Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu hadits agung yang menjelaskan tentang kesempurnaan iman. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa iman seseorang tidak akan sempurna sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri. Ini adalah standar akhlak yang sangat tinggi dalam Islam, yang mengajarkan keikhlasan, persaudaraan, dan tidak mementingkan diri sendiri.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 5017), juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Berikut teks hadits dalam bahasa Arab beserta artinya:
قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ
Artinya: "Rasulullah ﷺ bersabda: 'Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah salah seorang di antara kalian beriman hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri dari kebaikan.'" (HR. An-Nasa'i no. 5017, Al-Bukhari no. 13, Muslim no. 45)
Ayat Al-Qur'an yang terkait dengan makna hadits ini:
QS. Al-Hasyr [59]: 9
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: "Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung makna yang sangat dalam tentang hakikat iman. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah sempurnanya iman tidak akan tercapai kecuali dengan sifat ini. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa yang dimaksud dengan "beriman" di sini adalah iman yang sempurna, bukan iman yang menjadi syarat sahnya keislaman seseorang. Karena seseorang bisa saja disebut mukmin secara umum meskipun belum mencapai derajat ini.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitab Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan wajibnya mencintai kebaikan bagi kaum mukminin sebagaimana mencintai kebaikan untuk diri sendiri. Beliau juga menjelaskan bahwa ini mencakup cinta dalam hal kebaikan agama dan dunia, namun yang paling utama adalah kebaikan agama.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini juga mengandung larangan untuk menghasud (iri hati) kepada saudara sesama muslim. Karena orang yang hasad tidak akan suka melihat kebaikan ada pada saudaranya, bahkan ia ingin kebaikan itu hilang darinya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam Bahjat Qulub al-Abrar menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil tentang wajibnya al-muwalah (loyalitas) dan an-nush (nasihat) kepada sesama muslim. Mencintai kebaikan untuk saudara adalah bagian dari nasihat yang diperintahkan dalam agama.
Imam Al-Bukhari rahimahullah menempatkan hadits ini dalam Kitab al-Iman pada bab "Tanda-tanda Iman", menunjukkan bahwa sifat ini adalah tanda keimanan yang nyata dalam diri seseorang.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Kami pernah duduk bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda: 'Akan keluar dari api ini seseorang yang beramal dengan amalan ahli surga...' hingga akhir hadits. Kemudian beliau bersabda: 'Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.'"
Kisah lain yang menunjukkan penerapan hadits ini adalah ketika para sahabat Anshar menerima saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin. Mereka membagi harta dan rumah mereka dengan penuh keikhlasan. Bahkan dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa mereka mengundi untuk membagi kurma mereka, dan memberikan bagian terbaik kepada saudara Muhajirin mereka. Inilah wujud nyata dari mencintai kebaikan untuk saudaranya sebagaimana mencintai untuk dirinya sendiri.
Kesimpulan Praktis
- Mencintai kebaikan untuk saudara sesama muslim adalah tanda kesempurnaan iman.
- Jauhi hasad (iri hati) karena hasad bertentangan dengan kandungan hadits ini.
- Berdoalah untuk kebaikan saudaramu sebagaimana engkau berdoa untuk kebaikan dirimu sendiri.
- Bantulah saudaramu dalam kebaikan baik dalam urusan agama maupun dunia.
- Jangan menghalangi kebaikan yang akan didapatkan saudaramu, baik berupa ilmu, harta, atau kedudukan yang baik.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.