Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5035 tentang Agama yang dicintai Allah adalah yang dilakukan dengan istiqamah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa amal ibadah yang paling dicintai Allah bukanlah yang paling banyak atau paling berat, melainkan yang konsisten (kontinu) dikerjakan meskipun sedikit, sesuai kemampuan. Nabi ﷺ menegur sikap berlebihan dalam beribadah sampai mengabaikan hak tubuh, karena agama ini mudah dan Allah tidak pernah bosan menerima amal hamba-Nya. Maka kuncinya adalah istiqamah sesuai kemampuan, bukan memaksakan diri di luar batas.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Baqarah [2]: 286

فَلَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

"Maka Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya."

QS. Al-Muzzammil [73]: 20

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

"Maka bacalah apa yang mudah dari Al-Qur'an."

Hadits terkait (makna senada):

Dari Aisyah رضي الله عنها, Nabi ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

"Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu, walaupun sedikit." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan ulama dan kitab:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dasar kaidah: amal sedikit yang rutin lebih utama daripada amal banyak yang terputus.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan larangan berlebihan (ghuluw) dalam ibadah yang membuat seseorang berhenti total.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'iful Ma'arif menyebut istiqamah sebagai inti agama.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa syaitan membenci amal yang konsisten karena itu tanda keikhlasan yang kokoh.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam an-Nasa'i dalam Sunan-nya, dari jalur Aisyah رضي الله عنها. Konteksnya: Nabi ﷺ masuk menemui Aisyah dan mendapati seorang wanita yang dikenal sangat rajin shalat hingga tidak tidur. Ketika Aisyah menyebutkan hal itu, Nabi ﷺ justru menegur dengan sabda "Mah" (ungkapan larangan/teguran lembut), lalu membimbing: "Lakukanlah apa yang kalian mampu."

Poin-poin utama menurut para ulama:

  1. Larangan berlebihan (ghuluw) dalam ibadah.

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa teguran Nabi ﷺ bukan karena beliau membenci ibadah, tetapi karena khawatir seseorang memaksakan diri lalu jatuh pada kejenuhan dan akhirnya meninggalkan ibadah sama sekali.

  1. Kaidah "amal yang kontinu lebih dicintai Allah."

Imam an-Nawawi menyatakan bahwa makna "agama yang paling dicintai-Nya adalah yang dijalani pemiliknya" adalah agama yang dawam (terus-menerus), bukan yang hanya semangat di awal lalu berhenti.

  1. Allah tidak pernah bosan.

Sabda "Allah tidak merasa lelah sehingga kalian merasa lelah" menunjukkan bahwa Allah tetap menerima amal hamba-Nya selama hamba itu masih mau beramal. Ibnu Rajab menyebut ini sebagai dorongan agar hamba tidak berhenti beramal, karena yang berhenti sebenarnya adalah hamba, bukan Allah.

  1. Menjaga hak tubuh dan keluarga.

Ibnu Qayyim dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa syariat selalu menyeimbangkan ibadah dengan hak tubuh, keluarga, dan muamalah. Nabi ﷺ sendiri berpuasa dan berbuka, shalat malam dan tidur.

  1. Perbedaan pendapat ulama daftar:

Tidak ada perbedaan pokok di antara ulama yang disebutkan. Semua sepakat bahwa hadits ini menetapkan prinsip istiqamah sesuai kemampuan. Yang paling kuat adalah pendapat yang menggabungkan semangat beramal dengan kemampuan, sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Aisyah رضي الله عنها pernah ditanya tentang amal Nabi ﷺ, lalu beliau menjawab: "Amal beliau itu kontinu (dawam)." Siapa di antara kalian yang mampu seperti Nabi ﷺ? (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sendiri adalah teladan istiqamah, bukan teladan amal yang memberatkan diri. Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Sesungguhnya kaum ini (salaf) tidaklah beramal dengan amal yang banyak, tetapi mereka beramal dengan amal yang terus-menerus." Inilah ruh hadits Aisyah di atas.

Kesimpulan Praktis

  1. Pilih amal yang mampu dikerjakan rutin, meskipun sedikit — misalnya shalat sunnah rawatib, dzikir pagi-petang, atau tilawah beberapa ayat setiap hari.
  2. Jangan memaksakan diri sampai mengabaikan tidur, makan, atau hak keluarga, karena itu bukan tuntunan Nabi ﷺ.
  3. Jaga kontinuitas lebih dari kuantitas; amal kecil yang rutin lebih dicintai Allah.
  4. Jangan berhenti beramal karena merasa amal kita sedikit — Allah tidak pernah bosan menerima hamba yang terus kembali kepada-Nya.
  5. Bertaubat dan kembali jika pernah berlebihan lalu berhenti total; mulailah lagi dengan amal yang ringan namun konsisten.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?