Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5029 tentang Jaminan surga bagi pejuang di jalan Allah

Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan besar orang yang keluar berjihad di jalan Allah dengan niat ikhlas karena iman kepada-Nya. Allah menjamin bagi orang tersebut salah satu dari tiga kemungkinan: mati syahid, meninggal dalam perjalanan, atau kembali ke rumah dengan membawa pahala dan harta rampasan perang. Semua jalan itu baik dan dijamin oleh Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Iman dan Syariatnya, Bab Jihad, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits:

<p>أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ مِينَاءَ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ انْتَدَبَ اللَّهُ لِمَنْ يَخْرُجُ فِي سَبِيلِهِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الْإِيمَانُ بِي وَالْجِهَادُ فِي سَبِيلِي أَنَّهُ ضَامِنٌ حَتَّى أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ بِأَيِّهِمَا كَانَ إِمَّا بِقَتْلٍ وَإِمَّا وَفَاةٍ أَوْ أَنْ يَرُدَّهُ إِلَى مَسْكَنِهِ الَّذِي خَرَجَ مِنْهُ يَنَالُ مَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ</p>

Terjemahan: "Abu Hurairah berkata: 'Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Allah telah menjanjikan kepada orang yang pergi di jalan-Nya dan tidak pergi kecuali dengan iman kepada-Ku dan untuk jihad di jalan-Ku, bahwa dia dijamin masuk surga, tidak peduli bagaimana, baik dia terbunuh, atau dia meninggal, atau dia akan dibawa kembali ke rumahnya dari mana dia pergi dengan memperoleh apa pun yang dia peroleh dari pahala atau harta rampasan perang.'"

Hadits ini juga memiliki makna yang sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur'an, di antaranya:

QS. At-Taubah [9]: 111

<p>إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</p>

Terjemahan: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar."

QS. Ali 'Imran [3]: 169-170

<p>وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ</p>

<p>فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِم مِّنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ</p>

Terjemahan: "Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergembira terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."

Penjelasan Rinci

Hadits ini menjelaskan tentang janji Allah yang pasti bagi orang yang berjihad di jalan-Nya. Imam An-Nasa'i meriwayatkan hadits ini dalam kitab Sunan-nya, dan hadits ini juga terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan redaksi yang serupa, sehingga keshahihannya tidak diragukan.

Makna "انْتَدَبَ اللَّهُ" (Allah menjanjikan/menjamin):

Kata "انتدب" dalam bahasa Arab berarti menjamin atau menetapkan janji yang pasti. Ini menunjukkan bahwa janji ini adalah janji yang pasti dari Allah, bukan sekadar harapan. Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah janji Allah yang tidak akan pernah diingkari.

Syarat yang disebutkan dalam hadits:

Rasulullah ﷺ menyebutkan dua syarat utama:

  1. Iman kepada Allah (لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الْإِيمَانُ بِي) — artinya orang tersebut keluar bukan karena riya, bukan karena mencari pujian, bukan karena motif duniawi, tetapi murni karena iman kepada Allah.
  2. Jihad di jalan Allah (وَالْجِهَادُ فِي سَبِيلِي) — artinya tujuannya adalah berjihad di jalan Allah, bukan untuk memperluas kekuasaan, bukan untuk mencari harta, tetapi untuk menegakkan kalimat Allah.

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa niat yang ikhlas adalah syarat utama diterimanya amal jihad. Beliau berkata: "Jihad yang diterima adalah jihad yang dilakukan karena Allah, bukan karena riya atau sum'ah (mencari pujian)."

Tiga kemungkinan yang dijamin Allah:

  1. Terbunuh (قَتْل) — mati syahid, dan ini adalah derajat tertinggi.
  2. Meninggal dalam perjalanan (وَفَاة) — meskipun tidak terbunuh di medan perang, tetap mendapat pahala syahid.
  3. Kembali ke rumah (يَرُدَّهُ إِلَى مَسْكَنِهِ) — dengan membawa pahala dan harta rampasan perang.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya "Zad al-Ma'ad" menjelaskan bahwa ketiga kemungkinan ini semuanya baik bagi seorang mujahid. Tidak ada kerugian sama sekali. Jika terbunuh, dia masuk surga. Jika meninggal, dia masuk surga. Jika kembali, dia mendapat pahala dan ghanimah.

Kaitan dengan hadits lain:

Hadits ini sejalan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah juga, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, berpuasa Ramadhan, maka Allah berhak memasukkannya ke dalam surga, baik dia berjihad di jalan Allah atau duduk di tanah kelahirannya." Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, bolehkah kami menyampaikan kabar gembira ini kepada manusia?" Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya di surga itu ada seratus derajat yang Allah sediakan bagi para mujahidin di jalan Allah, jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi."

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Para ulama dari daftar yang disebutkan, seperti Imam An-Nawawi, Ibn Hajar al-Asqalani, dan Ibn Rajab al-Hanbali, sepakat bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan jihad dan janji pasti dari Allah. Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan dalam memahami hadits ini. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa janji ini berlaku bagi orang yang ikhlas dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ dalam berjihad.

Story Telling

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa seorang sahabat bernama Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Beliau menghabiskan hidupnya untuk mendampingi Rasulullah ﷺ dan menghafal sabda-sabda beliau.

Suatu ketika, Abu Hurairah mendengar langsung dari Rasulullah ﷺ sabda tentang janji Allah bagi mujahid ini. Beliau menyimpannya dengan baik dan menyampaikannya kepada umat setelah Rasulullah ﷺ wafat. Imam An-Nasa'i, yang hidup pada abad ke-3 Hijriyah, kemudian meriwayatkan hadits ini dalam kitab Sunan-nya, sehingga sampai kepada kita hari ini.

Dalam kisah lain, disebutkan bahwa seorang sahabat datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya: "Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku amal yang menyamai jihad di jalan Allah." Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku tidak menemukannya." Kemudian beliau bersabda: "Apakah engkau mampu, ketika seorang mujahid keluar berjihad, engkau masuk ke masjidmu dan shalat tanpa henti, dan berpuasa tanpa berbuka?" Sahabat itu berkata: "Siapa yang mampu melakukan itu?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan jihad di jalan Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Ikhlas dalam beramal — Setiap amal, termasuk jihad, harus dilandasi iman kepada Allah dan niat yang murni untuk mencari ridha-Nya, bukan untuk pamer atau mencari keuntungan duniawi.
  2. Jihad memiliki banyak bentuk — Jihad tidak hanya di medan perang, tetapi juga jihad melawan hawa nafsu, jihad dengan ilmu, dan jihad dengan harta. Namun, hadits ini secara khusus menyebutkan jihad di medan perang.
  3. Janji Allah pasti — Allah menjamin surga bagi mujahid yang ikhlas, baik dia terbunuh, meninggal, atau kembali dengan selamat. Ini adalah motivasi besar untuk beramal.
  4. Bersyukur atas nikmat iman — Iman adalah syarat utama. Maka jagalah iman dengan ilmu dan amal saleh.
  5. Berdoa untuk para mujahid — Kita dianjurkan mendoakan kebaikan bagi mereka yang berjihad di jalan Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?