mukmin yang imannya benar, amal shalihnya ada, tetapi tidak terbiasa membaca Al-Qur'an. Ia tetap baik dan bermanfaat, tetapi kehilangan keutamaan besar berupa cahaya Al-Qur'an pada lisan dan hatinya.
Ketiga: Munafik yang membaca Al-Qur'an — seperti raihanah.
Raihanah (basil/daun wangi) baunya harum, tetapi rasanya pahit. Ini menggambarkan munafik yang pandai membaca Al-Qur'an, mungkin fasih, indah suaranya, tetapi hatinya rusak karena kemunafikan. Bacaan itu tidak memberi manfaat hakiki, bahkan bisa menjadi hujjah atas dirinya.
Keempat: Munafik yang tidak membaca Al-Qur'an — seperti hanzalah.
Hanzalah adalah buah yang pahit dan tidak berbau. Ini menggambarkan munafik yang tidak membaca Al-Qur'an sama sekali — tidak ada kebaikan pada dirinya, baik dari sisi iman maupun dari sisi bacaan.
Pemahaman para ulama:
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur'an, dan bahwa bacaan Al-Qur'an menambah cahaya dan keberkahan pada diri seorang mukmin. Beliau juga menjelaskan bahwa munafik yang membaca Al-Qur'an tidak mendapat manfaat dari bacaannya karena hatinya tidak beriman.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perumpamaan ini menunjukkan bahwa manfaat Al-Qur'an bergantung pada iman yang ada di dalam hati. Bacaan tanpa iman tidak memberi manfaat hakiki, sebagaimana rasa pahit tidak hilang hanya karena baunya harum.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab-kitabnya sering menjelaskan bahwa Al-Qur'an itu memberi manfaat sesuai dengan keadaan hati. Jika hati beriman, Al-Qur'an menjadi obat dan cahaya. Jika hati munafik, Al-Qur'an tidak menembus hatinya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan bahwa iman adalah pokok, sedangkan bacaan Al-Qur'an adalah penyempurna. Mukmin yang membaca Al-Qur'an lebih sempurna daripada yang tidak membaca, dan munafik yang membaca Al-Qur'an lebih berbahaya daripada yang tidak membaca, karena ia menampakkan kebaikan tetapi menyembunyikan keburukan.
Kesimpulan dari penjelasan ini: Yang paling utama adalah iman yang benar disertai bacaan Al-Qur'an. Iman tanpa bacaan tetap baik, tetapi kurang sempurna. Bacaan tanpa iman tidak bermanfaat. Dan orang yang tidak beriman dan tidak membaca Al-Qur'an adalah yang paling jauh dari kebaikan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, sahabat Nabi ﷺ yang meriwayatkan hadits ini, adalah seorang yang dikenal sangat baik bacaannya. Nabi ﷺ pernah memuji suaranya dan mengatakan bahwa beliau diberi salah satu seruling dari seruling-seruling keluarga Dawud. Ini menunjukkan bahwa Abu Musa adalah contoh mukmin yang membaca Al-Qur'an — menggabungkan iman dan bacaan, sehingga menjadi seperti utrujjah: enak rasa dan harum baunya.
Qatadah bin Di'amah as-Sadusi, salah satu perawi hadits ini, adalah tabi'in yang dikenal sebagai ahli tafsir dan sangat teliti dalam meriwayatkan hadits. Beliau meriwayatkan hadits ini dari Anas bin Malik, dan Anas mendengarnya dari Abu Musa Al-Asy'ari. Rantai ini menunjukkan betapa para salaf sangat menjaga penyampaian hadits Nabi ﷺ.
Hikmahnya: para salaf tidak hanya menghafal Al-Qur'an, tetapi juga menghidupkan iman di dalam hati mereka. Mereka memahami bahwa Al-Qur'an bukan sekadar bacaan, tetapi cahaya yang harus masuk ke dalam hati.
Kesimpulan Praktis
- Utamakan iman yang benar — karena iman adalah pokok yang menentukan manfaat amal.
- Rutinkan membaca Al-Qur'an — meski sedikit, yang penting istiqamah, karena bacaan menambah cahaya dan keberkahan.
- Jangan merasa cukup dengan bacaan saja — perbaiki hati, jauhi kemunafikan, dan jaga keikhlasan.
- Jangan meremehkan mukmin yang belum rajin membaca Al-Qur'an — ia tetap baik selama imannya benar, dan kita doakan agar Allah memudahkannya.
- Waspadai kemunafikan — karena munafik yang membaca Al-Qur'an bisa tampak baik di luar, tetapi hatinya rusak.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.