Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5010 tentang Syafaat orang beriman untuk saudara mereka di neraka

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tentang besarnya kasih sayang Allah kepada orang-orang beriman yang berdosa, dan tentang syafaat serta doa kaum mukminin agar saudara-saudara mereka yang beriman dikeluarkan dari neraka. Hadits ini juga menegaskan bahwa iman itu bertingkat-tingkat, dan sebesar apa pun dosa seorang mukmin, selama masih ada iman di hatinya, ia tidak kekal di neraka. Ini termasuk bab "penambahan dan pengurangan iman" yang dibahas para ulama.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang disebutkan di akhir hadits:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik kepada-Nya, tetapi Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa menyekutukan Allah, sungguh ia telah berbuat dosa yang besar."

(QS. An-Nisa' [4]: 48)

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Iman dan Syariatnya, Bab Penambahan Iman, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه. Sanadnya: Muhammad bin Rafi' ← Abdur Razzaq ← Ma'mar ← Zaid bin Aslam ← Atha' bin Yasar ← Abu Sa'id Al-Khudri.

Hadits ini juga memiliki makna yang sejalan dengan hadits-hadits syafaat yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, serta dijelaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Penjelasan Rinci

1. Makna umum hadits

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa perdebatan seorang mukmin dengan Rabb-nya pada hari kiamat demi membela saudara-saudaranya yang beriman yang telah masuk neraka, lebih keras daripada perdebatan seseorang di dunia untuk mempertahankan haknya. Ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan iman di antara kaum mukminin, dan betapa Allah ﷻ dengan hikmah-Nya membiarkan mereka berdebat agar tampak keadilan dan rahmat-Nya.

2. Iman itu bertingkat — bab "penambahan iman"

Imam An-Nasa'i memasukkan hadits ini dalam bab Ziyadatul Iman (penambahan iman). Ini menunjukkan bahwa iman bukan satu tingkatan yang sama, tetapi bertingkat-tingkat: ada yang seberat dinar, ada yang setengah dinar, ada yang seberat biji atom (dzarrah). Inilah dalil yang dipegang Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Bukhari, dan Abu Dawud bahwa iman itu bertambah dan berkurang, sebagaimana dijelaskan Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari-nya dan Al-Lalika'i dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah.

3. Syafaat dan rahmat Allah

Hadits ini menegaskan:

  • Orang mukmin yang berdosa bisa masuk neraka karena dosanya.
  • Namun mereka tidak kekal di dalamnya, karena masih ada iman di hati mereka.
  • Allah mengizinkan kaum mukminin dan para malaikat serta Nabi ﷺ memberi syafaat, lalu Allah mengeluarkan mereka dari neraka.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya terhadap ayat-ayat tentang syafaat menjelaskan bahwa ini adalah bentuk rahmat Allah kepada ahli tauhid yang berdosa. Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa hadits-hadits syafaat dan pengeluaran ahli tauhid dari neraka adalah mutawatir maknanya.

4. Perbedaan pendapat ulama daftar

  • Khawarij (di luar daftar) mengkafirkan pelaku dosa besar — ini batil menurut hadits ini.
  • Murji'ah (di luar daftar) mengatakan iman tidak bertambah dan berkurang — juga batil.
  • Ahlus Sunnah (Imam Ahmad, Al-Bukhari, Ibnu Rajab, Al-Lalika'i, Ibnu Taymiyyah, Ibnu Qayyim): iman itu qaul, amal, dan keyakinan; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan; pelaku dosa besar tetap mukmin meski fasik, dan tidak kekal di neraka.

Yang paling kuat adalah pendapat Ahlus Sunnah, karena didukung hadits ini secara tegas dan ayat QS. An-Nisa' [4]: 48.

5. Perkataan Abu Sa'id Al-Khudri

Abu Sa'id رضي الله عنه berkata: "Barangsiapa tidak mempercayai ini, hendaklah ia membaca ayat ini..." — Ini menunjukkan keyakinan beliau yang kuat terhadap hadits ini, dan bahwa ayat tersebut menjadi penguat bahwa dosa selain syirik bisa diampuni.

Story Telling

Diriwayatkan dalam hadits-hadits syafaat yang shahih (diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dan Anas bin Malik رضي الله عنهما) bahwa pada hari kiamat, setelah para nabi dan malaikat memberi syafaat, Allah ﷻ berfirman:

"Para malaikat telah memberi syafaat, para nabi telah memberi syafaat, dan kaum mukminin telah memberi syafaat. Tidak tersisa kecuali syafaat Arhamur Rahimin (Yang Paling Penyayang)."

Lalu Allah mengambil segenggam dari neraka, mengeluarkan kaum yang tidak pernah berbuat kebaikan sedikit pun, yang hangus hingga tinggal wajah mereka — karena wajah adalah tempat sujud. Mereka dimasukkan ke sungai di surga yang disebut Nahrul Hayat (sungai kehidupan), lalu mereka tumbuh seperti biji di tepi air. Inilah gambaran rahmat Allah yang disebutkan dalam hadits Abu Sa'id ini.

Hikmah: Jangan berputus asa dari rahmat Allah, dan jangan pula meremehkan dosa. Iman adalah harta paling berharga — rawatlah ia dengan amal saleh.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman bertambah dan berkurang — rawatlah dengan shalat, dzikir, dan amal saleh.
  2. Jangan mengkafirkan pelaku dosa besar dari kalangan mukmin; mereka fasik, bukan kafir.
  3. Jangan berputus asa dari rahmat Allah, karena selama iman masih ada di hati, ada harapan ampunan.
  4. Jangan meremehkan dosa — neraka itu nyata, dan syafaat bukan alasan bermaksiat.
  5. Perbanyak doa untuk saudara-saudara mukminin, karena ikatan iman itu nyata dan akan tampak di akhirat.
  6. Pelajari tauhid — karena syirik adalah satu-satunya dosa yang tidak diampuni tanpa taubat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?