Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5013 tentang Cinta Nabi melebihi cinta kepada semua manusia

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa iman seseorang belum sempurna sampai ia menempatkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ di atas kecintaan kepada anak, orang tua, dan seluruh manusia. Ini bukan berarti kita tidak boleh mencintai keluarga, tetapi cinta kepada Nabi ﷺ harus menjadi prioritas tertinggi. Cinta ini dibuktikan dengan mengikuti sunnah beliau, bukan sekadar ucapan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. At-Taubah [9]: 24

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Terjemahan: "Katakanlah: 'Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.' Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dan terdapat pula dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan lafaz yang semakna. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini merupakan pokok yang agung dalam bab mahabbah (kecintaan).

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seseorang belum mencapai iman yang sempurna hingga Nabi ﷺ lebih dicintainya daripada anak, orang tua, dan seluruh manusia. Qatadah bin Di'amah as-Sadusi — salah satu perawi dalam sanad hadits ini — memahami hadits semacam ini sebagai penegasan bahwa kecintaan kepada Nabi ﷺ adalah bagian tak terpisahkan dari iman itu sendiri.

Bagaimana para ulama memahami hadits ini:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitab Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah kecintaan yang mengalahkan kecenderungan hawa nafsu. Beliau menegaskan bahwa cinta kepada Nabi ﷺ harus diwujudkan dengan ketaatan, mengikuti sunnah, dan mendahulukan perintah beliau di atas keinginan pribadi maupun keinginan orang lain.

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa mahabbah (cinta) merupakan bagian dari iman, dan iman itu bertingkat-tingkat. Beliau juga menjelaskan bahwa kecintaan yang dimaksud bukan sekadar cinta emosional, tetapi cinta yang melahirkan amal, yaitu mengikuti ajaran beliau.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah inti dari kecintaan kepada Allah. Karena Allah mencintai Nabi-Nya, maka siapa yang mencintai Allah pasti mencintai Rasul-Nya. Beliau membagi tanda-tanda cinta kepada Nabi ﷺ menjadi: mengutamakan sabda beliau di atas pendapat manusia, mengikuti sunnah dalam seluruh aspek kehidupan, dan merasa berat meninggalkan apa yang beliau larang.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa iman yang wajib adalah iman yang disertai kecintaan sempurna kepada Nabi ﷺ. Beliau menegaskan bahwa kecintaan ini harus melebihi kecintaan kepada siapa pun, karena beliau adalah sebab sampainya hidayah dan keselamatan kepada kita.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama menjelaskan bahwa hadits ini menggunakan gaya bahasa mubalaghah (penekanan), bukan berarti kita dilarang mencintai keluarga. Imam An-Nawawi menegaskan bahwa mencintai keluarga adalah fitrah dan bahkan diperintahkan, tetapi kecintaan kepada Nabi ﷺ harus berada di atas semuanya ketika terjadi pertentangan antara perintah beliau dan keinginan keluarga. Pendapat ini yang paling kuat dan sesuai dengan ayat QS. At-Taubah [9]: 24 di atas.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata kepada Rasulullah ﷺ: "Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri." Maka Umar pun berkata: "Sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Sekarang, wahai Umar." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, dan disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari).

Kisah ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada Nabi ﷺ harus melampaui kecintaan kepada diri sendiri, dan bahwa iman seseorang bertambah seiring bertambahnya kecintaan kepada beliau.

Kesimpulan Praktis

  1. Prioritaskan sunnah Nabi ﷺ di atas kebiasaan, tradisi, atau pendapat manusia ketika terjadi pertentangan.
  2. Cintai keluarga dengan benar, yaitu dengan mengajak mereka kepada sunnah, bukan menjadikan cinta kepada mereka sebagai alasan meninggalkan perintah Nabi ﷺ.
  3. Pelajari sirah Nabi ﷺ untuk menumbuhkan kecintaan yang benar, sebagaimana dicontohkan para salaf.
  4. Uji diri sendiri: jika ada perintah Nabi ﷺ yang bertentangan dengan keinginan kita atau keinginan orang yang kita cintai, apa yang kita pilih?
  5. Perbanyak shalawat dan amalkan sunnah-sunnah beliau dalam ibadah sehari-hari.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?