Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan orang munafik seperti domba yang kebingungan di antara dua kawanan: kadang ikut ke sini, kadang ke sana, tidak punya pendirian tetap. Penyebabnya adalah iman yang lemah dan hati yang bimbang, sehingga ia tidak teguh memegang kebenaran. Obatnya adalah memperkuat iman, berpegang pada Al-Qur'an dan sunnah, serta bergaul dengan orang-orang shalih.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Iman dan Syariatnya, Bab Perumpamaan Orang Munafik, dari sahabat Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma.
Teks hadits:
مَثَلُ الْمُنَافِقِ كَمَثَلِ الشَّاةِ الْعَائِرَةِ بَيْنَ الْغَنَمَيْنِ تَعِيرُ فِي هَذِهِ مَرَّةً وَفِي هَذِهِ مَرَّةً لَا تَدْرِي أَيَّهَا تَتْبَعُ
Terjemahan: "Perumpamaan orang munafik adalah seperti seekor domba yang ragu antara dua kawanan, kadang mengikuti satu, dan kadang mengikuti yang lain, tidak tahu yang mana yang harus diikuti."
Hadits senada juga diriwayatkan Imam Muslim dari Abdullah bin 'Umar dengan lafaz yang semakna, dan Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkannya dalam Musnad-nya. Makna ini dikuatkan oleh firman Allah:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ
(QS. Al-Baqarah [2]: 8)
Terjemahan: "Dan di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,' padahal mereka sebenarnya bukan orang-orang yang beriman."
Juga firman Allah:
مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَٰلِكَ لَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ وَلَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ
(QS. An-Nisa' [4]: 143)
Terjemahan: "Mereka dalam keadaan ragu antara itu, tidak termasuk golongan ini dan tidak pula golongan itu."
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan orang munafik yang tidak teguh: tidak bersama orang mukmin secara hakiki, dan tidak pula bersama orang kafir secara terang-terangan.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits. Nabi ﷺ menyerupakan orang munafik dengan syatun 'a'irah, yaitu domba yang terpisah dari kawanannya dan bingung di antara dua kelompok. Ia berlari ke sana kemari tanpa arah yang jelas. Ini adalah gambaran yang sangat tepat tentang keadaan batin orang munafik: lahirnya bersama kaum mukmin, tetapi hatinya tidak teguh.
Bagaimana para ulama memahami hadits ini:
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "al-'a'irah" adalah domba yang menyimpang dan kebingungan di antara dua kawanan, tidak menetap pada satu kawanan. Beliau menyebutkan bahwa ini adalah perumpamaan bagi orang yang bimbang dalam agamanya, tidak tetap pada satu pendirian.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menerangkan bahwa hadits ini menunjukkan tercelanya sifat ragu-ragu (tardaddud) dalam urusan agama, dan bahwa seorang mukmin seharusnya memiliki kejelasan sikap serta tidak mengikuti hawa nafsu yang membolak-balikkan hatinya.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menegaskan bahwa pokok keselamatan adalah istiqamah (teguh di atas kebenaran), sedangkan kebimbangan adalah pintu menuju kemunafikan dan kerusakan hati.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsat al-Lahfan menjelaskan bahwa hati yang tidak berpegang pada wahyu akan selalu goyah, karena ia menjadikan manusia sebagai tolok ukur, bukan dalil. Sebaliknya, hati yang berpegang pada Al-Qur'an dan sunnah akan tenang meski manusia berbeda-beda.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menafsirkan QS. An-Nisa' [4]: 143 menjelaskan bahwa sifat mudzabdzab (bimbang) adalah ciri khas orang munafik: tidak bersama kebenaran dan tidak bersama kebatilan secara jelas.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam syarahnya terhadap hadits-hadits iman menjelaskan bahwa orang munafik di sini mencakup dua jenis: (1) munafik dalam keyakinan (nifaq i'tiqadi) yaitu yang menyembunyikan kekafiran, dan (2) orang yang memiliki sifat-sifat kemunafikan dalam amal, yaitu bimbang dan tidak teguh. Keduanya sama-sama tercela.
Perbedaan pendapat di antara ulama: Sebagian ulama memandang hadits ini khusus tentang munafik besar (nifaq akbar), sebagian memandangnya mencakup pula orang mukmin yang memiliki sifat bimbang. Yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan al-Utsaimin — adalah bahwa lafaz hadits bersifat umum, mencakup semua bentuk kebimbangan dalam agama, dan menjadi peringatan bagi setiap mukmin agar tidak terjatuh pada sifat tersebut.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah ditanya tentang orang munafik. Beliau menjawab dengan gambaran yang mirip dengan hadits ini: "Orang munafik itu seperti keledai yang berdiri di antara dua jalan; tidak tahu jalan mana yang harus ia tempuh." Beliau juga berkata, "Sesungguhnya kemunafikan itu adalah ketika hati seseorang bercabang: satu bagian bersama ini, satu bagian bersama itu." (Makna ini disebutkan dalam riwayat-riwayat yang dinukil dari beliau dalam kitab-kitab salaf tentang sifat munafik.)
Hikmahnya: kebimbangan adalah penyakit hati yang harus diobati dengan ilmu dan kejujuran, bukan dibiarkan berlarut-larut.
Kesimpulan Praktis
- Teguhkan niat dan tujuan hidup hanya untuk Allah, bukan mengikuti siapa yang sedang berkuasa atau populer.
- Perkuat ilmu agama agar tidak mudah goyah oleh keraguan dan bisikan syubhat.
- Bergaul dengan orang-orang shalih yang dapat membantu kita tetap istiqamah.
- Jauhi sifat mendua dalam beragama: jangan mengambil yang halal saat menguntungkan, dan meninggalkannya saat merugikan.
- Perbanyak doa agar hati tetap teguh, sebagaimana doa Nabi ﷺ: "Ya Allah, yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu."
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.