Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5028 tentang Rukun Islam dan kewajiban dasar tanpa tambahan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa seorang lelaki dari Najd bertanya langsung kepada Nabi ﷺ tentang kewajiban pokok dalam Islam, lalu beliau menyebutkan lima shalat wajib, puasa Ramadan, dan zakat. Ketika lelaki itu berjanji tidak akan menambah atau mengurangi, Nabi ﷺ bersabda bahwa dia akan beruntung jika benar-benar jujur melaksanakannya. Pelajaran utamanya: keselamatan dan keberuntungan seorang hamba terletak pada menunaikan kewajiban dengan jujur dan sungguh-sungguh, bukan pada banyaknya amal yang dikerjakan tanpa dasar.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam an-Nasa'i dalam Sunan an-Nasa'i, Kitab Iman dan Cabang-Cabangnya, Bab Zakat, dari Talhah bin 'Ubaidullah رضي الله عنه.

Hadits ini juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan lafaz yang semakna, dari Talhah bin 'Ubaidullah رضي الله عنه. Ini menunjukkan derajat hadits yang sangat kuat dan disepakati keabsahannya.

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan kewajiban shalat, puasa, dan zakat:

QS. Al-Baqarah [2]: 43

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk."

QS. Al-Baqarah [2]: 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa."

QS. Al-Bayyinah [98]: 5

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

"Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus."

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Rukun Islam yang bersifat amaliah. Nabi ﷺ menyebutkan tiga amal utama setelah syahadat, yaitu shalat, puasa, dan zakat. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa kewajiban-kewajiban pokok seorang Muslim terbatas pada yang disebutkan, dan selain itu bersifat sunnah (tathawwu'). Ini bukan berarti amal sunnah tidak penting, tetapi menunjukkan bahwa kewajiban yang bersifat fardhu 'ain jumlahnya terbatas dan jelas.

Kedua: Makna "tathawwu'". Ketika Nabi ﷺ berkata "kecuali jika kamu berbuat tathawwu' (sukarela)", ini menunjukkan bahwa amal sunnah adalah pintu tambahan bagi siapa yang ingin mendekat kepada Allah. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa amal sunnah tidak wajib, namun sangat dianjurkan bagi yang mampu.

Ketiga: Ucapan "Aflaha in shadaqa" (dia beruntung jika jujur). Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa keberuntungan (falah) di sini bergantung pada kejujuran dalam melaksanakan apa yang dijanjikan. Artinya, seseorang bisa saja mengucapkan komitmen, tetapi jika tidak jujur dalam pelaksanaannya, maka keberuntungan itu tidak diraih. Ini menunjukkan pentingnya istiqamah dan kejujuran dalam beragama.

Keempat: Adab bertanya kepada Nabi ﷺ. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa para sahabat bertanya dengan cara yang langsung dan jelas, dan Nabi ﷺ menjawab dengan penuh kelembutan. Ini menjadi pelajaran bagi kita dalam bertanya tentang agama: bertanya kepada ahlinya dengan adab yang baik.

Kelima: Zakat sebagai kewajiban harta. Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa zakat adalah hak Allah pada harta seorang Muslim, dan menunaikannya adalah tanda kejujuran iman. Orang yang menahan zakat berarti telah mengurangi kewajibannya.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan kewajiban-kewajiban pokok yang tidak boleh ditinggalkan. Sedangkan Imam asy-Syafi'i dan Imam Malik menekankan bahwa amal sunnah tetap memiliki keutamaan besar meskipun tidak wajib. Pendapat yang paling kuat adalah bahwa kewajiban pokok harus ditunaikan, dan amal sunnah menjadi penyempurna serta penambah pahala.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Talhah bin 'Ubaidullah رضي الله عنه, salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, menyaksikan sendiri peristiwa ini. Lelaki dari Najd itu datang dengan rambut acak-acakan dan suara keras, menunjukkan kesederhanaan dan keterusterangannya. Ia bertanya tentang Islam dengan penuh kesungguhan, dan setelah mendapat jawaban yang jelas, ia langsung berkomitmen tanpa ragu.

Al-Hasan al-Bashri pernah menceritakan bahwa para sahabat Nabi ﷺ adalah orang-orang yang paling jujur dalam memegang janji. Jika mereka berkata "saya tidak akan menambah dan tidak mengurangi", maka mereka benar-benar melaksanakannya. Inilah yang membuat Nabi ﷺ bersabda bahwa lelaki itu akan beruntung.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa kisah ini menjadi contoh bagi setiap Muslim: cukupkan diri pada kewajiban, jangan menambah atau mengurangi, dan jujurlah dalam melaksanakannya. Maka keberuntungan akan diraih.

Kesimpulan Praktis

  1. Tunaikan kewajiban pokok: shalat lima waktu, puasa Ramadan, dan zakat bagi yang mampu.
  2. Jujurlah dalam beragama: jangan hanya mengucapkan komitmen, tetapi buktikan dengan amal nyata.
  3. Amal sunnah adalah penyempurna: meskipun tidak wajib, amal sunnah sangat dianjurkan untuk menambah pahala dan mendekatkan diri kepada Allah.
  4. Bertanyalah kepada ahlinya: seperti lelaki Najd yang bertanya langsung kepada Nabi ﷺ, kita pun harus bertanya kepada ulama yang terpercaya.
  5. Jangan ghuluw (berlebihan) dan jangan mengurangi: sikap terbaik adalah menunaikan kewajiban dengan penuh kejujuran dan istiqamah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?